Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Emas Diprediksi Menguat, Simak Proyeksinya
Eko Nordiansyah • 10 September 2026 11:13
Jakarta: Harga emas dunia atau XAUUSD berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis, 10 September 2026, di tengah kombinasi sentimen pelemahan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Dari sisi teknikal, harga emas juga menunjukkan peluang membentuk pola double bottom yang dapat membuka ruang kenaikan menuju level resistance terdekat.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai, pergerakan emas pada time frame daily masih memiliki peluang untuk bergerak naik selama harga mampu bertahan di atas area support penting.
Berdasarkan analisisnya, area support kuat berada pada kisaran USD4.366 hingga USD4.340. Selama zona tersebut tidak ditembus, struktur harga emas masih memberikan indikasi positif bagi kelanjutan tren kenaikan.
"Pada time frame daily, saat ini harga berpotensi bergerak naik membentuk pola double bottom dan bergerak menuju resistance terdekat di harga USD4.479 hingga USD4.510," ujar Geraldo dalam analisisnya.
Pola double bottom umumnya mencerminkan potensi pembalikan arah setelah harga mengalami tekanan. Dalam kondisi saat ini, terbentuknya pola tersebut dapat menjadi sinyal tekanan jual mulai mereda dan pembeli kembali mendapatkan momentum. Karena itu, area USD4.479-USD4.510 menjadi level yang perlu diperhatikan apabila harga mampu mempertahankan posisinya di atas support USD4.366-USD4.340.
Faktor pendorong harga emas
Dari sisi fundamental, pergerakan emas masih mendapat dukungan dari kondisi dolar AS yang relatif tertekan serta meningkatnya permintaan aset aman akibat ketidakpastian geopolitik. Reuters melaporkan harga emas naik lebih dari satu persen pada perdagangan Rabu setelah dolar AS melemah, sementara eskalasi konflik di Timur Tengah turut meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven.Ketegangan geopolitik juga berdampak pada harga minyak yang kini berada di atas USD100 per barel. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan membuat pasar semakin sensitif terhadap arah kebijakan bank sentral.
Reuters mencatat imbal hasil Treasury AS 10 tahun masih berada pada level tinggi, sementara investor kini menantikan data inflasi Amerika Serikat untuk mendapatkan petunjuk mengenai keputusan Federal Reserve berikutnya.
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Bappebti)
Potensi kenaikan suku bunga The Fed
Data Producer Price Index (PPI) AS yang akan dirilis hari ini menjadi salah satu katalis penting bagi pergerakan emas. Selanjutnya, perhatian pasar akan beralih kepada Consumer Price Index (CPI) pada Jumat. Kedua data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan 15–16 September.Di sisi lain, potensi kenaikan suku bunga menjadi risiko bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga. Reuters mencatat pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 60 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan mendatang. Ekspektasi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan berpotensi membatasi ruang penguatan emas.
Dengan mempertimbangkan faktor teknikal dan fundamental tersebut, Geraldo melihat harga emas masih memiliki peluang untuk bergerak bullish selama area USD4.366-USD4.340 mampu dipertahankan.
Menurut dia, jika momentum pembelian berlanjut, XAUUSD berpotensi menguji resistance USD4.479-USD4.510. Sebaliknya, apabila support tersebut ditembus, skenario kenaikan perlu diwaspadai karena tekanan jual dapat kembali meningkat.
"Pelaku pasar disarankan mencermati respons harga terhadap area support dan resistance tersebut, sekaligus perkembangan data PPI dan CPI AS yang dapat meningkatkan volatilitas XAUUSD dalam jangka pendek," ungkap dia.