Program Electrifying Agriculture menjadi bentuk dukungan PLN kepada Kelompok Tani Berkah Sakabeh di Bekasi. (dok. PLN)
PLN Bantu Petani Bekasi Jaga Produktivitas di Tengah Musim Kemarau
Duta Erlangga • 20 September 2026 13:43
Bekasi: Petani di Desa Cicau, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tetap dapat menggarap lahan pertanian meski memasuki musim kemarau. Pengairan lahan sekitar 40 hektare di kawasan jalur transmisi SUTET 500 kilovolt (kV) Cibatu-Deltamas kini didukung sistem pompa berbasis listrik.
Salah satu petani, Masum, mengatakan sebelumnya petani di Kelompok Tani Berkah Sakabeh mengandalkan pompa berbahan bakar minyak (BBM) untuk mengairi lahan. Kondisi tersebut membuat biaya operasional menjadi salah satu pengeluaran petani.

Ilustrasi petugas PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah saat melakukan pemeriksaan infrastruktur kelistrikan agar pasokan listrik optimal untuk mendukung program Electrifying Agriculture di Kabupaten/Kota Bekasi dan sekitarnya. (dok. PLN)
Perubahan dirasakan setelah PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah (UIT JBT) menghadirkan program Electrifying Agriculture (EA). Program tersebut mencakup sambungan listrik baru berkapasitas 10.600 volt ampere (VA) yang terintegrasi dengan pompa air irigasi dan instalasi kelistrikan.
"Dulu kami harus membeli BBM untuk menjalankan pompa air dan tetap bergantung pada musim. Sekarang air tersedia kapan saja karena menggunakan listrik. Biaya operasional jauh lebih hemat, pekerjaan lebih cepat, dan kami bisa menanam tiga kali dalam setahun. Pendapatan petani juga meningkat sekitar Rp12 juta setiap tahun. Perubahan ini sangat membantu kami dalam mengembangkan usaha tani," tutur Masum penuh semangat.
Dengan dukungan sistem pengairan tersebut, petani dapat meningkatkan intensitas tanam dari dua menjadi tiga kali dalam setahun.
Baca Juga :
PLN dan Pelindo Resmikan Onshore Power Supply 1 MVA di Tanjung Priok, Dukung Pelabuhan Ramah Lingkungan
Dukungan juga mencakup sarana produksi pertanian, antara lain dua unit traktor listrik, mesin perontok padi, mesin pemotong rumput listrik, dan saung petani yang dilengkapi panel listrik. Petani turut memperoleh bibit padi dan cabai serta pelatihan pengolahan hasil panen dan pemasaran produk.

Ilustrasi petani menggunakan alat perontok padi berbasis listrik. Elektrifikasi dalam pertanian ini membantu meningkatkan efisiensi proses kerja sekaligus mendorong produktivitas petani. (dok. PLN)
Di Kelompok Tani Berkah Sakabeh, penggunaan listrik tercatat mencapai 11.994 kilowatt hour (kWh) per tahun. Pemanfaatan listrik tersebut juga diikuti pengurangan penggunaan BBM sekitar 2.560 liter per tahun.
Direktur Retail dan Niaga PLN M. Fahrur Rozy mengatakan, pemanfaatan listrik di sektor pertanian menunjukkan bahwa energi dapat memberikan nilai tambah bagi aktivitas produktif masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
"Electrifying Agriculture merupakan salah satu upaya PLN untuk memperluas manfaat listrik bagi sektor produktif seperti pertanian dan juga mendukung program ketahanan pangan dari Pemerintah. Ketika akses energi mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan memperkuat pendapatan petani, maka listrik menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kami berharap model ini dapat direplikasi di lebih banyak wilayah yang memiliki potensi pengembangan pertanian," ujar Rozy.
Hingga Agustus 2026, jumlah pelanggan Electrifying Agriculture dan Electrifying Marine (EA-EM) PLN secara nasional mencapai 450.654 pelanggan. Total daya terpasang tercatat 5.646 megavolt ampere (MVA), dengan pemakaian listrik mencapai 4.970,98 gigawatt hour (GWh).
General Manager PLN UIT JBT Amiruddin mengatakan manfaat program tersebut diharapkan dapat terus berkembang dan mendukung kemandirian petani.
"Bagi kami, keberhasilan program ini bukan hanya tentang apa yang diberikan hari ini, tetapi bagaimana manfaatnya dapat terus tumbuh dan dirasakan oleh para petani ke depan. Karena itu, kami ingin memastikan dukungan yang diberikan mampu mendorong kemandirian, meningkatkan produktivitas, dan membuka peluang bagi petani untuk mengembangkan usaha pertaniannya," pungkas Amiruddin.