Harga Minyak Melonjak Lagi, Brent Sentuh USD93,93/Barel

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Melonjak Lagi, Brent Sentuh USD93,93/Barel

Eko Nordiansyah • 22 August 2026 08:40

Houston: Harga minyak melonjak untuk minggu kedua berturut-turut pada Jumat, 21 Agustus 2026, seiring AS dan Iran yang masih menemui jalan buntu terkait kendali atas Selat Hormuz. Selain itu pernyataan Presiden Donald Trump bahwa ia akan meningkatkan perang ekonomi secara signifikan terhadap Iran.

Para pedagang menantikan hari Senin untuk mendapatkan rincian lebih lanjut mengenai apa yang disebut Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebagai sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran.

Dilansir dari Investing, Sabtu, 22 Agustus 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober naik 0,2 persen dan ditutup pada level USD93,93 per barel, sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober turun 0,2 persen dan ditutup pada level USD86,64 per barel. 

Brent kini telah melonjak lebih dari 12 persen dalam dua minggu, sedangkan WTI naik lebih dari 10 persen. 


(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Selat Hormuz masih memanas

Ketegangan antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada hari Kamis, Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi baru yang ketat terhadap Iran guna menekan negara tersebut agar menerima kesepakatan damai. Trump juga memperingatkan adanya konsekuensi ekonomi yang parah bagi negara-negara yang berbisnis dengan Teheran.

"Ini akan menjadi isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia. Ini adalah pukulan ganda—kita menerapkan blokade dan kita akan memberlakukan sanksi terberat dalam sejarah," kata Bessent kepada CNBC.

Namun, Iran sebagian besar mengabaikan ancaman AS mengenai sanksi ekonomi tambahan, begitu pula Tiongkok, yang merupakan pembeli utama minyak mentah Iran. Media pemerintah pada hari Jumat menyatakan bahwa tanggapan Teheran terhadap ancaman baru apa pun dari AS akan bersifat "menghancurkan," mengutip pernyataan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Ali Abdollahi.

Belum jelas apa isi sanksi baru tersebut, mengingat AS telah memberlakukan pembatasan terhadap ekspor minyak Iran. AS juga mempertahankan blokade laut terhadap Iran, yang telah diberlakukan sebelumnya pada tahun ini.

Meski demikian, retorika Trump mengisyaratkan kecilnya kemungkinan meredanya ketegangan di Timur Tengah; situasi ini diperkirakan akan terus menyebabkan gangguan pada pasokan minyak regional sebagaimana yang terjadi belakangan ini. 

Dalam sebuah catatan kepada klien, analis Deutsche Bank menyatakan bahwa kekhawatiran akan guncangan energi terus membayangi pasar.

Data pelayaran menunjukkan bahwa lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz tetap berada jauh di bawah tingkat sebelum konflik, terlepas dari klaim sebaliknya yang disampaikan AS. Iran mengisyaratkan akan tetap menutup jalur strategis tersebut sampai AS mematuhi ketentuan kesepakatan damai sementara yang ditandatangani pada bulan Juni, yang kini telah berakhir masa berlakunya.

Pemerintahan Trump minggu ini juga berupaya menurunkan harga bensin di dalam negeri; Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA), setelah berkonsultasi dengan Departemen Energi AS (DoE), pada hari Kamis mengumumkan penerbitan kebijakan pengecualian aturan bahan bakar darurat sementara.

(Eko Nordiansyah)