Oposisi Israel Sebut Netanyahu Tidak Punya Cara untuk Bentuk Pemerintahan

Warga saat memberikan suara dalam Pemilihan Parlemen Israel. Foto: Anadolu

Oposisi Israel Sebut Netanyahu Tidak Punya Cara untuk Bentuk Pemerintahan

Fajar Nugraha • 30 October 2026 20:14

Tel Aviv: Tokoh oposisi Israel, Yair Lapid, mengatakan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu "tidak punya cara" untuk membentuk pemerintahan setelah pemilihan parlemen.

Usai penghitungan suara yang berakhir buntu, kubu-kubu politik yang bersaing meningkatkan upaya untuk menyusun koalisi pemerintahan.

Media Israel, KAN, melaporkan pada Kamis malam bahwa penghitungan suara telah selesai. Blok Netanyahu mengamankan 53 kursi, blok oposisi ‘Change’ meraih 48 kursi, dan partai-partai Arab memperoleh 19 kursi di Knesset yang beranggotakan 120 orang.

Tidak satu pun dari dua blok utama tersebut mencapai 61 kursi yang diperlukan untuk meraih mayoritas di parlemen. Hasil akhir diperkirakan akan diumumkan pada 4 November setelah prosedur verifikasi selesai.

"Hanya itu yang dia miliki. Apa pun yang dia coba, dia tidak punya cara untuk membentuk pemerintahan," tulis Lapid di platform media sosial X, merujuk pada 53 kursi yang dikuasai Netanyahu, seperti dikutip dari Anadolu, Jumat 30 Oktober 2026.

Ia mencatat bahwa blok perdana menteri sebelumnya memegang 68 kursi di Knesset yang akan segera berakhir masa jabatannya, seraya menyebut hasil ini sebagai kemunduran besar.

Lapid juga menyoroti tingkat partisipasi pemilih sebesar 77,7% -,angka tertinggi sejak 1999,- dan menggambarkan pencapaian pihak oposisi sebagai "kemenangan berdasarkan poin" alih-alih sebuah "kemenangan telak" (knockout).

"Sekarang tibalah bagian yang benar-benar sulit: upaya untuk membentuk pemerintahan," ujar Lapid.

"Membentuk pemerintahan justru sebaliknya. Proses ini berlangsung di ruangan-ruangan kecil, secara perlahan, dan jauh dari sorotan kamera," tambahnya, merujuk pada perbedaan antara kampanye pemilihan umum dan negosiasi koalisi.

"Ini akan sulit. Saya tidak bisa memberikan jaminan apa pun," kata Lapid, seraya meminta para pendukungnya untuk tetap bersabar.

Partai bersaing menjajaki opsi koalisi

Secara terpisah, pemimpin partai sayap kanan ekstrem 'Kekuatan Yahudi' (Jewish Power), Itamar Ben-Gvir, bertemu dengan Netanyahu pada hari Kamis untuk membahas upaya mempertahankan pemerintahan sayap kanan, menurut harian Israel, Yedioth Ahronoth.

Partai Jewish Power menyatakan bahwa keduanya telah melakukan pembicaraan panjang mengenai upaya mencegah terbentuknya pemerintahan -,yang mereka sebut sebagai pemerintahan sayap kiri,- yang didukung oleh partai-partai Arab.

Sementara itu, pemimpin partai Demokrat, Yair Golan, mendesak para pemimpin blok "Perubahan" (Change bloc) untuk mempertimbangkan kembali posisi mereka terkait kerja sama dengan partai-partai Arab.

Pada Kamis, Golan bertemu dengan pemimpin United Arab List (Ra'am), Mansour Abbas, sebagai bagian dari upaya untuk mempercepat pembentukan pemerintahan alternatif.

Sebelumnya, Golan telah menyatakan dukungannya untuk mengikutsertakan Ra'am dalam koalisi mendatang, sedangkan pemimpin partai Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, menentang pembentukan pemerintahan yang melibatkan partai-partai Arab.

Secara keseluruhan, blok "Perubahan" dan partai-partai Arab menguasai 67 kursi, jumlah yang cukup untuk meraih mayoritas di parlemen.

Namun, partai-partai Arab tersebut tidak secara resmi menjadi bagian dari blok "Perubahan", dan perbedaan pendapat di antara para pemimpin oposisi mengenai kerja sama dengan partai-partai tersebut masih menjadi hambatan dalam membentuk pemerintahan tanpa Netanyahu.

(Fajar Nugraha)