Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto: Metro TV.
Bahlil Sebut Subsidi LPG Hampir Rp100 Triliun Gegara Kenaikan Harga Minyak
Husen Miftahudin • 16 October 2026 11:56
Karawang: Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut subsidi liquefied petroleum gas (LPG) mencapai hampir Rp100 triliun ketika harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) berada di kisaran USD90–100 per barel. Kenaikan tersebut dikaitkan dengan gejolak geopolitik yang memengaruhi pasar energi global.
Bahlil menjelaskan, ketika ICP berada di level USD70 per barel, subsidi LPG tercatat sebesar Rp87 triliun. Namun, kenaikan harga minyak mentah membuat beban subsidi meningkat hingga mendekati Rp100 triliun.
"Saat ICP-nya masih di USD70 per barel, itu subsidi kita mencapai Rp87 triliun. Tetapi begitu ICP-nya rata-rata sekarang di angka USD90 sampai USD100 per barel, subsidi kita di atas hampir Rp100 triliun," ujar Bahlil dalam peresmian Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, dikutip dari Antara, Jumat, 16 Oktober 2026.
Menurut Bahlil, ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina, memengaruhi stabilitas pasokan serta harga energi dunia. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional.
"Hampir semua dunia sekarang berpikir tentang bagaimana bisa mengamankan sektor energi mereka dari dalam negeri mereka masing-masing. Ini tantangan kita," ucap Bahlil.
Pemerintah siapkan CNG sebagai alternatif LPG
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG, pemerintah menyiapkan compressed natural gas (CNG) atau gas alam terkompresi sebagai salah satu alternatif energi.
Bahlil mengatakan CNG bukan teknologi energi baru di Indonesia. Sejumlah sektor usaha, termasuk restoran dan hotel, telah menggunakannya dalam kegiatan operasional.
Ia menyebut harga CNG berpotensi lebih murah 30–40 persen dibandingkan LPG. Menurut Bahlil, bahan baku gas yang digunakan tersedia di dalam negeri sehingga pemanfaatannya dapat mendukung upaya substitusi impor.
"Dan harganya lebih murah 30 sampai 40 persen. Itu memakai gasnya yang jenis C1, C2. Itu melimpah di negara kita," jelas Bahlil.
Meski demikian, pemerintah masih perlu memastikan kesiapan teknologi dan keamanan tabung sebelum CNG digunakan lebih luas oleh masyarakat. Salah satu tahapan yang sedang diuji adalah penggunaan tabung berkapasitas 3 kilogram.
"Ini sebagai strategi untuk bagaimana kita melahirkan substitusi impor, namun tabungnya yang 3 kg ini lagi diuji. Kalau tabung yang 12 kg itu sudah dipakai," papar Bahlil.
Pengembangan CNG diharapkan dapat memperluas pilihan sumber energi domestik. Namun, penerapannya untuk rumah tangga masih bergantung pada hasil pengujian tabung, aspek keselamatan, kesiapan infrastruktur, serta perhitungan keekonomian.
(Ilustrasi, tabung gas CNG. Foto: Freepik)
ICP September 2026 naik jadi USD112,81/barel
Kementerian ESDM menetapkan rata-rata ICP September 2026 sebesar USD112,81 per barel. Angka tersebut meningkat USD23,38 dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat USD89,43 per barel.
Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia September 2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan kenaikan ICP mencerminkan dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan.
"Rata-rata ICP September 2026 yang melonjak naik menjadi USD112,81 per barel merupakan cerminan dari dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan (supply disruption risk). Kenaikan ini terjadi secara menyeluruh pada seluruh benchmark internasional," ujar Laode.
Ia menjelaskan, eskalasi konflik militer dan kebuntuan diplomasi di Timur Tengah, khususnya ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, meningkatkan risiko keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
Selain itu, penundaan kuota produksi oleh OPEC+ serta serangan terhadap infrastruktur kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia dan kawasan Laut Merah turut memperketat pasokan minyak mentah global.
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan subsidi energi. Di tengah kondisi tersebut, pemerintah mendorong pemanfaatan sumber energi domestik, termasuk CNG, sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada impor LPG.