Kisah Heroik Basarnas Selamatkan Korban dari Gerbong Sempit KRL di Bekasi Timur

Proses evakuasi korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. (MTVN/Antonio)

Kisah Heroik Basarnas Selamatkan Korban dari Gerbong Sempit KRL di Bekasi Timur

Antonio • 1 May 2026 16:25

Bekasi: Waktu seakan berhenti di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026. Bukan karena kereta terlambat, melainkan karena kabar yang datang begitu cepat—tabrakan kereta.

Ryan Christian, anggota Kantor SAR Jakarta, menerima laporan tersebut saat sedang berjaga. Tanpa jeda panjang, ia bersama tim langsung bersiap menuju lokasi kejadian.

Peralatan dikumpulkan, fisik disiapkan, dan fokus diarahkan pada satu hal: penyelamatan.

“Yang terlintas di pikiran kami, kami harus segera merespon terkait dengan laporan itu. Saat itu, kami harus segera mempersiapkan peralatan, apa saja yang dibutuhkan untuk merespon dari laporan itu,” kata Ryan di Bekasi, Jumat, 1 Mei 2026.


Proses Proses evakuasi korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. (MTVN/Istimewa)

Setibanya di lokasi, Ryan menggambarkan kondisi di dalam KRL yang ditabrak Kereta Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek sangat padat dengan ruang yang sempit. Kondisi tersebut membuat udara terbatas dan mobilitas tim evakuasi menjadi sulit.

“Udara yang di dalam juga terbatas, ya seperti itulah yang kami hadapi,” ujarnya.

Ryan bersama tim harus berpikir cepat untuk mengevakuasi penumpang. Saat turun ke bawah peron, banyak korban yang meminta pertolongan karena terjepit.

“Ada beberapa korban yang masih bisa diajak komunikasi, masih bisa kita upayakan untuk segera mengeluarkan si korban tersebut,” ujar Ryan.

Semua Korban Punya Hak Sama untuk Hidup

Di tengah situasi yang tidak menentu, Ryan dan tim tetap berupaya maksimal menyelamatkan seluruh penumpang bersama Tim SAR Gabungan. Baginya, semua korban memiliki hak yang sama untuk hidup.

“Untuk saya secara pribadi mungkin berpikirnya mereka ini berhak untuk bertahan hidup, makanya itu tugas kami adalah mengupayakan itu,” ujar Ryan.

Dalam proses evakuasi, Ryan juga menghadapi momen yang membekas. Ia bertemu seorang wanita yang memintanya menyampaikan tas kepada suaminya.

“Tolong, Pak… kasihkan tas saya ke suami saya… suami saya ada di tangga,” ujar Ryan menirukan ucapan korban.


Tim SAR yang turut dalam proses evakuasi korban kecelakaan kereta di Bekasi Timur. (MTVN/Antonio) 

Sebagai manusia, Ryan mengaku merasakan kesedihan, kelelahan, dan kehausan saat menjalankan tugas. Namun, ia dan tim tetap mengutamakan keselamatan korban.

“Itu bagi kami tidak seberapa dibandingkan dengan duka yang dirasakan oleh keluarga korban,” ujarnya. Sebanyak 16 orang meninggal dunia dalam kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Selain itu, sekitar 90 orang mengalami luka-luka.

Duka atas insiden tersebut masih terasa. Sejumlah warga terlihat datang ke Stasiun Bekasi Timur dengan membawa bunga sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi para korban.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)