IHSG Turun 1,33%, Tensi AS-Iran Jadi Sentimen Utama

Ilustrasi. Foto: dok MI.

IHSG Turun 1,33%, Tensi AS-Iran Jadi Sentimen Utama

Ade Hapsari Lestarini • 10 September 2026 16:58

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 88,86 poin atau 1,33 persen ke posisi 6.589,34 pada perdagangan Kamis, 10 September 2026. Pelemahan mengikuti mayoritas bursa saham Asia di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Indeks LQ45 juga turun 8,27 poin atau 1,25 persen ke posisi 655,98.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pelemahan IHSG dan bursa regional Asia dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak serta meningkatkan kekhawatiran inflasi dan suku bunga.

"IHSG dan bursa regional Asia melemah yang terbebani meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang menyebabkan melonjaknya harga minyak dan kekhawatiran inflasi, serta meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat," ujar Nico dalam kajiannya, dilansir Antara, Kamis, 10 September 2026.

Menurut Nico, belum terdapat tanda-tanda konflik AS-Iran mereda. Iran disebut menyatakan kesiapan menghadapi konflik yang lebih intens, sementara Presiden AS Donald Trump memperkirakan perang tidak akan berakhir hingga setelah pemilihan umum pada November 2026.

Konflik tersebut berpotensi mengganggu aliran energi melalui Selat Hormuz. Kondisi itu dapat mendorong harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi.

"Pasar melihat tanda-tanda meningkatnya tekanan inflasi karena harga makanan dan energi yang lebih tinggi mendorong kenaikan biaya sehingga dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat," ujar Nico.


Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com.
 

 

Pasar tunggu data inflasi AS


Pelaku pasar juga cenderung bersikap wait and see menjelang rilis data inflasi AS yang dapat memengaruhi prospek suku bunga acuan The Fed. Merujuk CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin berada di level 60,2 persen.

Dari dalam negeri, pemerintah menargetkan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 40,31-40,64 persen pada 2027. Pemerintah juga memproyeksikan yield Surat Berharga Negara (SBN) 2027 berada di kisaran 6,5-7,3 persen, dengan asumsi tengah 6,9 persen.

Jumlah investor SBN ritel tercatat sekitar 1,081 juta orang. Sementara itu, penerbitan SBN ritel ditargetkan mencapai Rp160 triliun-Rp170 triliun pada 2026, naik dari Rp152 triliun pada 2025.

"Kami menilai target rasio utang pemerintah di kisaran 40,31-40,64 persen terhadap PDB pada 2027 menunjukkan pemerintah masih berupaya menjaga keberlanjutan fiskal di tengah kebutuhan pembiayaan yang tetap besar," ujar Nico.

IHSG sebelumnya dibuka menguat sebelum bergerak ke zona negatif hingga penutupan sesi pertama. Pada sesi kedua, IHSG melanjutkan pelemahan hingga akhir perdagangan.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor melemah. Sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 1,85 persen, diikuti sektor barang baku sebesar 1,07 persen dan sektor industri sebesar 1,01 persen.

Saham yang mengalami penguatan harga terbesar antara lain GSMF, MGNA, KPIG, JECC, dan SAPX. Sementara saham yang mengalami pelemahan terbesar yaitu ESTI, POLA, PLAN, WGSH, dan UDNG.

Frekuensi perdagangan saham tercatat 2.632.000 kali transaksi dengan volume 45,85 miliar saham senilai Rp21,36 triliun. Sebanyak 300 saham menguat, 348 saham melemah, dan 315 saham tidak bergerak.

Di kawasan Asia, indeks Nikkei menguat 0,14 persen ke 65.232,00. Sementara indeks Shanghai turun 0,43 persen ke 3.934,40, Hang Seng melemah 1,27 persen ke 24.954,47, Kospi turun 0,25 persen ke 7.033,92, dan Straits Times melemah 0,67 persen ke 5.692,06.

(Ade Hapsari Lestarini)