Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
Rupiah Kamis Sore Menguat ke Rp17.845/USD
Ade Hapsari Lestarini • 28 May 2026 16:22
Jakarta: Kurs rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan sore ini berbalik menguat. Mata uang Garuda itu sempat turun pada perdagangan pagi.
Mengacu data Bloomberg, Kamis, 28 Mei 2026, rupiah menguat hingga 44,5 poin atau setara 0,25 persen ke posisi Rp17.845 per USD jika dibandingkan perdagangan pagi yang berada di posisi Rp17.855 per USD.
Sementara berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah bergerak stabil menjadi Rp17.785 per USD. Angka ini sempat menguat sembilan poin atau setara 0,05 persen dari sebelumnya.
Adapun data informasi kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat rupiah masih berada di posisi Rp17.789 per USD per Selasa, 26 Mei 2026. JISDOR adalah kurs referensi bank sentral yang digunakan sebagai dasar transaksi perdagangan berbasis valuta asing.

Ilustrasi mata uang dolar AS. Foto: dok MI/Ramdani.
Rupiah merespons kondisi luar negeri
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memandang nilai tukar rupiah saat ini merespons pasar offshore atau luar negeri. Fakhrul menjelaskan, dalam kondisi normal, kenaikan harga energi global akan menekan inflasi, fiskal, harga domestik, dan nilai tukar.
Namun, ketika penyesuaian domestik dilakukan sangat hati-hati demi menjaga stabilitas sosial dan daya beli, maka tekanan akhirnya lebih banyak berpindah ke rupiah.
"Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs," jelas Fakhrul.
Ia menambahkan, kondisi saat ini relevan dengan teori Dornbusch Overshooting. Ketika harga domestik rigid, sementara pasar keuangan bergerak cepat, maka nilai tukar akan bergerak jauh lebih ekstrem dibanding fundamentalnya.
"Inflasi yang seharusnya muncul di banyak tempat akhirnya terlalu banyak ditanggung oleh rupiah," ujar dia.
Ia memandang bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif baik dibanding banyak negara berkembang lain. Dalam hal ini, inflasi domestik masih terkendali, sektor perbankan relatif sehat, dan pertumbuhan ekonomi masih positif. Namun, Fakhrul mengingatkan pasar saat ini tidak hanya melihat angka headline.
"Pasar melihat apakah Indonesia punya policy anchor yang cukup kuat untuk menghadapi era global baru yang jauh lebih volatile dan inflationary," ujar dia.