Seni Cadas Purba Berusia 67.800 Tahun Ditemukan di Pulau Muna

Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN Adhi Agus Oktaviana saat melakukan riset penemuan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia 67.800 tahun di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. ANTARA/HO-BRIN

Seni Cadas Purba Berusia 67.800 Tahun Ditemukan di Pulau Muna

Lukman Diah Sari • 22 January 2026 13:49

Jakarta: Tim peneliti gabungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University dan Southern Cross University, Australia, mengungkap penemuan seni cadas purba berupa cap tangan manusia berusia minimum 67.800 tahun di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Oktaviana, mengatakan usia seni cadas di Pulau Muna ini lebih tua sekitar 16.600 tahun dibandingkan seni cadas tertua yang sebelumnya ditemukan di kawasan Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan.

“Seni cadas ini juga sekitar 1.100 tahun lebih tua dibandingkan cap tangan dari Spanyol yang selama ini dikaitkan dengan Neanderthal dan dianggap sebagai seni gua tertua di dunia,” ujar Oktaviana dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026, melansir Antara.


Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN Adhi Agus Oktaviana saat melakukan riset penemuan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia 67.800 tahun di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. ANTARA/HO-BRIN

Oktaviana menjelaskan, penentuan usia dilakukan menggunakan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua tersebut. Hasil analisis menunjukkan usia lapisan kalsit mencapai 71,6 ± 3,8 ribu tahun. Dengan demikian, cap tangan di Leang Metanduno memiliki usia minimum sekitar 67,8 ribu tahun.

Menurut dia, penemuan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat penting dalam sejarah awal seni simbolik manusia modern sekaligus bukti awal penjelajahan laut purba.

“Temuan ini merupakan seni cadas tertua yang pernah tertanggal secara andal. Ini juga menjadi bukti langsung bahwa manusia telah menyeberangi laut secara sengaja sejak hampir 70.000 tahun lalu,” jelas Oktaviana.

Ia menambahkan, sangat mungkin pembuat lukisan tersebut merupakan bagian dari populasi manusia modern awal yang kemudian menyebar lebih jauh ke timur hingga mencapai Australia. Penemuan ini juga memperkuat model kronologi panjang yang menyatakan manusia telah mencapai daratan Sahul (Australia–Papua) setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu.

“Penelitian ini memberikan bukti langsung tertua keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul, yang melibatkan penjelajahan laut antara Kalimantan dan Papua, wilayah yang hingga kini masih relatif minim penelitian arkeologis,” ujar Oktaviana.

Sementara itu, Periset Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE) Griffith University, Adam Brumm, mengungkapkan cap tangan di Pulau Muna memiliki ciri unik secara global. Modifikasi bentuk jari yang menyempit menyerupai cakar atau narrow finger mencerminkan ekspresi simbolik yang kompleks dan matang.

“Bisa jadi seni ini melambangkan gagasan tentang hubungan erat antara manusia dan hewan. Konsep tersebut juga terlihat dalam seni lukis paling awal di Sulawesi, termasuk adegan yang kami tafsirkan sebagai makhluk setengah manusia dan setengah hewan,” kata Adam.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)