PM Lebanon Peringatkan Bencana Kemanusiaan akibat Serangan Israel

Api dan asap terlihat di lokasi yang diserang Israel di Beirut selatan, Lebanon, 6 Februari 2026. (EPA)

PM Lebanon Peringatkan Bencana Kemanusiaan akibat Serangan Israel

Willy Haryono • 7 March 2026 09:21

Beirut: Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam memperingatkan bahwa negaranya menghadapi ancaman “bencana kemanusiaan” setelah Israel memerintahkan evakuasi massal di Lebanon selatan dan pinggiran selatan Beirut.

Berbicara dalam pertemuan dengan para duta besar Arab dan negara asing di Beirut pada Jumat, Salam mengatakan Lebanon sedang menghadapi momen yang sangat berbahaya setelah kelompok Hizbullah kembali terlibat dalam pertempuran dengan Israel.

“Negara kami telah ditarik ke dalam perang yang menghancurkan yang tidak kami cari dan tidak kami pilih. Ini adalah perang yang dipaksakan kepada kami,” ujar Salam, dikutip dari UPI, Sabtu, 7 Februari 2026.

Ia mendesak komunitas internasional untuk mencegah Lebanon jatuh lebih dalam ke dalam kekerasan dan kekacauan.

Evakuasi Massal dan Korban Sipil

Eskalasi terbaru terjadi setelah Hizbullah meluncurkan rudal dan drone ke Israel utara pada Senin, kurang dari dua hari setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan di Teheran.

Serangan tersebut memicu gelombang serangan udara Israel ke pinggiran selatan Beirut dan sejumlah wilayah lain di Lebanon.

Menurut laporan, sedikitnya 217 orang tewas dan 798 lainnya terluka akibat serangan tersebut.

Israel kemudian memerintahkan warga di Lebanon selatan, sebagian wilayah Lembah Bekaa timur, serta pinggiran selatan Beirut—yang dikenal sebagai basis utama Hizbullah—untuk meninggalkan rumah mereka.

Perintah evakuasi tersebut memicu perpindahan penduduk secara besar-besaran. “Situasinya sangat serius. Bencana kemanusiaan sedang mengancam,” kata Salam.

Juru bicara Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB, Ravina Shamdasani, menyebut ratusan ribu orang terdampak perintah evakuasi yang mencakup sekitar 100 kota dan desa di Lebanon selatan serta hampir seluruh pinggiran selatan Beirut.

Ia juga mempertanyakan efektivitas perintah evakuasi tersebut yang berpotensi menjadi bentuk pemindahan paksa yang dilarang oleh hukum internasional.

Upaya Diplomasi dan Eskalasi Militer

Salam mengatakan prioritas pemerintah Lebanon saat ini adalah menghentikan perang melalui jalur diplomasi guna melindungi warga sipil dan mencegah kerusakan lebih lanjut.

Presiden Prancis Emmanuel Macron sebelumnya menyerukan Hizbullah untuk segera menghentikan serangan terhadap Israel dan mendesak Israel menahan diri dari operasi darat serta kembali pada kesepakatan gencatan senjata 27 November 2024.

Namun Hizbullah menyatakan akan terus melawan, sementara Israel menuntut kelompok tersebut dilucuti dan posisi militernya diambil alih oleh Angkatan Bersenjata Lebanon.

Pemerintah Lebanon juga mengambil langkah tegas dengan menyatakan aktivitas militer Hizbullah tidak sah serta memerintahkan penangkapan dan deportasi anggota Garda Revolusi Iran yang berada di negara tersebut.

Di tengah upaya diplomasi, Israel terus meningkatkan serangan udara ke Lebanon. Sejak perintah evakuasi dikeluarkan pada Kamis, sedikitnya 21 serangan dilaporkan menghantam pinggiran selatan Beirut, menghancurkan sejumlah bangunan dan menyebabkan korban jiwa.

Salah satu serangan di dekat Kedutaan Besar Iran di Beirut menewaskan satu orang, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.

Serangan lain di pusat komersial kota pelabuhan Sidon menewaskan lima orang dan melukai tujuh lainnya. Militer Israel menyatakan serangan itu menargetkan kantor Issam Khashan, yang disebut sebagai kepala jaringan pendanaan Hamas di Lebanon.

Sementara itu, Hizbullah mengumumkan telah meluncurkan rudal dan drone ke beberapa posisi militer Israel di utara negara tersebut. Militer Israel melaporkan delapan tentaranya terluka akibat serangan roket di dekat perbatasan Lebanon.

Baca juga:  Sekjen Hizbullah: Kesabaran Kami Ada Batasnya

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)