Mahasiswa Didorong Berani Jadi Pemutus Rantai Kemiskinan

Founder & CEO Hive Five Sabar L Tobing saat menjadi pembicara dalam Kuliah Umum STIE Kalpataru Business School sekaligus Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) KBS 2026. Istimewa

Mahasiswa Didorong Berani Jadi Pemutus Rantai Kemiskinan

Whisnu Mardiansyah • 21 September 2026 18:43

Bogor: Mahasiswa didorong terus memanfaatkan pendidikan tinggi sebagai kesempatan untuk membangun masa depan sekaligus membawa perubahan bagi kondisi keluarga. Pesan tersebut disampaikan Founder & CEO Hive Five Sabar L Tobing saat menjadi pembicara dalam Kuliah Umum STIE Kalpataru Business School sekaligus Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) KBS 2026.
 
Dalam kesempatan tersebut, Sabar membagikan pengalaman hidupnya yang dimulai dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Ia menceritakan perjuangannya menjalani pendidikan tinggi sembari bekerja sebagai buruh pabrik sebelum memulai perjalanan membangun bisnis dari nol.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan Sabar mendorong mahasiswa untuk tidak menjadikan kondisi keluarga atau keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti berusaha.

“Jadilah orang yang menuliskan sejarah dari keluarga, bukan hanya menyalahkan keadaan. Jadilah pemutus rantai kemiskinan, dan itu dimulai dari diri Anda, bukan dengan mengandalkan orang lain,” kata Sabar di Bogor, Senin, 21 September 2026.

Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk menghargai kesempatan menempuh pendidikan tinggi. Menurut Sabar, kesempatan tersebut tidak dimiliki semua orang dengan kondisi yang sama.

“Privilege yang nyata adalah kesempatan yang ada di depan kita. Kesempatan menjadi mahasiswa juga tidak bisa didapatkan semua orang. Karena itu, kesempatan ini harus benar-benar dimanfaatkan,” ujarnya.
 


Sabar meminta mahasiswa menentukan arah selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Visi, misi, dan tujuan dinilai perlu dibangun sejak awal agar proses perkuliahan memiliki target yang jelas.

“Kuliah itu harus punya target, baik jangka pendek maupun jangka panjang, dan harus disertai evaluasi. Menjadi mahasiswa juga harus punya visi, misi, dan tujuan yang jelas,” jelasnya.

Selain menentukan tujuan, Sabar menjelaskan pentingnya pola pikir bisnis. Menurut dia, pola pikir tersebut tidak terbatas pada keinginan untuk membangun perusahaan atau menjadi pengusaha.

Kemampuan melihat peluang dan menguasai bidang yang ditekuni juga menjadi bagian dari pola pikir bisnis. Ia memberikan gambaran melalui profesi dokter yang memiliki keahlian khusus.

“Pemikiran bisnis bukan hanya soal membangun bisnis, tetapi bagaimana kita mampu melihat peluang dan menguasai bidang masing-masing. Seperti dokter spesialis yang memiliki keahlian tertentu dibandingkan dokter umum,” ungkapnya.

Sabar juga menyoroti kebutuhan mahasiswa untuk membangun keterampilan yang relevan dengan dunia kerja. Pendidikan tetap menjadi salah satu aspek yang diperhatikan, tetapi kemampuan teknis dan adaptasi juga diperlukan dalam menghadapi perubahan industri.

“Background pendidikan dilihat dalam dunia pekerjaan, tetapi skill dan kemampuan beradaptasi adalah modal Anda untuk bertahan di sebuah industri,” paparnya.

Pesan lain yang disampaikan berkaitan dengan lingkungan pergaulan. Ia meminta mahasiswa memperhatikan orang-orang yang berada di lingkungan terdekat karena pergaulan dapat turut memengaruhi kebiasaan dan cara berpikir.

“Kalau ingin tahu masa depanmu, cari tahu siapa lima orang teman terdekatmu. Karena itu, selektif memilih teman. Lihat siapa yang memang mau berjuang bersama untuk menentukan masa depan,” ucapnya.

Sabar juga menekankan pentingnya membangun kedisiplinan melalui kebiasaan sehari-hari. Menurut dia, sikap bertanggung jawab dapat dilatih dari hal-hal sederhana.

“Disiplin itu dimulai dari hal kecil. Bangun pagi, kemudian rapikan tempat tidur sendiri. Dari kebiasaan sederhana itu kita belajar bertanggung jawab terhadap diri sendiri,” tuturnya.

Ia pun meminta mahasiswa tidak selalu mengejar kenyamanan dalam proses mencapai tujuan. Pengorbanan dinilai menjadi bagian dari perjalanan untuk mewujudkan cita-cita.

“Korbankan kenyamanan Anda sementara untuk meraih kesuksesan. Tidak semua proses akan nyaman, tetapi setiap orang harus menentukan apa yang ingin diperjuangkan,” ujarnya.

Dalam perjalanan membangun karier maupun bisnis, Sabar turut menyoroti peran mentor. Menurut dia, keberadaan mentor dapat memberikan arahan ketika seseorang menghadapi berbagai pilihan dan tantangan.

“Dalam dunia bisnis kita perlu mentor untuk mengarahkan kita ke arah yang benar,” katanya.

Sabar mengaku selalu menyimpan optimisme terhadap mahasiswa ketika mendapat kesempatan mengajar. Ia meyakini terdapat mahasiswa yang memiliki potensi untuk meraih keberhasilan, dengan kemauan memanfaatkan kesempatan sebagai salah satu pembeda.

“Di setiap saya mengajar, saya percaya akan ada mahasiswa yang luar biasa dan sukses. Yang membedakan adalah siapa yang mau memanfaatkan kesempatan, terus belajar, dan berjuang,” ujar Sabar.

Dalam kegiatan tersebut, Sabar L Tobing juga memberikan beasiswa penuh 100 persen kepada mahasiswa terpilih. Beasiswa diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap mahasiswa yang dinilai memiliki potensi untuk mengembangkan kemampuan.

Bagi Sabar, pendidikan tidak berhenti pada pencapaian gelar akademik. Masa perkuliahan dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk membangun keterampilan, jaringan, disiplin, dan kemampuan beradaptasi sebagai bekal memasuki dunia kerja maupun bisnis.

(Whisnu M)