Dinkes Sultra Waspadai Penyebaran Campak Setelah Lebaran

Ilustrasi campak. (Freepik)

Dinkes Sultra Waspadai Penyebaran Campak Setelah Lebaran

Silvana Febiari • 31 March 2026 16:10

Kendari: Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulawesi Tenggara (Sultra) mewaspadai potensi penyebaran penyakit campak akibat mobilitas tinggi masyarakat setelah Lebaran 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Kepala Dinkes Sultra Andi Edy Surahmat mengatakan saat ini pihaknya sedang memperketat pengawasan terhadap potensi penyebaran penyakit campak. Meskipun temuan kasus di wilayah Sultra masih tergolong rendah, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama mengingat virus ini dapat dengan cepat menular melalui udara.

“Kasus di Sultra saat ini masih fluktuatif di angka satu atau dua pasien dan belum menyebar luas. Namun, kita harus tetap waspada, karena penularan campak ini melalui droplet di udara, mirip dengan mekanisme penularan tuberkulosis, terutama setelah adanya interaksi tinggi saat Lebaran,” kata Andi, dilansir dari Antara, Selasa, 31 Maret 2026. 
 


Ia menjelaskan virus campak memiliki masa inkubasi sekitar 14 hari sebelum gejala klinis muncul. Selama periode tersebut, penderita yang belum terdeteksi tetap berpotensi menularkan virus kepada orang lain di sekitarnya.

"Sebagai langkah antisipasi, kami telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan kepada seluruh fasilitas kesehatan di kabupaten dan kota untuk meningkatkan deteksi dini melalui sistem surveilans serta melakukan pelacakan (tracing) terhadap kontak erat pasien," ujarnya.


Kepala Dinkes Sultra dr. Andi Edy Surahmat. ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra


Andi juga menyoroti risiko fatalitas campak yang sering kali diabaikan oleh masyarakat. Menurutnya, penyakit ini tidak hanya menyebabkan demam dan ruam, tetapi dapat memicu komplikasi serius hingga kematian, terutama pada bayi di bawah usia sembilan bulan yang belum mendapatkan imunisasi dasar.

“Pada bayi, campak sering menyebabkan komplikasi diare berat yang berujung dehidrasi akut. Banyak kasus kematian bayi yang sebenarnya dipicu oleh campak, namun sering disalahartikan sebagai gangguan pencernaan biasa,” jelas Andi.

Ia mengimbau para orang tua untuk memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi campak tepat waktu pada usia sembilan bulan sebagai langkah perlindungan paling efektif. Masyarakat juga diminta untuk tetap menerapkan protokol kesehatan sederhana, seperti menggunakan masker di tempat keramaian dan melakukan isolasi mandiri jika ada anggota keluarga yang menunjukkan gejala demam tinggi disertai bintik kemerahan.

"Kami akan terus mengevaluasi perkembangan situasi dalam 14 hari ke depan setelah Lebaran. Hingga saat ini belum ada laporan lonjakan signifikan, namun tim medis di lapangan tetap dalam posisi siaga," ungkap Andi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)