Dampak Ganda Kemarau, Klaten Dilanda Karhutla dan Krisis Air

Salah satu warga sedang mengisi jerigen di Embung Tirta Mulya Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Foto: ANTARA/Aris Wasita.

Dampak Ganda Kemarau, Klaten Dilanda Karhutla dan Krisis Air

Fachri Audhia Hafiez • 22 June 2026 06:38

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, mulai menghadapi dampak ganda akibat musim kemarau. Kawasan tersebut kini tengah berjuang mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus kelangkaan pasokan air bersih yang melanda masyarakat.

"Untuk peristiwa pertama, kebakaran melanda lahan seluas tiga hektare di Desa Kaligawe, Kecamatan Pedan pada Sabtu, 20 Juni 2026, sore sekitar pukul 15.45 WIB, yang beruntung berhasil dipadamkan oleh tim gabungan," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, di Jakarta, dilansir Antara, Senin, 22 Juni 2026.
 


Abdul menjelaskan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah bergerak cepat mengerahkan tim gabungan guna menangani kedua kondisi kedaruratan tersebut sejak akhir pekan lalu.

Berdasarkan hasil kaji cepat di lapangan, pemicu kebakaran lahan seluas tiga hektare tersebut diduga kuat berasal dari aktivitas pembakaran sampah oleh warga. Api kemudian menjalar cepat ke area rumput kering lantaran diperparah oleh embusan angin yang kencang.

Menyusul insiden tersebut, BPBD Kabupaten Klaten langsung mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat. Warga diminta segera menghentikan kebiasaan membakar sampah secara terbuka di area yang berdekatan dengan rerumputan atau dahan kering selama cuaca terik demi mencegah kebakaran susulan.

Pada hari yang sama dengan kejadian karhutla, jajaran BPBD Klaten juga melakukan intervensi cepat untuk menangani dampak kekeringan. Petugas mendistribusikan pasokan air bersih sebanyak 60.000 liter atau setara dengan 12 armada truk tangki kepada warga di Kecamatan Kemalang.


Ilustrasi karhutla. Foto: Dok. MGN.

Langkah darurat ini diambil sebagai respons cepat atas keluhan warga yang mulai kesulitan menjangkau air domestik. Kondisi ini dipicu oleh menurunnya debit air secara drastis pada sejumlah sumber air bersih yang biasa dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

Sebagai antisipasi ke depan, BNPB terus meminta seluruh pemerintah daerah di Jawa Tengah untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Terlebih, puncak musim kemarau diperkirakan baru akan berlangsung pada Agustus hingga September mendatang. Pemda diharapkan memperkuat manajemen cadangan air bersih serta memperketat pengawasan di titik-titik rawan api.

(Fachri Audhia Hafiez)