Iran Tegaskan Hadapi Ancaman Trump Secara Langsung di Medan Tempur

Presiden Iran Masoud Pezeshkian tegaskan akan tetap hadapi Amerika Serikat dalam medan perang. Foto: Press TV

Iran Tegaskan Hadapi Ancaman Trump Secara Langsung di Medan Tempur

Elvina Sihombing • 24 March 2026 09:08

Teheran: Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya akan memberikan respons tegas terhadap ancaman yang dilontarkan Amerika Serikat di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.

Pezeshkian menyebut ancaman tersebut sebagai hal yang tidak masuk akal dan menegaskan Iran siap menghadapinya di medan pertempuran.

Pernyataan itu disampaikan melalui akun sosial media X miliknya pada Minggu 23 Maret 2026, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengultimatum Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.

Trump sebelumnya mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak memenuhi tuntutan tersebut.

“Imajinasi untuk menghapus Iran dari peta menunjukkan keputusasaan terhadap kehendak bangsa yang memiliki sejarah besar,” tulis Pezeshkian, seperti dikutip dari Press TV, Selasa 24 Maret 2026.

Ia menambahkan bahwa ancaman dan tekanan justru akan memperkuat persatuan nasional Iran.

“Selat Hormuz terbuka bagi semua pihak, kecuali mereka yang melanggar wilayah kami. Kami akan menghadapi ancaman tersebut secara tegas,” ungkap Pezeshkian.

Ketegangan meningkat setelah Iran memblokir Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak dan gas yang terkait dengan Amerika Serikat, Israel, serta pihak yang bekerja sama dengan keduanya.

Gangguan di jalur pelayaran strategis antara Teluk Persia dan Laut Oman itu memicu lonjakan signifikan harga energi global.

Dalam upaya meredam dampak tersebut, Trump menyatakan Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker yang melintasi selat tersebut. Ia juga mengusulkan pembentukan koalisi internasional dengan melibatkan negara-negara NATO.

Namun, sebagian besar sekutu Washington dilaporkan menolak untuk mengerahkan kekuatan militer.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan bahwa negaranya akan menghancurkan infrastruktur energi di kawasan secara permanen jika Amerika Serikat menyerang fasilitas vital Iran.

Markas Pusat Khatam al-Anbiya juga mengeluarkan peringatan tentang langkah “hukuman segera” apabila terjadi serangan terhadap infrastruktur energi Iran.

Bahkan, Dinas Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa pusat teknologi penting di luar kawasan akan menjadi target dalam waktu 48 jam jika konflik terus meningkat.

Ketegangan di Timur Tengah terus memanas sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari, yang memperluas konflik ke berbagai kawasan strategis tanpa tanda-tanda mereda.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)