Kepala BNPT Eddy Hartono. ANTARA/Laily Rahmawaty
BNPT Sebut 620 Anak Terpapar Radikalisme dari Media Sosial
Achmad Zulfikar Fazli • 2 September 2026 13:20
Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menemukan ratusan anak terpapar paham kekerasan dan radikalisme di media sosial. Mereka telah mendapat intervensi dari aparat penegak hukum.
"Menurut data dari aparat penegak hukum, dalam hal ini Densus 88 Antiteror Polri, dari Januari hingga 26 Agustus 2026 ada 620 anak yang kategorinya terpapar paham kekerasan maupun radikalisme," kata Kepala BNPT Eddy Hartono, dilansir dari Antara, Rabu, 2 September 2026.
Anak-anak tersebut terpapar melalui berbagai platform media sosial, seperti podcast, forum, YouTube, dan platform digital lainnya. Berdasarkan rentang usia, anak yang terpapar berusia 11 hingga 18 tahun dan tersebar di 34 provinsi.
"Jadi ada yang terpapar melalui komunitas maupun ekosistem digital," ujar Eddy.
Eddy menjelaskan sejumlah anak tergabung dalam komunitas atau ekosistem digital yang berinteraksi dengan informasi mengenai berbagai peristiwa kejahatan yang terjadi di dunia. Salah satu komunitas tersebut, yakni True Crime Community. Menurut dia, True Crime Community tidak serta-merta berbahaya dan tidak dapat disamakan dengan ancaman terorisme.
"Sebenarnya True Crime Community ini bukan komunitas yang berbahaya, jadi komunitas ini tidak sama dengan ancaman terorisme sebenarnya," kata Eddy.

Ilustrasi terorisme. Medcom
Dia menjelaskan aktivitas dalam komunitas tersebut antara lain melakukan penelitian dan mencermati berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Oleh karena itu, anggota komunitas tidak otomatis dapat disebut terpapar terorisme atau ekstremisme. Menurut Eddy, pencegahan perlu dilakukan tanpa memberikan stigma terhadap kelompok tertentu.
Komunitas tersebut dapat menjadi berbahaya ketika terjadi perubahan perilaku anggota, termasuk anak, pemuda, atau masyarakat, yang mulai mengagungkan dan menormalisasi kekerasan. "Nah, ini yang berbahaya, ketika ada perubahan perilaku," ujar Eddy.
Internet Sarana Efektif untuk Propaganda
Hasil penelitian BNPT menunjukkan media internet menjadi sarana yang paling efektif untuk propaganda, rekrutmen, dan pendanaan terorisme. "Nah, ini tiga hal yang menjadi perhatian kami," kata Eddy.
Untuk mencegah penyebaran ekstremisme berbasis kekerasan di lingkungan pendidikan, BNPT bersinergi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang didukung Kementerian Agama serta Kementerian Sosial.
Sinergi tersebut dilakukan melalui kegiatan penguatan peran komite sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan dalam pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme di satuan pendidikan.
"Harapannya kegiatan ini dapat melahirkan komitmen yang nyata melalui penguatan kapasitas dan peran masing-masing pihak, baik tingkat pusat maupun daerah," kata Eddy.