Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar. (Anadolu Agency)
Menlu Israel Gideon Saar Kunjungi Somaliland, Picu Kemarahan Somalia
Willy Haryono • 7 January 2026 07:08
Hargeisa: Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar melakukan kunjungan ke Somaliland pada Selasa kemarin, sebuah langkah yang memicu kemarahan Somalia. Kunjungan ini dilakukan hanya 10 hari setelah Israel secara resmi mengakui Somaliland yang memproklamasikan diri sebagai republik dan negara merdeka serta berdaulat.
Israel saat ini menjadi satu-satunya negara yang secara formal mengakui pemisahan Somaliland dari Somalia. Pemerintah Somalia menyebut pengakuan tersebut sebagai “langkah ilegal” dan menilai kunjungan Saar sebagai “pelanggaran serius” terhadap kedaulatan negaranya.
Dalam pernyataan di media sosial X yang dikutip Asharq al-Awsat, Rabu, 7 Januari 2026, Saar mengatakan dirinya menggelar pembicaraan “mencakup seluruh spektrum hubungan” dengan Presiden Somaliland Abdirahman Mohammed Abdullah di ibu kota Hargeisa. Ia menegaskan Israel bertekad untuk secara aktif mendorong dan memperluas hubungan bilateral dengan Somaliland.
Kementerian Informasi Somaliland sebelumnya menyatakan Saar memimpin delegasi tingkat tinggi, meski tidak merinci agenda kunjungan tersebut. Seorang pejabat senior Somaliland menyebut pertemuan itu diharapkan membahas penguatan kerja sama bilateral.
Saar juga mengungkapkan bahwa Presiden Abdullah telah menerima undangan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk melakukan kunjungan resmi ke Israel.
Somalia Mengecam, Isu Abraham Accords Mencuat
Kementerian Luar Negeri Somalia menegaskan kunjungan tersebut merupakan bentuk “campur tangan yang tidak dapat diterima” dalam urusan dalam negeri Somalia. Sebelumnya, Presiden Somaliland menyatakan wilayahnya akan bergabung dengan Abraham Accords, kesepakatan yang dimediasi Washington pada 2020 dan membuka normalisasi hubungan antara Israel dengan sejumlah negara Teluk.Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri Somaliland menyebut Presiden Abdullah menyampaikan terima kasih kepada Israel dan warganya atas pengakuan tersebut, yang dinilai akan berdampak besar terhadap perekonomian dan pembangunan Somaliland.
Somaliland, yang pernah menjadi protektorat Inggris, selama bertahun-tahun berupaya memperoleh pengakuan internasional sebagai negara merdeka. Meski belum diakui secara luas, wilayah ini telah menjalin sejumlah perjanjian bilateral terkait investasi dan koordinasi keamanan dengan berbagai pemerintah.
Pengakuan Israel terhadap Somaliland muncul di tengah memburuknya hubungan Israel dengan sejumlah mitra dekatnya selama dua tahun terakhir, seiring perang di Gaza dan kebijakan Israel di Tepi Barat. Netanyahu menyatakan Israel akan mendorong kerja sama di bidang pertanian, kesehatan, teknologi, dan ekonomi. Saar menambahkan bahwa para profesional sektor air dari Somaliland dijadwalkan berkunjung ke Israel dalam beberapa bulan mendatang untuk mengikuti pelatihan.
Lokasi Strategis dan Kekhawatiran Keamanan
Somaliland terletak di barat laut Somalia, berbatasan langsung dengan Ethiopia dan Djibouti, serta berada di seberang Teluk Aden dari Yaman. Dari wilayah Yaman, kelompok Houthi yang didukung Iran telah meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023.Analis Somalia dari International Crisis Group menilai keterlibatan Israel kemungkinan besar didorong oleh posisi strategis Somaliland, meskipun koordinasi keamanan dinilai masih dapat dilakukan tanpa kehadiran instalasi militer Israel di wilayah tersebut.
Saar menegaskan pengakuan timbal balik dan pembentukan hubungan diplomatik tidak ditujukan kepada pihak mana pun. Somaliland juga membantah bahwa pengakuan Israel akan membuka jalan bagi pendirian pangkalan militer Israel atau relokasi warga Palestina dari Gaza, di tengah wacana migrasi sukarela yang pernah disampaikan pejabat Israel.
Baca juga: Erdogan Kecam Pengakuan Israel atas Somaliland, Tidak Sah dan Tidak Bisa Diterima