Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari memberikan sambutan sekaligus membuka acara Sharing Season bertajuk
BNPB Dorong Keberlanjutan Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana di Sekolah
Siti Yona Hukmana • 13 October 2026 12:57
Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan pentingnya penguatan kapasitas kesiapsiagaan kebencanaan di lingkungan sekolah. Hal itu sebagai langkah krusial dalam menekan risiko dampak bencana geologi, seperti gempa bumi, potensi megathrust, hingga letusan gunung api.
"Penguatan kapasitas menyangkut pelatihan untuk mitigasi dan kesiapsiagaan tidak boleh dianggap sebagai agenda sekilas, melainkan proses pembelajaran berkelanjutan sepanjang hidup," kata Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangannya di Jakarta, dilansir Antara, Selasa, 13 Oktober 2026.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB melaporkan dalam tiga tahun terakhir, tercatat sedikitnya 15-20 kejadian bencana terjadi setiap hari yang memerlukan dukungan penanganan lintas sektor dari pemerintah pusat hingga daerah.
Adapun, jika diakumulasikan bersama penanganan mandiri oleh pemerintah daerah (pemda), total kejadian bencana di Indonesia mencapai 5.000-6.000 dalam setahun.
Menanggapi tingginya frekuensi bencana tersebut, Muhari menggarisbawahi tiga pilar utama Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Meliputi ketersediaan fasilitas sekolah tahan bencana, regulasi serta Standar Operasional Prosedur (SOP) evakuasi yang jelas, dan integrasi pendidikan kebencanaan ke dalam kurikulum pembelajaran.
Muhari mencontohkan tragedi gempa bumi Yogyakarta 2006 yang memakan korban jiwa lebih dari 6.000 orang hanya dalam guncangan 5,3 detik. Muhari menyebut singkatnya waktu guncangan tersebut membuktikan keselamatan masyarakat sangat bergantung pada ketahanan fisik struktur bangunan dan kecepatan simulasi evakuasi yang terlatih secara naluriah.

Erupsi Gunung Anak Krakatau. Foto: Antara.
Dalam konteks pelatihan di sekolah inilah BNPB menekankan pentingnya membangun budaya simulasi evakuasi secara berkala tanpa kepanikan, khususnya bagi peserta didik di tingkat SD dan SMP. Lingkungan sekolah di Kota Serang, Banten menjadi salah satu yang dinilai perlu mendapatkan pelatihan tersebut.
Sebab, Banten masuk dalam daerah yang rentan terdampak gempa bumi zona megathrust segmen Selat Sunda dan paparan erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Melalui pendekatan latihan yang terstruktur dan rutin, para siswa diharapkan mampu membentuk memori jangka panjang sehingga dapat mengambil keputusan dan bertindak cepat saat menghadapi situasi darurat yang sebenarnya," kata Muhari.