Krismon 1998 Jadi Tahun Kelam Rupiah di Indonesia, Kulik Sejarahnya

Kurs rupiah-dolar AS. Foto: MI/Usman Iskandar.

Krismon 1998 Jadi Tahun Kelam Rupiah di Indonesia, Kulik Sejarahnya

Husen Miftahudin • 25 January 2026 18:00

Jakarta: Saat ini, mata uang rupiah nyaris menyentuh angka Rp17 ribu per dolar AS pada 2026 ini dan menjadi yang terlemah kelima di dunia menurut data Forbes. Hal tersebut juga masyarakat mulai bersiap dengan segala kemungkinan ekonomi yang terjadi bila tren negatif tersebut terus berlanjut.

Meski mengalami depresiasi yang dalam, Bank Indonesia mengklaim bahwa pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar di kawasan regional. Sebagai perbandingan, Won Korea telah melemah sebesar 2,46 persen, sementara Peso Filipina turun sebesar 1,04 persen akibat sentimen global yang sama.

Adapun dalam hal ini bukan menjadi pelemahan rupiah Indonesia yang pernah terjadi. Lalu kapan sebenarnya rupiah mulai ambruk terjadi di Indonesia? Simak sejarahnya berikut.
 

Krismon 1998 jadi tahun kelam rupiah


Mengenai dengan pelemahan rupiah yang kian anjlok saat ini membuat masyarakat teringat dengan kejadian serupa yang pernah melanda Indonesia pada krisis moneter (krismon) pada 1998. Meskipun dalam hal ini banyak faktor yang membedakan dan tidak sama seperti yang terjadi pada saat ini.

Krisis moneter di Indonesia berawal dari gelombang krisis finansial Asia yang melanda kawasan pada pertengahan 1997. Nilai tukar rupiah yang semula stabil di kisaran Rp2.500 per dolar AS tiba-tiba merosot tajam hingga menyentuh lebih dari Rp15.000 per dolar pada awal 1998.

Sejarah mencatat jatuhnya nilai tukar rupiah bukan sekadar fenomena pasar, melainkan dampak dari akumulasi masalah struktural yang mendalam. Beban utang valuta asing di sektor swasta yang tidak terkendali menjadi 'bom waktu' yang meledak saat Rupiah mulai terdepresiasi.

Krisis kepercayaan terhadap integritas birokrasi akibat praktik KKN di era tersebut turut mempercepat pelarian modal asing dari pasar keuangan domestik. Lemahnya koordinasi pemerintah dalam merespons gejolak pasar secara cepat dan efektif kala itu menjadi pelajaran berharga bagi otoritas moneter saat ini dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional dari ancaman serupa.
 
Baca juga: Rupiah Nyaris Rp17 Ribu, Kelangkaan Dolar Jadi Penyebab Utama


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Dampak krisis moneter saat itu

 

1. Depresiasi rupiah yang tak terkendali 

Mata uang Indonesia mengalami tekanan hebat yang dimulai pada pertengahan 1997. Dalam kurun waktu singkat, nilai tukar yang semula stabil di angka Rp2.450 per USD, terjun bebas hingga menyentuh Rp13.513 per USD pada akhir Januari 1998. Anjloknya nilai tukar ini seketika melumpuhkan daya beli nasional karena harga barang impor meroket, menciptakan efek domino yang mematikan bagi stabilitas ekonomi domestik.
 

2. Kelumpuhan sektor bisnis

Gelombang kebangkrutan massal menghantam sektor usaha di Indonesia. Perusahaan-perusahaan besar yang sebelumnya bergantung pada pinjaman valuta asing terjebak dalam jeratan utang yang membengkak akibat depresiasi nilai tukar. Ketidakmampuan dalam melunasi kewajiban finansial ini memaksa sedikitnya 1.300 perusahaan besar gulung tikar sepanjang tahun 1998, sebagaimana tercatat dalam data kementerian terkait.
 

3. Krisis kepercayaan dan lemahnya perbankan

Sektor keuangan menjadi titik terlemah dalam badai ekonomi ini. Ketidakmampuan bank dalam mengelola likuiditas menyebabkan sistem perbankan nasional runtuh. Banyak institusi keuangan terpaksa ditutup secara permanen, sementara sebagian lainnya harus diselamatkan oleh pemerintah melalui intervensi program rekapitalisasi guna mencegah kehancuran total di sektor moneter.
 

4. Gejolak politik yang tidak pasti

Dampak ekonomi ini segera bermutasi menjadi krisis kemanusiaan. Lonjakan harga kebutuhan pokok, yang diperparah dengan kenaikan tarif listrik dan BBM, menekan lapisan masyarakat bawah hingga ke titik nadir. Tekanan ekonomi yang luar biasa ini memicu ketegangan sosial yang puncaknya meletus dalam kerusuhan massal dan aksi demonstrasi besar-besaran, terutama di Jakarta pada Mei 1998. Peristiwa ini menandai perubahan krisis finansial menjadi krisis politik multidimensi yang merombak tatanan pemerintahan Indonesia.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa tren pelemahan rupiah yang tengah terjadi di Indonesia saat ini bukan menjadi titik lemah dalam ekonomi Indonesia.

Pemerintah saat ini juga tengah berusaha dalam menjaga nilai ekonomi Indonesia lewat kebijakan strategis fiskal di era modern saat ini. Masyarakat tidak perlu khawatir dengan kondisi yang terjadi saat ini. (Shandayu Ardyan Nitona Putrahia Zebua)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)