Ketua komisi XIII DPR RI, Willy Aditya. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi.
Willy Aditya Lega Pekerja Rumah Tangga Akhirnya Sah Diatur UU
Siti Yona Hukmana • 21 April 2026 16:09
Jakarta: Perjuangan panjang dan kolaboratif melindungi para pekerja rumah tangga di Indonesia akhirnya berbuah. DPR RI akhirnya mengetuk palu penetapan Undang-Undang (UU) Pelindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT) hari ini. Perjalanan yang ditempuh lebih dari 22 tahun untuk memberi tempat terhormat bagi pekerja rumah tangga akhirnya terwujud di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Ketua komisi XIII DPR RI, Willy Aditya menyampaikan apresiasi tinggi kepada pimpinan dan anggota badan legislasi DPR yang bersama pemerintah terus mengupayakan RUU PPRT segera menjadi Undang-Undang.
“UU PPRT ini adalah komitmen tinggi untuk memanusiakan manusia. Pekerja yang menjadi pendukung kerja produktif industrialis kini benar-benar dinilai pekerjaanya. Bukan hanya itu, mereka juga punya hak pelindungan yang sama dengan pekerja lainnya. Ini kerja luar biasa antara DPR, Pemerintah, dan Berbagai organisasi pekerjb yang patut di apresiasi tinggi," kata Willy dalam keterangannya, Selasa, 21 April 2026.
“Perdebatannya begitu panjang, namun akhirnya memperpanjang kasus-kasus pelanggaran HAM. Dari tahun ketahun perpektifnya terus bergeser dan diperbaiki. Komitmennya, barisan kasus harus dihentikan dengan adanya pengaturan pelindungan di dalam UU. RUU PPRT menjadi solusi tiga pihak, pelindungan dan pengakuan bagi pekerja, pemberi kerja, dan memberi manfaat bagi negara,” ujar Willy.

Ketua Komisi XIII DPR Willy Aditya (tengah, kedua dari kiri). Foto: Dok. Istimewa.
Politisi Partai NasDem ini menerangkan, perspektif sosio kultural yang diadopsi di dalam UU PPRT yang baru disahkan DPR ini adalah hal progresif dan memberi kekhasan bagi Indonesia. Menggabungkan cara berpikir industrialis yang formal ketat dengan cara kekeluargaan yang penuh dialog adalah terobosan penting.
“Kalau semata mengadopsi corak industrialis, PRT itu harus melalui berbagai mekanisme formal perekrutan, pelatihan, hingga penempatan dan pelaporan. Namun UU baru ini memberi ruang bagi praktek sosiologi khas Indonesia. Itu semua bisa bekerja melalui mekanisme kekeluargaan. Namun spirit dan praktik pelindungannya berada pada level yang sama,” ungkap Willy.
Willy menegaskan dengan adanya UU PPRT ini, maka Indonesia akan semakin di hormati di dalam pergaulan internasional. Pelindungan pekerja yang menjadi inti pengaturan UU ini akan menjadi penilaian tersendiri bagi negara lain yang juga banyak merekrut PRT dari Indonesia.
“Mulai hari ini pelindungan pekerja rumah tangga kita baik di dalam maupun di luar negeri akan berlaku sama. Standar minimum perlakuan yang harus disediakan oleh perekrut luar negeripun akan mengikuti minimal UU PPRT ini. Ini kemenangan kemanusiaan,” kata Willy.