Rupiah Dibuka Turun ke Rp16.910 per USD Kamis Pagi

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Dibuka Turun ke Rp16.910 per USD Kamis Pagi

Eko Nordiansyah • 13 March 2026 09:19

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini kembali mengalami pelemahan. Rupiah tak kuasa menahan penguatan dolar AS yang mendapat sokongan dari kenaikan harga minyak dunia.

Mengutip data Bloomberg, Jumat, 13 Maret 2026, rupiah berada di level Rp16.910 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 17 poin atau setara 0,10 persen dari Rp16.893 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.894 per USD. Rupiah melemah 38 poin atau 0,23 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp16.856 per USD.



(Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com/Husen Miftahudin)

Rupiah diprediksi fluktuatif cenderung melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah. Mata uang Garuda diperkirakan akan bergerak di rentang Rp16.890 sampai dengan Rp16.920 per USD.

Ibrahim mengungkapkan, prospek kurs rupiah masih terdampak sentimen lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus USD100 per barel. Menurutnya, harga minyak yang lebih tinggi membuat pasar sebagian besar waspada terhadap peningkatan inflasi jangka panjang. 

"Hal ini pada gilirannya memicu kekhawatiran atas kebijakan bank sentral yang lebih agresif dalam beberapa bulan mendatang," papar Ibrahim.

Rupiah juga diproyeksi kembali melemah meski Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan sinyal bahwa perang di Iran hampir berakhir. Dari sentimen moneter, prospek rupiah juga terpengaruh rilis data CPI Februari yang sesuai ekspektasi memberikan sedikit petunjuk.

"Fokus minggu ini sepenuhnya tertuju pada data indeks harga PCE untuk bulan Januari, yang akan dirilis pada hari Jumat, untuk mendapatkan petunjuk yang lebih pasti mengenai inflasi. Data tersebut merupakan tolok ukur inflasi pilihan Federal Reserve, dan kemungkinan akan menjadi faktor dalam ekspektasi inflasi jangka panjang," imbuh Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)