5 Poin Utama Pidato Trump di PBB: Iran, Greenland, hingga Perubahan Istilah AI

Presiden AS Donald Trump saat berbicara di Sidang Majelis Umum PBB sesi ke-81 di New York, 22 September 2026. (Anadolu Agency)

5 Poin Utama Pidato Trump di PBB: Iran, Greenland, hingga Perubahan Istilah AI

Willy Haryono • 23 September 2026 12:06

New York: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan beragam hal, mulai dari kebijakan pemerintah hingga isu global, saat berpidato di Sidang Majelis Umum PBB sesi ke-81 di New York pada Selasa, 22 September 2026.

Isu-isu yang disampaikan Trump meliputi perang Iran, kecerdasan buatan (AI), Kuba, Greenland, hingga peran militer AS.

Mengutip dari kantor berita BBC, berikut lima momen utama dalam pidato Trump di Sidang Majelis Umum PBB sesi ke-81 di New York.

1. Trump Dorong Pesan tentang Kekuatan AS

Trump menggunakan pidatonya untuk memaparkan capaian pemerintahannya dan menampilkan dirinya sebagai pembawa perdamaian. Pada saat yang sama, dia menyampaikan sejumlah ancaman.

Trump mengatakan Iran dapat “dilenyapkan," serangan mematikan terhadap kapal-kapal kecil yang dicurigai terlibat penyelundupan narkoba akan terus dilakukan, dan rezim Kuba bahkan dapat digulingkan.

Pesan yang disampaikan, menurut BBC, adalah bahwa AS masih siap menggunakan kekuatan militernya di mana pun Trump menilai tindakan tersebut diperlukan untuk mengamankan kepentingan nasional.

Trump mengatakan dirinya sedang “menegaskan kembali kekuatan Amerika” dan menunjukkan apa yang dia sebut sebagai “kekuatan militer yang tak tertandingi” milik AS.

“Amerika Serikat tidak akan lagi membiarkan ancaman terhadap Amerika mendapatkan pijakan di mana pun di Belahan Barat,” kata Trump.

Trump kembali menyampaikan penegasan kuat mengenai prinsip “America First."

2. Delegasi Kuba Walkout setelah Trump Sebut Kuba Negara Gagal

Trump juga menyerang salah satu negara tetangga terdekat AS, Kuba. Ia menyebut Kuba sebagai “negara yang benar-benar gagal” dan mengatakan pemerintahannya tengah mendorong “perubahan mendasar terhadap situasi di Kuba."

“(Negara) itu akan jatuh,” kata Trump.

Delegasi Kuba kemudian meninggalkan ruangan ketika Trump melanjutkan pidatonya.

Dalam setahun terakhir, Trump semakin sering mengkritik pemerintahan komunis Kuba. Dalam pidatonya, Selasa, dia mengatakan Kuba berada di bawah “tekanan yang sangat besar” dan mengalami kegagalan “yang belum pernah terjadi sebelumnya."

Namun, AS belum memberikan gambaran terperinci mengenai bentuk perubahan yang diinginkan pemerintahannya di Kuba.

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez merespons pernyataan Trump dengan keras dan menuduh presiden AS tersebut menyebarkan “kebohongan."

“Pemerintah AS tidak mampu menerima bahwa Kuba adalah dan memiliki hak untuk menjadi negara yang sepenuhnya berdaulat dan merdeka,” tulis Rodriguez di X.

3. Trump Ancam “Melenyapkan” Iran

Trump menyampaikan pilihan yang tegas kepada Iran dalam Sidang Umum PBB: mencapai kesepakatan dengan Washington dan membangun kembali negara tersebut, atau menghadapi “pelenyapan” Republik Islam secara cepat.

Trump kemudian kembali memperkirakan kesepakatan untuk mengakhiri perang kemungkinan tercapai setelah pemilu sela AS pada November. Pernyataan tersebut menunjukkan strategi diplomasi koersif Trump, yakni menjaga ruang negosiasi tetap terbuka sembari mengancam penggunaan kekuatan besar.

Namun, bahasa yang digunakan Trump dinilai mengaburkan perbedaan antara ancaman untuk menghancurkan sistem politik Iran dan ancaman terhadap Iran sebagai sebuah negara.

Para pakar hukum internasional sebelumnya telah menyampaikan kekhawatiran mengenai apa yang mereka sebut sebagai “retorika yang mengkhawatirkan” dari pejabat AS, termasuk Trump, yang pernah mengatakan AS mungkin “melenyapkan” pembangkit listrik Iran.

Pernyataan Trump mengenai tidak memberikan “kesempatan untuk bertahan hidup” dan “harapan” bagi generasi mendatang juga dinilai berpotensi menimbulkan kekhawatiran serupa.

Namun, pidato tersebut bukan merupakan pernyataan bahwa diplomasi telah gagal.

Menurut BBC, Trump berupaya menentukan syarat bagi kemungkinan negosiasi: AS tetap siap mencapai kesepakatan, tetapi proses tersebut berlangsung di bawah bayang-bayang ancaman eksistensial.

4. Trump Puji Kesepakatan Keamanan Greenland

Trump juga memuji kesepakatan baru dengan Greenland yang menurutnya memungkinkan AS membangun dua pangkalan militer di wilayah Arktik tersebut.

“Kami akan memiliki kemampuan penuh untuk melakukan apa yang diperlukan untuk mempertahankan benua Amerika dan juga Eropa,” kata Trump mengenai kesepakatan tersebut.

Trump mengatakan kesepakatan itu “sangat memperkuat” aliansi pertahanan NATO. AS, Denmark, dan Greenland kemudian menandatangani kesepakatan bersama di PBB setelah pidato Trump.

Greenland merupakan wilayah semiotonom yang berada dalam Kerajaan Denmark, sementara kebijakan luar negerinya terutama ditangani Denmark.

Pejabat pemerintahan Trump telah menyambut kesepakatan tersebut sebagai langkah yang meningkatkan keamanan AS dengan biaya minimal dan tetap mempertahankan hubungan dengan Denmark serta Greenland.

Sementara itu, pemerintah Denmark dan Greenland berharap kesepakatan tersebut mengakhiri perselisihan yang telah berlangsung sejak Trump mengancam mengambil Greenland dengan kekerasan.

Ancaman tersebut sebelumnya mengguncang aliansi NATO dan menguji hubungan AS-Denmark.

Setelah selama berbulan-bulan Trump berupaya membeli atau mencaplok wilayah semiotonom tersebut, sejumlah analis memandang kesepakatan itu sebagai hasil diplomasi.

Baca juga: AS, Denmark, dan Greenland Teken Kesepakatan Keamanan Arktik di Sidang Umum PBB

5. Trump Coba Ganti Istilah AI Menjadi Super Intelligence

Trump juga menggunakan pidatonya untuk memperkenalkan istilah baru bagi Artificial Intelligence (AI), yakni Super Intelligence.

“Penggunaan kata artificial membuatnya terdengar palsu,” kata Trump. “Ini bukan palsu, sebenarnya luar biasa. Namun, kita harus berhati-hati.”

“Selamat datang di dunia baru Super Intelligence—SI,” tambahnya.

Trump sebelumnya telah mengatakan AS harus menjadi yang terdepan dalam perlombaan pengembangan AI. Pekan lalu, dia bahkan mengatakan, “Siapa pun yang memenangkan AI, memenangkan (perlombaan).”

Trump secara tegas menentang regulasi pemerintah maupun penerapan pengamanan baru terhadap AI. Sikap tersebut menempatkannya berseberangan dengan banyak pihak yang hadir di PBB.

"Amerika Serikat menolak sepenuhnya segala upaya untuk membangun skema globalis guna mengendalikan kecerdasan buatan,” tegas Trump. (Razaqa Hariz)

Baca juga: Trump Sebut AI sebagai Super Intelligence, Tolak Regulasi Kecerdasan Buatan

(Willy Haryono)