Ribuan warga Israel berunjuk rasa mendesak pemerintahan baru melibatkan partai Arab. (Anadolu Agency)
Demonstran Israel Desak Pembentukan Pemerintahan Baru yang Libatkan Partai Arab
Willy Haryono • 1 November 2026 08:58
Tel Aviv: Ribuan orang berunjuk rasa di sejumlah kota Israel pada Sabtu malam, 31 Oktober 2026, untuk mendesak pembentukan pemerintahan baru yang melibatkan partai-partai Arab.
Di saat bersamaan, kelompok aktivis sayap kanan Israel menggelar aksi tandingan untuk menolak keterlibatan partai Arab dan menyerukan pemilihan umum ulang.
Surat kabar Israel, Haaretz, melaporkan bahwa ribuan demonstran berkumpul di Habima Square, pusat Kota Tel Aviv. Mereka mendesak pembentukan pemerintahan melalui kerja sama dengan Joint List dan Ra'am atau United Arab List.
Mengutip dari Anadolu, para demonstran membawa sejumlah spanduk, di antaranya bertuliskan, "Melalui kemitraan dan kesetaraan, kita mengubah pemerintahan" serta "Rakyat telah memberikan dukungan kepada kalian—segera bentuk pemerintahan."
Massa kemudian bergerak menuju Rabin Square.
Aksi serupa juga berlangsung di sejumlah lokasi lain. Di Paris Square, Yerusalem, ratusan orang berkumpul. Demonstrasi juga digelar di pelataran auditorium Haifa, sementara puluhan orang berunjuk rasa di Beersheba. Aksi lainnya berlangsung di persimpangan Ras Amer, dekat Tira dan Tayibe.
Foto-foto yang dipublikasikan Haaretz memperlihatkan demonstran di Haifa dan Tel Aviv membawa poster bertuliskan angka "67" dan "53". Angka tersebut mencerminkan peta kekuatan politik di parlemen Israel setelah pemilihan umum pada Selasa.
Partai-partai yang menentang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara keseluruhan memperoleh 67 dari 120 kursi Knesset. Jumlah itu mencakup 48 kursi dari partai-partai Yahudi dalam blok perubahan dan 19 kursi dari partai-partai Arab. Sementara itu, blok Netanyahu memperoleh 53 kursi.
Pemilu Ulang
Di sisi lain, ratusan aktivis sayap kanan menggelar demonstrasi tandingan di Habima Square untuk menolak kerja sama dengan partai-partai Arab, menurut Haaretz.Mereka meneriakkan sejumlah slogan, termasuk "Bibi adalah raja Israel," yang merujuk kepada Netanyahu, "Rakyat menginginkan integritas pemilu," dan "Rakyat menuntut pemilu baru."
Polisi telah menyiapkan lokasi terpisah untuk demonstrasi kelompok sayap kanan. Namun, puluhan aktivis datang lebih awal dan memasuki area yang dialokasikan bagi demonstrasi pendukung kemitraan Israel-Arab, menurut laporan Haaretz.
Meski secara keseluruhan memperoleh mayoritas kursi parlemen, sebagian besar partai Yahudi yang menentang Netanyahu menolak membentuk koalisi pemerintahan bersama partai-partai Arab, menurut The Times of Israel.
Akibatnya, partai-partai Yahudi dalam blok perubahan hanya memiliki 48 kursi, lima kursi lebih sedikit dibandingkan blok Netanyahu. Jumlah tersebut juga belum mencapai 61 kursi yang dibutuhkan untuk mengamankan mayoritas di Knesset.
The Times of Israel melaporkan bahwa baik Netanyahu maupun kelompok politik Zionis yang menentangnya belum dapat mengamankan mayoritas untuk membentuk pemerintahan tanpa dukungan partai-partai Arab atau pembelotan anggota dari blok perubahan.
Ra'am telah menyatakan keinginan untuk bergabung dengan pemerintahan. Sementara itu, pemimpin Joint List Yousef Jabareen mengatakan partainya siap membuka jalan bagi penggulingan pemerintahan Netanyahu, menurut Haaretz.
Baca juga: Oposisi Israel Sebut Netanyahu Tidak Punya Cara untuk Bentuk Pemerintahan