Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji (kedua dari kanan) saat menjadi pembicara dalam Halaqah Pemikiran Pesantren di arena Muktamar ke-35 NU, Masjid Gedang Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Foto: Dok. Istimewa.
Halaqah Muktamar NU Tekankan Pentingnya Penghayatan Qanun Asasi
Fachri Audhia Hafiez • 29 August 2026 10:14
Jombang: Pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai dasar Nahdlatul Ulama (NU) dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga soliditas organisasi. Penguatan fondasi pemikiran ini dinilai krusial agar seluruh warga Nahdliyyin senantiasa mengedepankan persatuan dalam setiap gerak langkahnya.
"Jika para pengurus NU menghayati (kitab) Qanun Asasi ini dengan sungguh-sungguh, Insya Allah tidak akan ada cerita NU yang saling bertengkar atau gegeran. Yang ada adalah NU yang terus bergerak," kata Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji saat menjadi pembicara dalam Halaqah Pemikiran Pesantren di arena Muktamar ke-35 NU, Masjid Gedang Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dikutip Sabtu, 29 Agustus 2026.
Baca Juga :
Sarmuji menjelaskan bahwa pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari, menyusun mukadimah Qanun Asasi dengan mengutip Surah Al-Ahzab ayat 45–46. Penempatan ayat tersebut mempertegas peran NU untuk senantiasa membawa kabar gembira, menebar kebaikan, serta menjadi pelita penerang di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Qanun Asasi bukan sekadar aturan dasar, melainkan raison d'être—alasan berdirinya Nahdlatul Ulama. Ia merupakan landasan berpikir sekaligus gambaran bagaimana NU seharusnya berkhidmat," kata Sarmuji.
Dalam forum yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Pesantren (PSP) tersebut, Sarmuji juga membagikan kenangan emosionalnya bersama sang ibunda yang aktif di Muslimat NU. Pengalaman masa kecil yang kental dengan tradisi keagamaan pesantren menjadi dorongan baginya untuk terus mengapresiasi ruang diskusi kultural semacam ini.
"Saya ingat betul, almarhumah sering mengucapkan, Alhamdu utawi sekabehane puji, lillahi iku kagungane Allah, Rabbil 'alamina kang pengerane alam kabeh," kenang Sarmuji menirukan ajaran ibunya dari kitab Sullam Taufiq.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji (kiri) saat menjadi pembicara dalam Halaqah Pemikiran Pesantren di arena Muktamar ke-35 NU, Masjid Gedang Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Foto: Dok. Istimewa.
Ia menilai forum diskusi seperti halaqah memberikan ruang berharga bagi berbagai kalangan, termasuk tokoh politik. Hal ini guna kembali mengingat pesan persatuan serta semangat berjemaah yang diwariskan para pendiri NU.
"Entah nanti akan diterapkan oleh struktur resmi atau tidak, yang penting kita bicarakan bersama sebagai pengingat," kata Sarmuji.
Halaqah yang mengusung tema "Meneladani dan Memaknai Kembali Qonun Asasi Nahdlatul Ulama" ini turut menghadirkan Pengasuh Ribath Al Utsmani PPBU Tambakberas KH Fatchulloh Malik dan KH Ubaidillah dari Bogor. Puluhan peserta dan santri dari berbagai daerah seperti Surabaya, Makassar, Pemalang, hingga Blitar tampak antusias mengikuti jalannya diskusi hingga selesai.