Jemaah haji dari berbagai negara di dunia melakukan tawaf di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. ANTARA/HO-MCH 2026
Menjelang Armuzna, Jemaah Haji Diminta Jaga Kesehatan
M. Iqbal Al Machmudi • 24 May 2026 14:25
Jakarta: Menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026, Hidayat Nur Wahid, mengingatkan jemaah haji Indonesia untuk lebih disiplin menjaga kondisi fisik, mental, serta memperkuat koordinasi antarkelompok jemaah di tengah semakin padatnya Kota Makkah. Fase ini merupakan periode paling krusial karena kondisi fisik jemaah mulai menurun akibat cuaca panas ekstrem dan tingginya aktivitas ibadah.
“Menjelang Armuzna memang semakin banyak sekali jemaah yang berkumpul di Makkah. Sementara jemaah pun juga mungkin sebagian daripada fisiknya sudah mulai capek,” kata Hidayat Nur Wahid dalam keterangannya, Minggu, 24 Mei 2026.
Dia menilai langkah petugas haji yang meminta jemaah lebih banyak beristirahat di pemondokan merupakan keputusan tepat demi menjaga stamina menghadapi puncak ibadah haji yang membutuhkan energi besar.
“Saya apresiasi apa yang diputuskan agar jemaah kita pada hari-hari menjelang puncak Armuzna fokus untuk ibadah yang puncak itu, beristirahat di pondokan masing-masing, salat di pondokan masing-masing, tidak kemudian memaksakan diri untuk keluar pemondokan,” kata politikus Fraksi PKS itu.
Anggota Komisi VIII DPR itu juga secara khusus mengingatkan jemaah lanjut usia agar tidak memaksakan diri berjalan jauh menuju Masjidil Haram, apabila kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Kepadatan Makkah dan suhu tinggi, kata dia, meningkatkan risiko kelelahan hingga disorientasi bagi jemaah lansia.
“Tidak kemudian memaksakan diri untuk keluar pemondokan, ke Masjidil Haram yang mungkin jalannya tidak sangat dekat, sementara cuacanya sangat panas,” ujar dia.
Selain menjaga kesehatan fisik, Hidayat meminta jemaah memanfaatkan waktu istirahat di hotel untuk memperkuat kesiapan spiritual dan mental menghadapi Armuzna. Dia mengingatkan agar waktu di pemondokan tidak dihabiskan untuk aktivitas yang kurang bermanfaat.
“Kalau berada di pondokan atau di hotel, agar jangan dipakai hanya untuk ngerumpi, apalagi untuk hanya habis waktu dengan gym atau dengan telepon,” ucap Wakil Ketua MPR itu.
Menurut dia, momentum menjelang Armuzna justru harus dimanfaatkan untuk memperdalam pemahaman ibadah haji, memperbanyak ibadah, dan menjaga stabilitas psikologis agar jemaah lebih siap menjalani rangkaian ibadah puncak.
“Kesempatan ini dimaksimalkan untuk mempersiapkan diri haji secara lebih maksimal. Baik dalam konteks kesehatan fisik termasuk juga kesehatan mental dan kesehatan psikis,” jelas dia.
Baca Juga:
Cek Hotel Jemaah Haji, Pimpinan DPR Dapat Keluhan soal Asap Rokok hingga Kapasitas Kamar |

Ibadah haji. Metro TV/Misbahol Munir
Sebelumnya, jemaah asal Jakarta, Muhammad Firdaus Akhlan, 72, yang dilaporkan hilang dari pemondokan Future Light Hotel Sektor 9 Misfalah sejak 15 Mei 2026, ditemukan meninggal dunia di kawasan Jabal Kuday pada 22 Mei 2026.
Menurut Hidayat, peristiwa tersebut harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh jemaah maupun petugas haji tentang pentingnya komunikasi dan pengawasan, terutama terhadap jemaah lansia.
“Ini sebagai pelajaran, sebagai ibrah, tentang pentingnya betul-betul selalu menjaga kesehatan, pentingnya betul-betul selalu mengomunikasikan dengan keluarga, dengan jamaah, dengan karom, dengan karu,” kata dia.
Dia menekankan koordinasi antara jemaah, ketua rombongan (karom), ketua regu (karu), dan petugas haji harus diperkuat agar potensi jemaah tersesat dapat diminimalkan di tengah kepadatan Makkah menjelang Armuzna.
Di sisi lain, Hidayat menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum dan mengajak keluarga untuk tetap tabah serta memanfaatkan waktu di Tanah Suci dengan memperbanyak doa.
“Kami sampaikan kepada ibu istri beliau agar mumpung masih ada di tanah haram, masih dalam gerakan haji, untuk memaksimalkan waktunya, memperbanyak doa dan bacaan Al-Quran untuk almarhum,” tutur dia.
Situasi menjelang Armuzna tahun ini menuntut kewaspadaan lebih tinggi. Selain kepadatan jutaan jemaah dari berbagai negara, cuaca panas ekstrem dan mobilitas yang tinggi menjadi tantangan utama penyelenggaraan haji.
Oleh karena itu, disiplin menjaga kesehatan, membatasi aktivitas fisik berlebihan, serta menjaga komunikasi antarkelompok jemaah dinilai menjadi kunci agar seluruh rangkaian ibadah puncak dapat dijalani dengan aman dan lancar.