Gus Kikin Targetkan Susunan Pengurus PBNU Segera Rampung

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Abdul Hakim Mahfudz. Foto: Metro TV/Muhammad Adyatma Damardjati.

Gus Kikin Targetkan Susunan Pengurus PBNU Segera Rampung

Muhammad Adyatma Damardjati • 5 September 2026 15:03

Jakarta: Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin tengah mematangkan susunan kepengurusan periode 2026–2031. Dia memastikan struktur organisasi akan dirampungkan dalam waktu dekat.

"Kita sudah punya rancangan-rancangan, insyaallah nanti segera selesai," kata Gus Kikin di Jakarta, Sabtu, 5 September 2026.

Gus Kikin mengatakan, saat ini sudah ada beberapa orang yang dimasukkan dalam kepengurusan PBNU di bawah kepemimpinannya. Namun, ia belum mau membocorkan nama-namanya.

"Ini baru satu dua orang, dan memang belum sempat. Ini karena baru hari kelima," kata Gus Kikin.

Selain itu, ia juga akan menghidupkan dan mengaplikasikan kembali 'Qanun Asasi', yakni dokumen dasar hukum NU yang diinisiasi oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari pada tahun 1926. Menurut dia, dokumen itu sudah dibagikan saat Muktamar ke-35 PBNU, sebelum nantinya dipelajari dan diaplikasikan bersama.

"Sudah saya bagikan itu namanya Qanun Asasi. Tiga tahun yang lalu bab-bab yang lain ditemukan, kemudian kita susun menjadi buku Qanun Asasi. Kemarin kita bagikan pada saat muktamar, nanti dibaca bareng-bareng baru kita aplikasikan," ujar Gus Kikin.


Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Abdul Hakim Mahfudz. Foto: Metro TV/Muhammad Adyatma Damardjati. 

Dokumen historis yang sempat tidak digunakan secara utuh sejak NU berafiliasi menjadi partai politik pada 1952 tersebut dinilai masih sangat selaras dengan perkembangan zaman. Gus Kikin menegaskan bahwa pedoman tersebut berfokus pada nilai inklusivitas dan pembangunan kualitas kemanusiaan universal.

"NU itu sangat inklusif, lebih kepada bagaimana kita membangun kebersamaan. Apa yang dituliskan oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari itu kalau diamalkan dengan baik dan benar itu menjadi kemanusiaan. Itu relevan sampai kapan pun dan berlakunya universal," pungkas Gus Kikin.

(Gabriella Thesa Widiari)