Rusia Klaim Serangan Ukraina ke Kapal Sipil Ancam Ketahanan Pangan Global

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026. (Metrotvnews.com)

Rusia Klaim Serangan Ukraina ke Kapal Sipil Ancam Ketahanan Pangan Global

Muhammad Reyhansyah • 26 August 2026 17:36

Jakarta: Rusia mengklaim serangan Ukraina terhadap kapal-kapal sipil di Laut Azov dan Laut Hitam mengganggu ketahanan pangan dan energi negara-negara yang menjadi mitra dagangnya. 

Kapal-kapal tersebut disebut membawa komoditas seperti gandum, pupuk, minyak, dan gas dari pelabuhan Rusia bagian selatan.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov mengatakan gangguan terhadap pelayaran di kedua wilayah laut tersebut tidak hanya berdampak terhadap kepentingan Rusia, tetapi juga negara-negara lain yang bergantung pada pasokan komoditas pangan dan energi.

"Sebagian besar kapal-kapal ini berangkat dari pelabuhan di bagian selatan Rusia dan membawa gandum, pupuk, serta minyak. Artinya, hal ini sangat penting bagi mitra dagang kami dan sangat penting untuk memastikan ketahanan pangan dan energi negara-negara tersebut," kata Dubes Tolchenov dalam keterangan pers di kediamannya di Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026.

Menurut Dubes Tolchenov, serangan terhadap kapal-kapal sipil tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dia menyebut pada 2023 dan 2024 masing-masing hanya terdapat satu kapal yang diserang, sedangkan pada 2025 jumlahnya mencapai 12 kapal.

Sementara pada 2026, Dubes Tolchenov mengklaim lebih dari 200 kapal yang bekerja untuk kepentingan Rusia dan mitra dagangnya telah menjadi sasaran serangan.

"Lebih dari 200 kapal telah beroperasi untuk kepentingan Federasi Rusia dan mitra dagang kami. Dari 200 kapal tersebut, setengahnya mengibarkan bendera asing, bukan bendera Rusia," ujarnya.

Dubes Tolchenov juga mengklaim sejumlah kapal tenggelam akibat serangan tersebut dan sekitar 20 orang meninggal dunia.

Ia menilai serangan terhadap kapal-kapal tersebut tidak hanya merugikan Rusia. Menurutnya, gangguan terhadap jalur pelayaran dan pengiriman komoditas juga berdampak terhadap negara-negara berkembang yang membutuhkan gandum, pupuk, minyak, dan gas.

"Jadi, ini bukan hanya soal kepentingan Rusia. Mereka juga berhadapan dengan kepentingan negara-negara berkembang yang membutuhkan gandum, pupuk, minyak dan gas," kata Dubes Tolchenov.

Dubes Tolchenov juga menyinggung serangan Rusia terhadap pelabuhan dan sejumlah fasilitas militer Ukraina. Dia menyebut tindakan tersebut merupakan respons atas serangan Ukraina terhadap Rusia.

Serangan Kapal Meningkat

Sementara itu, Pasukan Sistem Nirawak Ukraina (USF) sebelumnya mengklaim telah menyerang 218 kapal yang disebut bagian dari "shadow fleet" Rusia di Laut Azov dan Laut Hitam. 

Mengutip Kyiv Post, Komandan USF Robert "Magyar" Brovdi mengatakan 12 kapal tambahan menjadi sasaran pada pekan pertama Agustus, sehingga total kapal yang ditargetkan mencapai 218 sejak operasi maritim tersebut dimulai pada 6 Juli.

Menurut Brovdi, sebanyak 134 kapal diserang di Laut Azov dan 84 lainnya di Laut Hitam. Serangan tersebut merupakan bagian dari Operation MoLoChKa, kampanye yang dijalankan USF bersama Dinas Keamanan Ukraina (SBU) untuk mengganggu logistik maritim dan pengiriman bahan bakar Rusia.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) sebelumnya juga menyatakan kekhawatiran atas meningkatnya serangan terhadap kapal dagang sipil di Laut Azov dan Laut Hitam. 

Melalui laman resminya, IMO memperingatkan bahwa serangan terhadap pelayaran komersial dapat membahayakan pelaut, mengganggu keselamatan navigasi, serta mengganggu rantai pasok global. 

Isu keamanan pelayaran juga berkaitan dengan upaya menjaga jalur perdagangan pangan di kawasan tersebut. Pada Agustus, Ukraina disebut telah menawarkan kesepakatan kepada Rusia untuk menghentikan serangan terhadap kapal sipil di Laut Hitam, tetapi belum tercapai kesepakatan mengenai penghentian serangan tersebut.

Baca juga:  Dubes Rusia Beri Sinyal Pertukaran Tahanan Baru dengan Ukraina dalam Waktu Dekat

(Willy Haryono)