Harga Minyak Turun Dipicu Upaya Diplomasi untuk Meredam Konflik Timur Tengah

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Turun Dipicu Upaya Diplomasi untuk Meredam Konflik Timur Tengah

Eko Nordiansyah • 29 October 2026 08:16

Tokyo: Harga minyak melemah dalam perdagangan Asia pada Kamis, 29 Oktober 2026, seiring investor mengevaluasi upaya diplomatik baru untuk meredam konflik di Timur Tengah.

Meski demikian, kekhawatiran akan serangan militer AS yang baru terhadap Iran serta serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi tetap menjaga harga tetap berada di dekat level tertinggi dalam enam bulan terakhir.

Dikutip dari Investing, kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Desember turun 0,8 persen menjadi USD114,41 per barel, sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 0,8 persen menjadi USD101,99 per barel.

Kedua kontrak tersebut sempat naik pada sesi sebelumnya setelah kelompok Houthi di Yaman, yang berafiliasi dengan Iran, menyatakan telah menyerang kilang minyak terbesar milik Arab Saudi.

Pertimbangan antara diplomasi dengan Iran dan risiko serangan baru

Pasar saat ini berada di antara harapan akan terobosan diplomatik dan kekhawatiran bahwa eskalasi baru dapat semakin mengganggu arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur perairan krusial bagi pengiriman minyak mentah global.

The Wall Street Journal melaporkan Wakil Presiden AS JD Vance telah menghubungi Mohsen Rezaei, sekretaris badan keamanan tertinggi Iran, sebuah langkah yang berpotensi membuka jalur negosiasi.
(Ilustrasi. Foto: Dok ICDX)

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Axios pada hari Rabu bahwa negosiasi sedang berlangsung melalui pihak penengah, namun ia menegaskan tidak mengetahui apakah upaya tersebut akan membuahkan hasil.

Pihak penengah dari Qatar telah mengajukan draf proposal baru kepada Teheran yang bertujuan untuk mengakhiri konflik. Namun, menurut laporan Reuters, seorang pejabat Iran menyebut gagasan tersebut tidak dapat diterima.

Arab Saudi, Turki, dan Pakistan juga telah mengadakan pembicaraan dengan para pejabat Iran di Teheran minggu ini. Trump telah melontarkan kemungkinan dilakukannya kembali tindakan militer terhadap Iran setelah pemilihan umum paruh waktu pada 3 November, sementara Washington telah memperingatkan sekutu-sekutunya di kawasan tersebut untuk bersiap menghadapi kemungkinan serangan serta pembalasan dari Iran yang menyasar fasilitas-fasilitas energi.

Risiko terjadinya serangan lebih lanjut telah menjadi faktor utama yang mendorong harga minyak, mengingat konflik tersebut mengancam fasilitas produksi maupun jalur pelayaran. Gangguan berkepanjangan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz dapat memperketat pasokan global secara signifikan, sementara serangan terhadap infrastruktur Arab Saudi dapat membatasi kemampuan negara tersebut dalam mengekspor minyak mentah.

Stok minyak mentah AS turun

Data persediaan Amerika Serikat turut memberikan dukungan tambahan. Menurut Badan Informasi Energi (Energy Information Administration), stok minyak mentah komersial turun sebesar 1,9 juta barel menjadi 410,6 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Oktober, berlawanan dengan perkiraan para analis yang memprediksi adanya sedikit peningkatan.

Namun, laporan persediaan tersebut menunjukkan gambaran yang beragam terkait permintaan bahan bakar. Stok bensin justru naik sebesar 3,9 juta barel, bertolak belakang dengan ekspektasi penurunan, sementara persediaan distilat, yang mencakup diesel dan minyak pemanas, turun sebesar 1,5 juta barel.

(Eko Nordiansyah)