Apa Itu Erupsi Strombolian pada Gunung Anak Krakatau? Ini Penjelasannya

Ilustrasi Gunung Anak Krakatau. Foto: dok. Antara.

Apa Itu Erupsi Strombolian pada Gunung Anak Krakatau? Ini Penjelasannya

Putri Purnama Sari • 8 September 2026 12:51

Jakarta: Sejumlah gunung api di Indonesia saat ini tengah mengalami erupsi. Aktivitas vulkanik tersebut dapat menghasilkan berbagai material, salah satunya abu vulkanik yang dapat terbawa angin ke wilayah di sekitar gunung.

Salah satu gunung api yang mengalami erupsi adalah Gunung Anak Krakatau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut erupsi yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau merupakan erupsi bertipe Strombolian.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, erupsi tersebut terjadi akibat magma cair dengan tekanan gas sedang.

“Ini erupsinya jenis strombolian akibat magma cair dengan tekanan gas sedang. Jadi terjadi letusan-letusan yang kecil yang berulang secara teratur,” kata Faisal dalam siaran pers daring, yang dikutip Selasa, 8 September 2026.

Lantas, apa yang dimaksud dengan erupsi Strombolian? Berikut informasinya.

Apa Itu Erupsi Strombolian?

Erupsi Strombolian merupakan salah satu gaya letusan gunung api dengan karakteristik tertentu. Nama Strombolian berasal dari Gunung Stromboli di Italia yang dikenal memiliki aktivitas erupsi secara terputus-putus dalam interval waktu tertentu.

Dilansir dari National Park Service (NPS) Amerika Serikat, erupsi Strombolian merupakan salah satu gaya erupsi gunung api yang bersifat eksplosif dengan intensitas sedang. Erupsi ini umumnya melibatkan magma basaltik hingga basaltik-andesit dengan kandungan gas sedang.

Salah satu ciri utama erupsi Strombolian adalah ledakan yang terjadi secara terputus-putus. Setiap ledakan dapat melontarkan material piroklastik ke udara hingga ratusan kaki.

Semburan material pijar tersebut dapat terlihat seperti kembang api, terutama ketika erupsi terjadi pada malam hari. Gaya erupsi ini juga umumnya tidak menghasilkan kolom erupsi yang terus-menerus.

Mengapa Letusan Strombolian Terjadi Berulang?

Mengutip National Park Service, ledakan pada erupsi Strombolian berkaitan dengan proses vesikulasi lava di sekitar lubang erupsi.

Saat magma bergerak menuju permukaan, gas yang terkandung di dalamnya dapat membentuk gelembung. Pelepasan gas tersebut kemudian memicu ledakan yang mendorong magma dan material vulkanik keluar dari kawah.

Proses tersebut dapat berlangsung berulang sehingga menghasilkan pola letusan yang muncul secara berkala.

Material yang Dikeluarkan Erupsi Strombolian


Tampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/HO-Badan Geologi KESDM/aa.

Erupsi Strombolian dapat menghasilkan sejumlah material vulkanik. Menurut National Park Service, material tersebut antara lain:

  1. Bom vulkanik, yaitu material magma berukuran relatif besar yang terlontar ketika terjadi ledakan.
  2. Lapili, yakni fragmen material vulkanik yang berukuran lebih kecil daripada bom vulkanik.
  3. Abu vulkanik, berupa partikel material vulkanik berukuran sangat halus yang dapat terbawa angin.
  4. Semburan lava pijar, yakni material lava panas yang terlontar ke udara dan dapat terlihat seperti kembang api, terutama pada malam hari.

Material-material tersebut kemudian dapat jatuh kembali di sekitar pusat erupsi. Dalam aktivitas Gunung Anak Krakatau, BMKG menyebut adanya kembang api lava, bom vulkanik, dan lapili yang terlontar ke udara.

Apakah Erupsi Strombolian Berbahaya?

Erupsi Strombolian bukan berarti erupsi yang tidak berbahaya. Meskipun karakter letusannya cenderung berupa ledakan kecil yang terjadi secara berkala, aktivitas tersebut tetap dapat menghasilkan lontaran material vulkanik seperti bom vulkanik, lapili, dan abu.

Tingkat bahaya erupsi dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain:

  • Kekuatan dan intensitas erupsi.
  • Jumlah material vulkanik yang dikeluarkan.
  • Jarak wilayah dari sumber erupsi.
  • Arah penyebaran abu vulkanik.
  • Kondisi aktivitas gunung api selama erupsi berlangsung.

Dengan demikian, istilah Strombolian digunakan untuk menjelaskan karakter atau gaya letusan gunung api, bukan untuk menunjukkan bahwa suatu erupsi aman atau tidak berbahaya.

Masyarakat di sekitar gunung api yang sedang mengalami erupsi tetap perlu mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari pihak berwenang, termasuk terkait potensi bahaya dan wilayah yang perlu dihindari.

(Siti Nahdia Usman)

(Putri Purnama Sari)