Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. Foto: tangkapan layar YouTube Metro TV.
Soroti Defisit Transaksi Berjalan, Destry Dorong Penguatan Ekspor Indonesia
Husen Miftahudin • 26 August 2026 18:23
Jakarta: Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyoroti tantangan peningkatan ekspor setelah transaksi berjalan (current account) kembali mencatat defisit pada kuartal II-2026. Menurut dia, penguatan ekspor menjadi salah satu pekerjaan rumah untuk memperkuat sektor eksternal Indonesia.
"Menjadi PR tentunya bagi kita semua, pemerintah, Bank Indonesia, dan juga seluruh masyarakat kita adalah bagaimana agar ekspor kita bisa kita tingkatkan," kata Destry dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 26 Agustus 2026.
Defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2026 tercatat sebesar USD12,5 miliar atau 3,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut meningkat dibandingkan defisit pada kuartal I-2026 sebesar USD3,6 miliar atau satu persen terhadap PDB.
Destry menjelaskan, neraca pembayaran masih menghadapi tekanan dari defisit neraca jasa dan pendapatan primer. Kondisi tersebut turut mendorong transaksi berjalan kembali mengalami defisit pada kuartal II. Neraca perdagangan juga masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan ekspor barang.
"Jadi akhirnya ini menyebabkan yang kita alami sekarang ini di triwulan II, current account kita defisit, kembali ke defisit karena memang di trade balance kita mempunyai tantangan untuk ekspor barang ini yang perlu kita genjot ke depannya," jelas Destry.
Tertolong investasi
Menurut Destry, defisit transaksi berjalan selama ini dapat ditutup oleh neraca finansial, terutama melalui investasi langsung atau foreign direct investment (FDI) yang relatif stabil. Namun, investasi portofolio masih menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.
Sejalan dengan kondisi tersebut, BI mengarahkan kebijakan pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kebijakan tersebut ditujukan untuk memperkuat transmisi suku bunga sehingga tingkat bunga di pasar dapat bergerak lebih rendah.
Destry menyebut suku bunga SRBI mulai menurun. Sementara itu, outstanding SRBI juga turun dari level tertinggi yang mendekati Rp1.100 triliun menjadi sekitar Rp1.050 triliun.
"Ini bertahap kami turunkan untuk menambah likuiditas dan supaya suku bunga di market itu lebih bisa terkendali dan align juga dengan suku bunga overnight kita," jelas dia.
(Ilustrasi aktivitas ekspor-impor. Foto: dok Metrotvnews.com)
Ketahanan eksternal jadi kunci stabilitas rupiah
Destry menilai penguatan ketahanan eksternal menjadi salah satu tantangan dalam menjaga nilai tukar rupiah dalam jangka panjang. Sementara itu, pergerakan rupiah dalam jangka pendek turut dipengaruhi sentimen pasar.
"Rupiah itu memang sangat dipengaruhi faktor yang jangka panjang, dan ini lebih fundamental. Tapi juga ada faktor yang jangka pendek, dan ini lebih sentimen," kata Destry.
Berbagai sentimen, termasuk kondisi global, dapat memengaruhi pergerakan rupiah. Ketika sentimen pasar membaik, rupiah dapat menguat dalam waktu relatif cepat. Destry memastikan BI akan memanfaatkan momentum tersebut dan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Diketahui, Destry saat ini menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI dan menjadi calon tunggal Gubernur BI yang diajukan Presiden Prabowo Subianto melalui Surat Presiden (Surpres) kepada DPR RI.
Ia menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI secara sukarela dengan alasan pribadi pada 25 Juli 2026.