Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto: Anadolu
Iran Tutup Peluang Pintu Negosiasi dengan Amerika Serikat
Muhammad Reyhansyah • 10 March 2026 14:53
Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Senin, 9 Maret 2026 menepis kemungkinan Teheran kembali bernegosiasi dengan Amerika Serikat (AS) setelah apa yang ia sebut sebagai “pengalaman yang sangat pahit.”
Dalam wawancara dengan PBS News, Araghchi menjawab pertanyaan mengenai apakah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, akan membuka peluang untuk pembicaraan baru atau gencatan senjata.
“Namun saya tidak berpikir isu berbicara dengan Amerika atau negosiasi dengan Amerika akan kembali menjadi agenda kami, karena kami memiliki pengalaman yang sangat pahit,” kata Araghchi, dikutip dari Anadolu, Selasa, 10 Maret 2026.
Ia merujuk pada perang selama 12 hari pada Juni lalu ketika militer Israel dan Amerika Serikat menyerang fasilitas nuklir Iran di tengah berlangsungnya pembicaraan antara Teheran dan Washington.
Araghchi juga menyinggung putaran terakhir perundingan nuklir Iran-AS yang berlangsung di Jenewa pada akhir Februari dengan mediasi Oman. Saat itu, kedua pihak menyebut suasana pembicaraan berlangsung serius dan konstruktif.
Namun menurutnya, setelah tiga putaran negosiasi dan klaim kemajuan dari tim AS, Washington tetap melancarkan serangan terhadap Iran.
“Jadi saya tidak berpikir berbicara dengan Amerika lagi akan masuk agenda kami,” ujarnya.
Araghchi juga menegaskan bahwa penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru mencerminkan kelanjutan sikap perlawanan Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel, sekaligus menjaga stabilitas internal.
Terkait gangguan pasokan minyak global, Araghchi menegaskan bahwa hal tersebut bukan rencana Iran.
Ia menyebut produksi dan transportasi minyak melambat karena serangan yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, yang menurutnya membuat kawasan menjadi tidak aman.
“Ini sebabnya kapal tanker dan kapal-kapal lain takut melintasi Selat Hormuz,” ujarnya, sambil menegaskan bahwa Iran tidak menutup selat tersebut.
Araghchi juga menuding Israel dan Amerika Serikat telah membuat kawasan menjadi tidak stabil.
Ia menambahkan bahwa dampak konflik tersebut tidak hanya dirasakan Iran dan kawasan Timur Tengah, tetapi juga komunitas internasional.
Menurutnya, jika Amerika Serikat menyerang Iran, Teheran akan menargetkan pangkalan militer AS di kawasan karena tidak mampu menjangkau wilayah daratan Amerika.
“Akibatnya perang akan menyebar ke seluruh kawasan. Kami tidak bertanggung jawab atas hal itu,” kata Araghchi.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com