Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dikonfirmasi meninggal dunia pada Minggu, 1 Maret 2026. (EPA / KHAMENEI OFFICIAL WEBSITE)
Kematian Khamenei Tak Akan Runtuhkan Sistem Republik Islam Iran
Willy Haryono • 1 March 2026 15:50
Jakarta: Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran global, namun para pakar menilai sistem politik Iran akan tetap bertahan. Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan militer besar yang memicu eskalasi konflik regional dan masa berkabung nasional di Iran.
Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran, Dian Wirangjurid, mengatakan Iran bukanlah negara yang bergantung pada satu figur semata, melainkan sistem yang telah mengakar sejak Revolusi Islam 1979.
“Iran itu sebuah sistem kenegaraan yang solid, bukan sistem perorangan yang ketika pemimpinnya tewas, rezimnya langsung tumbang,” kata Dian dalam wawancara di program Breaking News Metro TV, Minggu, 1 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa setelah wafatnya Khamenei, Iran akan memasuki masa berkabung selama 40 hari, yang sekaligus menjadi periode konsolidasi internal.
Secara konstitusional, pengganti pemimpin tertinggi akan dipilih oleh Assembly of Experts, sebuah dewan beranggotakan 88 ulama yang memiliki kewenangan memilih pemimpin baru jika posisi tersebut kosong.
Sementara itu, pengamat Timur Tengah M. Syaroni Rofii menilai kematian Khamenei justru berpotensi memperkuat militansi internal Iran.
“Terbunuhnya Ali Khamenei bisa menjadi martir dan motivasi bagi pasukan Garda Revolusi untuk lebih resisten dan militan dalam melawan Amerika dan Israel,” ujarnya.
Ia menambahkan struktur militer Iran tetap berjalan karena adanya tokoh-tokoh penting lain yang memegang kendali.
Syaroni juga melihat serangan tersebut sebagai bagian dari upaya Amerika Serikat untuk memperkuat dominasi geopolitiknya, namun memperingatkan bahwa kekuatan lain seperti Rusia dan China dapat menjadi faktor penyeimbang.
Sedangkan Dian menilai kemungkinan Iran kembali ke sistem monarki sangat kecil, karena sistem Republik Islam telah mengakar kuat di masyarakat dan institusi negara.
Menurutnya, Garda Revolusi dan militer Iran telah mengambil langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nasional di tengah transisi kepemimpinan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa meskipun kematian Khamenei merupakan peristiwa besar, masa depan Iran kemungkinan akan lebih ditentukan oleh kekuatan sistem dan institusi yang telah dibangun selama lebih dari empat dekade. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Hikmahanto: AS-Israel Dorong Pergantian Rezim Iran, Reza Pahlavi Berpotensi Muncul