Lebih dari 600 Warga Mengungsi akibat Eskalasi Kekerasan di Kordofan Sudan

Asap dari pertempuran antara militer Sudan dan RSF. (Anadolu Agency)

Lebih dari 600 Warga Mengungsi akibat Eskalasi Kekerasan di Kordofan Sudan

Willy Haryono • 25 November 2025 11:27

Khartoum: Badan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (IOM) pada Senin, 24 November 2025, mengonfirmasi bahwa eskalasi kekerasan di Negara Bagian Kordofan Selatan, Sudan, telah memaksa lebih dari 600 warga mengungsi dari desa Tebsa dan Afnori.

IOM melaporkan bahwa tim lapangannya memperkirakan sebanyak 645 orang mengungsi pada 22 November akibat memburuknya situasi keamanan. Para pengungsi kini tersebar di wilayah Abbasiya Tagali di tengah kondisi yang tegang dan tidak stabil.

Kelompok masyarakat sipil setempat, termasuk Nuba Mountains Platform dan Tebsa Youth Gathering, menuduh pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) dan sekutu mereka mengepung Tebsa selama berjam-jam, menyerbu pasar, menjarah properti, serta menewaskan satu warga dan melukai satu orang lainnya.

Mereka juga mengklaim sekitar 700 pemuda ditahan dan dipaksa menjalani wajib militer. RSF maupun kelompok SPLM-N yang bersekutu belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya gelombang kekerasan di seluruh wilayah Kordofan, di mana bentrokan di Kordofan Utara, Barat, dan Selatan telah membuat puluhan ribu penduduk mengungsi dalam beberapa hari terakhir. Dalam perkembangan terpisah, IOM juga menyebut perpindahan penduduk dari El-Fasher, ibu kota Darfur Utara, telah mencapai level kritis.

Sejak RSF merebut kota tersebut pada 26 Oktober, lebih dari 106.000 orang melarikan diri ke 37 lokasi berbeda di 11 negara bagian. Kondisi keamanan yang memburuk di sepanjang jalur pelarian terus menghambat evakuasi aman bagi warga sipil.

Konflik antara tentara Sudan dan RSF yang pecah pada April 2023 telah mendorong negara itu ke dalam krisis kemanusiaan yang mendalam. RSF kini menguasai lima negara bagian di wilayah Darfur, sementara tentara mempertahankan kontrol di sebagian besar wilayah lain, termasuk ibu kota Khartoum.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), perang tersebut telah menyebabkan sedikitnya 40.000 kematian dan memaksa 12 juta orang mengungsi, menjadikannya salah satu krisis perpindahan penduduk terbesar di dunia. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Militer Sudan Siap Bekerja Sama dengan AS dan Arab Saudi untuk Capai Perdamaian

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
Viral!, 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(Willy Haryono)