Pembukaan Penyeberangan Rafah Jadi Ujian Gencatan Senjata Israel–Hamas

Titik penyeberangan Rafah yang memisahkan antara Mesir dan Gaza. (Anadolu Agency)

Pembukaan Penyeberangan Rafah Jadi Ujian Gencatan Senjata Israel–Hamas

Muhammad Reyhansyah • 2 February 2026 17:04

Gaza: Titik Penyeberangan Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir dijadwalkan kembali dibuka bagi pejalan kaki mulai Senin, 2 Februari 2026. Pembukaan ini dilakukan setelah penyeberangan tersebut sebagian besar ditutup hampir dua tahun sejak pasukan Israel mengambil alih sisi Palestina.

Pembukaan kembali Rafah berlangsung di tengah gencatan senjata dan menjadi bagian penting dari fase kedua rencana perdamaian Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk wilayah Palestina.

Langkah ini selama ini didesak oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbagai organisasi kemanusiaan, mengingat peran Rafah yang krusial bagi mobilitas warga serta masuknya bantuan ke Gaza. Mengutip Asharq Al-Awsat, Senin, 2 Februari 2026, berikut sejumlah poin penting terkait pembukaan perlintasan tersebut.

Akses Vital bagi Gaza

Badan Kementerian Pertahanan Israel yang mengoordinasikan urusan sipil Palestina, COGAT, menyatakan perlintasan Rafah akan dibuka untuk pergerakan “penduduk ke dua arah”. Foto yang dirilis Agence France-Presse (AFP) menunjukkan ambulans telah berbaris di sisi Mesir, bersiap mengevakuasi warga untuk keperluan medis, yang diperkirakan menjadi kelompok pertama yang diizinkan keluar.

Perlintasan Rafah kerap disebut sebagai “urat nadi” Gaza karena merupakan satu-satunya pintu perbatasan wilayah tersebut yang tidak melalui Israel.

Lokasinya kini berada di area yang dikuasai pasukan Israel setelah penarikan mereka ke belakang garis yang dikenal sebagai “Yellow Line”, sesuai ketentuan gencatan senjata.

Dalam jangka panjang, Rafah menjadi pintu keluar utama bagi warga Palestina yang memperoleh izin meninggalkan Gaza, wilayah yang berada di bawah blokade Israel sejak 2007. Pada periode 2005–2007, perlintasan ini sempat dikelola Otoritas Palestina, sebelum menjadi simbol kendali Hamas atas Jalur Gaza.

Di Bawah Kendali Keamanan Israel

Pada 7 Mei 2024, militer Israel mengambil alih sisi Palestina dari perlintasan Rafah dengan alasan lokasi tersebut “digunakan untuk tujuan terorisme”. Sejak itu, sebagian besar jalur akses ditutup, termasuk yang digunakan oleh PBB.

Rafah sempat dibuka secara terbatas untuk evakuasi medis selama gencatan senjata singkat antara Israel dan Hamas pada Januari tahun lalu. Israel menyatakan akan melakukan pemeriksaan keamanan terhadap individu yang diizinkan keluar-masuk Gaza. Proses tersebut direncanakan berada di bawah badan teknokratis Palestina yang beranggotakan 15 orang.

Komite Nasional untuk Administrasi Gaza juga dilaporkan masih menunggu izin untuk memasuki wilayah tersebut. Hingga kini, belum ada kesepakatan mengenai jumlah warga Palestina yang diizinkan melintas. Sumber menyebut Mesir berencana menerima seluruh warga Palestina yang telah mendapatkan persetujuan Israel.

Kedutaan Palestina di Kairo menyatakan warga yang kembali ke Gaza hanya diperbolehkan membawa barang bawaan terbatas, tanpa benda logam atau elektronik, serta obat-obatan dalam jumlah tertentu.

Peran Uni Eropa dan Otoritas Palestina

COGAT menyebut “fase uji coba awal” telah dimulai pada Minggu, dalam koordinasi dengan European Union Border Assistance Mission (EUBAM), Mesir, dan para pemangku kepentingan terkait. Perlintasan penuh bagi penduduk ke dua arah akan dimulai setelah tahap persiapan rampung.

Sisi Palestina dari Rafah direncanakan dikelola oleh EUBAM bersama delegasi Otoritas Palestina. Uni Eropa membentuk misi sipil tersebut pada 2005 untuk memantau Rafah, namun kegiatannya dihentikan dua tahun kemudian setelah Hamas mengambil alih Gaza. Misi itu sempat dikerahkan kembali pada Januari tahun lalu, sebelum kembali ditangguhkan pada Maret.

Sumber di perbatasan menyebut kepada AFP bahwa EUBAM dan delegasi Otoritas Palestina telah tiba di lokasi perlintasan.

Masuknya Bantuan Kemanusiaan

Rencana perdamaian Trump yang menjadi dasar gencatan senjata Israel–Hamas mencakup pembukaan Rafah serta masuknya sekitar 600 truk bantuan per hari. Namun, kelompok kemanusiaan menilai implementasi rencana tersebut masih tertunda dan bantuan yang masuk belum mencukupi kebutuhan mendesak.

Bantuan internasional umumnya masuk dari Mesir melalui Rafah sebelum dialihkan ke perlintasan Kerem Shalom Crossing yang dikelola Israel. Perlintasan ini saat ini memproses sekitar tiga perempat bantuan ke Gaza, dengan pemeriksaan keamanan ketat sebelum muatan diizinkan masuk.

Dua sumber bantuan di sisi Mesir mengatakan kepada AFP bahwa Israel masih menghambat distribusi dengan mengembalikan “puluhan” truk tanpa dibongkar. Jalur akses lain sempat beroperasi sebelumnya, namun hingga kini belum ada kepastian apakah jalur-jalur tersebut akan kembali dibuka.

Baca juga:  Perbatasan Rafah Mulai Dibuka, Harapan Baru bagi Pasien Medis di Gaza

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)