Serangan infrastruktur minyak Arab Saudi. Foto: en.yenisafak.com
Infrastruktur Minyak Arab Diserang, Distribusi Minyak Dunia Terganggu
Richard Alkhalik • 10 April 2026 15:51
Riyadh: Merespons eskalasi serangan yang menargetkan infrastruktur strategis negara, Kementerian Energi Arab Saudi mengumumkan penangguhan operasional di sejumlah fasilitas energi utama.
Melansir Xinhua, Jumat, 10 April 2026, yang mengutip laporan Saudi Press Agency, kementerian menegaskan gelombang serangan tersebut telah menghantam berbagai instalasi vital kerajaan dari hulu hingga hilir; mencakup produksi minyak dan gas, jaringan pipa logistik, kilang penyulingan, sentra petrokimia, hingga pembangkit listrik yang membentang di Riyadh, Provinsi Timur, dan Kota Industri Yanbu.
Insiden ini telah menelan satu korban jiwa yang merupakan petugas keamanan industri Saudi dan melukai tujuh lainnya, sekaligus memicu disrupsi pada rantai pasok di beberapa lokasi sektor energi.
Dampak dari aksi tersebut juga menghantam stasiun pompa di Jalur Pipa Timur-Barat, yang mengakibatkan hilangnya kapasitas distribusi hingga 700 ribu barel per hari. Jalur pipa tersebut dikenal sebagai urat nadi utama penopang pasokan minyak Saudi menuju pasar internasional.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Melansir Xinhua, Jumat, 10 April 2026, yang mengutip laporan Saudi Press Agency, kementerian menegaskan gelombang serangan tersebut telah menghantam berbagai instalasi vital kerajaan dari hulu hingga hilir; mencakup produksi minyak dan gas, jaringan pipa logistik, kilang penyulingan, sentra petrokimia, hingga pembangkit listrik yang membentang di Riyadh, Provinsi Timur, dan Kota Industri Yanbu.
Insiden ini telah menelan satu korban jiwa yang merupakan petugas keamanan industri Saudi dan melukai tujuh lainnya, sekaligus memicu disrupsi pada rantai pasok di beberapa lokasi sektor energi.
Dampak dari aksi tersebut juga menghantam stasiun pompa di Jalur Pipa Timur-Barat, yang mengakibatkan hilangnya kapasitas distribusi hingga 700 ribu barel per hari. Jalur pipa tersebut dikenal sebagai urat nadi utama penopang pasokan minyak Saudi menuju pasar internasional.
| Baca juga: Harga Minyak Naik, Tapi Masih di Bawah USD100 |

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Gerus ketersediaan pasokan minyak
Kerusakan fasilitas produksi menekan performa kerajaan, di mana minyak Manifa juga mengalami kerusakan sehingga mengurangi produksi sekitar 300 ribu barel per hari.
Aksi mogok kerja sebelumnya di fasilitas Khurais mengurangi produksi hingga 300 ribu barel per hari. Secara kumulatif, total kerugian produksi langsung yang dialami Arab Saudi mencapai 600 ribu barel per hari.
Operasional sejumlah kilang raksasa, termasuk SATORP di Jubail, Ras Tanura, SAMREF di Yanbu, serta kilang Riyadh mengalami gangguan yang secara langsung menekan volume ekspor produk olahan. Lebih lanjut, insiden kebakaran yang melanda fasilitas pengolahan Juaymah turut melumpuhkan ekspor gas alam cair dan liquefied petroleum gas (LPG).
Menyikapi krisis ini, Kementerian Energi Arab Saudi memperingatkan serangan yang berkelanjutan berisiko menggerus ketersediaan pasokan, menghambat akselerasi pemulihan infrastruktur, merusak fondasi ketahanan energi bagi negara-negara konsumen, serta menambah volatilitas di pasar minyak global.
Situasi tersebut dikatakan telah membebani perekonomian global dengan menipiskan persediaan, membatasi pasokan yang tersedia, dan membatasi kemampuan untuk menanggapi kekurangan.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com