Kondisi cuaca di Bengkulu berawan, Selasa (21/7/2026). ANTARA/Anggi Mayasari
Warga Bengkulu Diimbau Antisipasi Puncak Musim Kemarau
Silvana Febiari • 21 July 2026 15:27
Kota Bengkulu: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Fatmawati Soekarno mengimbau masyarakat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha melakukan langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau. Mitigasi dapat dilakukan melalui pengelolaan ketersediaan air dan penyesuaian aktivitas pertanian.
"Sektor seperti pertanian yang bisa memitigasi bagaimana kalau air berkurang, kalau yang sumber daya air bagaimana untuk memasok atau mengatur air yang diperlukan karena debit air bakal berkurang dari normalnya," kata Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Fatmawati Soekarno Bengkulu Fajar Handoyo, dilansir dari Antara, Selasa, 21 Juli 2026.
Saat ini, Provinsi Bengkulu telah memasuki musim kemarau yang dipengaruhi angin monsun Australia atau angin dari arah tenggara.
Baca Juga :
Dominasi angin monsun Australia membuat pasokan uap air ke wilayah Bengkulu berkurang sehingga kelembapan udara menurun. Kondisi ini berpotensi berdampak pada sektor pertanian hingga pengelolaan sumber daya air.
Meski demikian, masyarakat di Provinsi Bengkulu diimbau tidak salah memahami kondisi musim kemarau. Musim kemarau bukan berarti hujan tidak akan turun sama sekali.
Menurut dia, hujan masih berpotensi turun selama musim kemarau, meski intensitasnya lebih rendah dari kondisi normal. Hujan ringan hingga sedang diperkirakan masih terjadi di sejumlah wilayah Bengkulu, namun tidak merata.
.jpg)
Ilustrasi - Kekeringan. ANTARA/Raisan Al Farisi/dok
Berdasarkan pantauan BMKG, hujan ringan hingga sedang telah terjadi di Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Rejang Lebong, dan Kabupaten Bengkulu Utara. Sedangkan untuk di Kota Bengkulu masih berpeluang terjadinya hujan ringan karena dipengaruhi karakteristik wilayah pesisir yang memiliki pola cuaca lebih dinamis.
Fajar menerangkan, puncak musim kemarau di Bengkulu diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. "Kalau hujan yang turun selama satu atau dua hari tidak otomatis mengakhiri musim kemarau karena penetapan musim didasarkan pada kriteria klimatologis, termasuk akumulasi curah hujan dalam periode tertentu," sebutnya.