Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto: Anadolu
Sindir Kegagalan Perundingan, Menlu Iran: Tidak Ada Pelajaran yang Dipetik AS!
Dimas Chairullah • 13 April 2026 14:54
Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melontarkan kritik tajam menyusul runtuhnya perundingan tingkat tinggi dengan Amerika Serikat (AS) di Islamabad, Pakistan.
Ia menyebut sikap "maksimalisme, perubahan target, dan blokade" dari pihak AS telah menggagalkan apa yang nyaris disepakati sebagai "Nota Kesepahaman Islamabad."
Melansir laporan Press TV, pembicaraan bersejarah yang berlangsung secara intensif selama 21 jam tersebut berakhir buntu. Padahal, ini merupakan negosiasi tingkat tinggi tatap muka pertama antara Teheran dan Washington sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu, sekaligus yang pertama dalam 47 tahun terakhir.
"Dalam pembicaraan intensif di tingkat tertinggi dalam 47 tahun, Iran terlibat dengan AS dengan itikad baik untuk mengakhiri perang," tulis Menlu Araghchi di media sosial, seperti dikutip dari Press TV, Senin, 13 April 2026.
"Namun, ketika hanya beberapa inci lagi dari 'MoU Islamabad', kami malah menghadapi maksimalisme, perubahan target, dan blokade," sesalnya.
Sang menteri kemudian menyindir keras sikap Washington yang dinilai tidak belajar dari sejarah panjang perseteruan kedua negara. "Tidak ada pelajaran yang dipetik," tegasnya, menyiratkan bahwa AS mengulangi kesalahan dari puluhan tahun konfrontasi yang gagal dengan Iran.
Diplomat senior tersebut menutup pernyataannya dengan sebuah peringatan lugas. "Niat baik melahirkan niat baik. Permusuhan melahirkan permusuhan," tulisnya.
Menurut laporan Press TV, pernyataan itu menegaskan posisi Iran yang merasa telah menunjukkan fleksibilitas dan keterlibatan konstruktif, namun gagal mendapat balasan sepadan dari Washington.
Negosiasi di ibu kota Pakistan itu sejatinya berfokus pada sejumlah isu krusial, mulai dari penyelesaian ketegangan maritim di Selat Hormuz, tuntutan pencabutan sanksi, hingga program nuklir damai Iran.
Usai pembicaraan, Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin delegasi Amerika, mengklaim bahwa kini bola ada di tangan Iran. Ia mendesak Teheran untuk menerima apa yang disebutnya sebagai tawaran "terakhir dan terbaik" dari AS.
Namun, para pejabat Iran menolak keras narasi tersebut. Teheran menuduh Washington terus memaksakan tuntutan yang berlebihan dan gagal menunjukkan fleksibilitas yang dibutuhkan untuk mencapai titik temu kesepakatan.
Kegagalan perundingan ini juga diperparah oleh dinamika di lapangan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, selaku mediator, sebelumnya mengumumkan bahwa kesepakatan gencatan senjata Iran-AS seharusnya juga berlaku untuk Lebanon. Sayangnya, serangan Israel di Lebanon nyatanya terus berlanjut dan menewaskan puluhan warga sipil, yang secara langsung merusak kepercayaan Teheran terhadap komitmen Washington.
Sebagai latar belakang, AS dan Israel melancarkan perang agresi terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan mematikan tersebut menewaskan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei serta menyasar berbagai infrastruktur vital seperti fasilitas nuklir, sekolah, dan rumah sakit.
Sebagai tindak balasan, angkatan bersenjata Iran telah merespons dengan meluncurkan 100 gelombang serangan ke berbagai target musuh di bawah bendera sandi militer Operasi Janji Sejati 4.