Limbah Sawit Melimpah, Indonesia Berpeluang Jadi Raja Biogas Dunia

Ilustrasi fasilitas produksi biogas dari limbah sawit. Foto: dok GAPKI.

Limbah Sawit Melimpah, Indonesia Berpeluang Jadi Raja Biogas Dunia

Husen Miftahudin • 18 August 2026 14:59

Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Indonesia memiliki potensi besar menjadi salah satu pemain utama dalam pengembangan biogas berbasis limbah kelapa sawit. Potensi tersebut didukung ketersediaan limbah sawit dalam jumlah besar serta peluang pemanfaatannya sebagai sumber energi terbarukan.

Peneliti BRIN Erma Yulihastin mengatakan limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) dapat diolah menjadi berbagai sumber energi, mulai dari listrik dan panas hingga bahan bakar.

"Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan biogas dari palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit. POME merupakan sumber energi yang bernilai strategis, karena dapat diolah menjadi listrik, panas, maupun bahan bakar," ujar Erma dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 18 Agustus 2026.

Potensi tersebut didukung luas perkebunan kelapa sawit nasional yang mencapai sekitar 16,8 juta hektare dengan produksi tandan buah segar (TBS) sekitar 250 juta ton per tahun.

Dari setiap satu ton TBS, dapat dihasilkan sekitar 0,5 ton POME. Dengan asumsi tersebut, Indonesia berpotensi menghasilkan sekitar 125 juta ton POME setiap tahun yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi biogas.

"POME ini mengandung bahan organik tinggi dan tersedia secara terus-menerus selama pabrik kelapa sawit beroperasi," kata dia. Ketersediaan bahan baku yang besar dan berlangsung secara berkelanjutan menjadi salah satu modal pengembangan biogas berbasis limbah sawit.
 

 

Biogas sawit berpotensi tekan emisi


Pemanfaatan POME menjadi biogas juga memiliki manfaat dari sisi lingkungan. Pengolahan limbah tersebut dapat mengurangi pelepasan gas metana dari kolam limbah terbuka.

Selain itu, pengolahan POME menjadi biogas dapat menurunkan kandungan bahan organik dalam limbah, mengurangi bau, serta menekan risiko pencemaran terhadap sumber air dan tanah.

Erma mengatakan pemanfaatan POME juga dapat mendukung pengembangan energi terbarukan sekaligus mengurangi emisi melalui penggantian bahan bakar fosil. Berdasarkan penelitian yang disampaikan BRIN, fasilitas biogas mampu mengurangi emisi sekitar 1.131 ton CO? ekuivalen per bulan.

Dari sisi ekonomi dan sosial, pengembangan biogas berbasis POME dapat menciptakan lapangan kerja dalam pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan fasilitas biogas.

Pemanfaatan biogas juga berpotensi menekan biaya energi yang dikeluarkan pabrik kelapa sawit. Setelah melalui proses pemurnian, biogas dapat diolah menjadi bio-compressed natural gas (bio-CNG) untuk bahan bakar kendaraan maupun kebutuhan industri lokal.

"Jadi, manfaat ekonominya bisa dirasakan perusahaan, tenaga kerja lokal, dan masyarakat sekitar selama pengelolaan melibatkan daerah secara langsung," kata Erma.


(Kelapa sawit. Foto: Dok Kementan)
 

Pemerintah dorong inovasi biogas sawit


Pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong inovasi dan pengembangan bioenergi berbasis sawit. Pengembangan tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi fosil, memperbaiki neraca perdagangan minyak dan gas, serta mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).

Salah satu dukungan diberikan melalui program Grant Riset Sawit (GRS). Pendanaan tersebut mencakup berbagai tahapan pengembangan teknologi dan produk biogas POME, mulai dari desain, instalasi, produksi, hingga pengujian pada kendaraan.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung mengatakan potensi energi dari pengembangan biogas berbasis limbah kelapa sawit sangat besar. Menurut dia, setiap satu ton POME dapat menghasilkan sekitar 28,8 meter kubik biogas melalui penerapan teknologi methane capture.

Dengan potensi POME sekitar 125 juta ton per tahun, Indonesia berpotensi menghasilkan sekitar 3,6 miliar meter kubik biogas setiap tahun. Namun, pemanfaatan POME untuk produksi biogas saat ini baru sekitar 15 persen dari keseluruhan potensi yang tersedia.

Tungkot menilai diperlukan kebijakan nasional untuk memperluas pemanfaatan biogas berbasis POME. Ia mengusulkan tiga kebijakan utama, yakni pemberlakuan perdagangan karbon berbasis sawit, khususnya POME; penerapan kewajiban methane capture di setiap pabrik kelapa sawit dengan dukungan insentif investasi; serta kewajiban pencampuran biogas dengan gas fosil untuk kebutuhan energi di Indonesia.

"Jika ketiga kebijakan tersebut dapat dilakukan di Indonesia, saya yakin semua PKS akan membangun methane capture dan hasilnya menambah ketersediaan gas, meningkatkan ketersediaan biolistrik, emisi akan berkurang, serta menambah pendapatan baru bagi pabrik kelapa sawit," papar dia.

Dengan potensi bahan baku yang besar, teknologi pengolahan limbah, serta dukungan kebijakan dan pendanaan riset, biogas berbasis POME menjadi salah satu sumber energi yang dapat dikembangkan dari industri kelapa sawit nasional.

(Husen Miftahudin)