Pengeboman Candi Borobudur: 9 Ledakan pada 21 Januari 1985

Candi Borobudur. (MI/Ramdani)

Pengeboman Candi Borobudur: 9 Ledakan pada 21 Januari 1985

Lukman Diah Sari • 21 January 2026 07:03

Magelang: Tepat 40 tahun lalu, Pada 21 Januari 1985, dini hari, Indonesia digegerkan dengan rangkaian ledakan yang merusak Candi Borobudur yang merupakan warisan budaya dunia. Sembilan stupa di teras atas candi ambrol, dua arca hancur, dan dua lainnya rusak berat. Peristiwa ini menjadi salah satu aksi teror terbesar pada era Orde Baru.

Ledakan terjadi beruntun sejak pukul 01.30 hingga 03.30 WIB. Getarannya dirasakan warga sekitar. Kepala Satpam Borobudur saat itu, Basjuni Supriyadi, menuturkan kaca rumah bergetar hebat sebelum ia menerima laporan bahwa candi dibom.


Candi Borobudur. Foto: Dok. Istimewa.

Dari 13 bom yang dipasang pelaku, sembilan meledak, dua berhasil dijinakkan, dan dua lainnya baru ditemukan pada 15 Februari 1985. Adapun lokasi bom ditaruh adalah di teras atas empat bom, teras II ada lima bom, dan teras III sebanyak empat bom.

Sementara itu, ada satu buah bom macet dan dibawa pulang pelaku. Total 13 Bom diletakkan di stupa-stupa Candi Borobudur dengan waktu ledak sekira lima jam, setelah bom tersebut diletakan.

Latar Belakang Pengeboman Candi Borobudur

Aksi pengeboman berkelindan dengan situasi politik pasca-Insiden Tanjung Priok 1984. Sejumlah kelompok radikal menjadikan teror sebagai bentuk balas dendam terhadap pemerintah. Setelah sebelumnya meledakkan gereja di Malang, Candi Borobudur dipilih sebagai sasaran berikutnya karena dianggap simbol “berhala” dan proyek pemerintah saat itu. 

Pelaku utama, Ibrahim Jawad dan Achmad Muladawila, merakit bahan peledak yang diperoleh melalui jaringan Abdulkadir Braja. Mereka tiba di Borobudur pada malam 20 Januari 1985 dan menyusup lewat jalur karyawan. Sebanyak 13 bom ditempatkan di stupa-stupa pada tiga teras candi dengan pengatur waktu sekitar lima jam. Bahan peledak yang digunakan menurut beberapa sumber adalah tipe PE 808/Dahana yang notabene detonator buatan China. Peledak ini menggunakan sumber baterai untuk tenaga pemicunya.

Usai memasang bom, keduanya melarikan diri menuju Semarang dan Surabaya. Kabar ledakan baru mereka ketahui dari siaran TVRI dan media cetak keesokan harinya.

Pengungkapan Kasus

Penyelidikan langsung dilakukan. Titik terang muncul setelah ledakan tak sengaja di Bus Pemudi Ekspres, Banyuwangi, Jawa Timur, yang menewaskan tujuh orang, pada 16 Maret 1985. 

Ternyata, sumber ledakan berasal dari bom yang dibawa Abdulkadir dan tiga temannya. Bom itu rencananya bakal diledakkan di Bali. Namun,  keburu meledak. Sebanyak tujuh orang, termasuk tiga teman Abdulkadir tewas akibat bom yang dibawanya. 

Sementara itu, Abdulkadir sedang beruntung lantaran berada di luar bus. Abdulkadir yang gugup saat melihat bus meledak, bergegas hendak kabur. Namun, gerak-geriknya dicurigai masyarakat sekitar. Sehingga Abdulkadir langsung ditangkap dan dibawa ke petugas keamanan.  Pada April hingga Mei 1985, satu per satu tersangka diringkus. Pengadilan kemudian menjatuhkan vonis 20 tahun penjara kepada Achmad Muladawila dan Abdulkadir Ali Al-Habsyi.

Abdulkadir Braja divonis 13 tahun, sementara tokoh utama Husein Ali Al-Habsyi dihukum seumur hidup sebelum mendapat grasi pada 1999. Ibrahim Jawad dilaporkan melarikan diri ke luar negeri.

Dampak dan Pemulihan

Kerusakan fisik dari peledakan Candi Borobudur mencakup 2.749 blok batu stupa yang runtuh. Sekitar 25 persen material masih bisa dipakai kembali.

Biaya restorasi mencapai Rp16,5 juta dari dana Proyek Konservasi Borobudur 1984/1985. Berkat kerja cepat para arkeolog, pemugaran rampung hanya dalam tiga bulan, lebih singkat dari perkiraan awal enam bulan.

Sumber
tempo.co: Kilas Balik Teror Bom Candi Borobudur Pada 1985
tirto.id: Bom Borobudur: Dua Habib Ditangkap, Dalangnya Tak Pernah Terungkap
intisari.grid.id: Peristiwa 21 Januari 1985, Ketika Candi Borobudur Dibom Oleh Kelompok Ekstremis, Benarkah Motifnya Balas Dendam? 
journal.unnes.ac.id: Sejarah Pengeboman Candi Borobudur Tahun 1985: Tinjauan Sejarah Sosial Politik di Indonesia

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)