Truk bantuan kemanusiaan berada di titik perlintasan Rafah. (Anadolu Agency)
Perbatasan Rafah Mulai Dibuka, Harapan Baru bagi Pasien Medis di Gaza
Willy Haryono • 2 February 2026 12:06
Gaza: Pintu perbatasan utama Jalur Gaza di Penyeberangan Rafah dijadwalkan kembali dibuka pada Senin, 2 Februari 2026, bagi penduduk Palestina. Pembukaan ini menjadi momen krusial setelah perlintasan tersebut sebagian besar ditutup selama hampir dua tahun sejak pecahnya konflik.
Unit militer Israel yang mengoordinasikan bantuan kemanusiaan, COGAT, menyatakan perbatasan akan dibuka dua arah khusus bagi pejalan kaki. Operasional perlintasan ini akan dikoordinasikan bersama Mesir dan Uni Eropa.
Pada Minggu, uji coba operasional telah dilakukan untuk memastikan kesiapan sebelum pergerakan warga dimulai secara penuh. Pembukaan kembali perbatasan ini diprioritaskan bagi warga Palestina yang membutuhkan perawatan medis di luar negeri serta mereka yang ingin kembali ke Gaza setelah mengungsi pada awal perang.
Dilansir dari AsiaOne, Kementerian Kesehatan Palestina mencatat sekitar 20.000 pasien saat ini menunggu giliran untuk meninggalkan Gaza guna mendapatkan pengobatan yang memadai. Sementara itu, pejabat pertahanan Israel menyebut kapasitas perlintasan diperkirakan berkisar antara 150 hingga 200 orang per hari untuk kedua arah.
Pada tahap awal, sekitar 200 orang diproyeksikan menyeberang ke Mesir setiap hari, sementara sekitar 50 orang diperkirakan kembali ke Gaza. Seluruh daftar pelintas disiapkan oleh otoritas Mesir dan telah mendapatkan persetujuan dari pihak Israel.
Reaktivasi perbatasan Rafah merupakan syarat utama fase pertama rencana perdamaian Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang Israel–Hamas. Meski gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober lalu, situasi di lapangan dilaporkan masih volatil dengan adanya serangan udara dan bentrokan sporadis yang menelan korban jiwa di kedua belah pihak.
Fase berikutnya dari rencana tersebut memproyeksikan penyerahan tata kelola Gaza kepada teknokrat Palestina, pelucutan senjata Hamas, serta penarikan pasukan Israel yang akan digantikan oleh pasukan internasional untuk menjaga perdamaian dan memulai rekonstruksi Gaza.
Namun, hingga kini proses tersebut masih menghadapi hambatan besar karena Hamas menolak pelucutan senjata dan Israel tetap mengancam akan menggunakan kekuatan militer jika negosiasi damai gagal. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Rafah Kembali Dibuka, Warga Gaza Bisa Keluar Masuk Secara Terbatas