Lo Kheng Hong, investor ritel saham legendaris yang dijuluki Warren Buffet Indonesia. Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan.
Lo Kheng Hong Beberkan 5 Tips Memilih Saham dan Sektor Incaran
Ade Hapsari Lestarini • 7 November 2026 17:31
Jakarta: Investor kawakan Lo Kheng Hong membagikan sejumlah kriteria yang menjadi pertimbangannya sebelum membeli saham perusahaan. Menurut dia, investor perlu memahami fundamental dan prospek bisnis perusahaan agar dapat memilih saham yang berpotensi memberikan keuntungan dalam jangka panjang.
Lo mengatakan, dirinya selalu mempelajari laporan tahunan atau isebelum memutuskan membeli saham. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi perusahaan, mulai dari pemegang saham mayoritas hingga jajaran direksi dan komisaris.
"Saya sebelum membeli sebuah perusahaan, tentu saya akan lihat annual report-nya. Saya tidak mau beli kucing dalam karung, jadi saya harus tahu apa yang saya beli," ujar Lo Kheng Hong dalam acara seminar utama Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 di Gedung BEI, Jakarta, dikutip Sabtu, 7 November 2026.
Ia kemudian membeberkan lima kriteria utama yang menjadi acuannya dalam memilih perusahaan untuk investasi saham.
5 tips memilih saham ala Lo Kheng Hong
Berikut lima kriteria yang diperhatikan Lo Kheng Hong sebelum membeli saham suatu perusahaan:
1. Memiliki manajemen yang jujur dan kompeten.
Lo mengutamakan perusahaan yang dikendalikan oleh pemimpin berintegritas dan memiliki kemampuan mengelola bisnis. Ia juga memeriksa rekam jejak pemegang saham mayoritas, direksi, dan komisaris untuk memastikan perusahaan tidak disalahgunakan demi kepentingan pribadi.
2. Memiliki bidang usaha yang prospektif.
Menurut Lo, investor perlu memilih perusahaan dengan bidang usaha yang memiliki prospek baik. Ia menghindari bisnis yang produknya harus bersaing langsung dengan produk asal Tiongkok karena persaingan harga yang ketat. Sebaliknya, ia lebih tertarik pada perusahaan yang menghasilkan komoditas yang dibutuhkan negara lain, seperti batu bara dan kelapa sawit.
3. Mencatatkan keuntungan besar.
Lo hanya tertarik pada perusahaan yang mampu menghasilkan laba besar. Menurut dia, perusahaan dengan keuntungan besar dapat diibaratkan sebagai mesin pencetak uang bagi pemegang saham.
"Kalau perusahaan yang rugi, saya tidak mau beli. Perusahaan yang untungnya kecil, saya juga tidak mau beli. Yang saya mau beli hanya perusahaan yang untungnya besar," jelas dia.

Ilustrasi. Foto: dok MI.
4. Memiliki pertumbuhan laba yang berkelanjutan.
Selain menghasilkan keuntungan besar, perusahaan juga harus mampu meningkatkan labanya dari waktu ke waktu. Ia memberikan ilustrasi pertumbuhan laba perusahaan dari Rp1 triliun menjadi Rp1,5 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp2 triliun hingga puluhan triliun rupiah.
5. Memiliki valuasi murah dan dividend yield menarik.
Lo mengutamakan saham perusahaan berkualitas yang diperdagangkan dengan valuasi relatif rendah. Ia memperhatikan rasio price to earnings (P/E) dan price to book value (PBV) sebelum membeli saham. Menurut dia, membeli perusahaan bagus dengan rasio P/E dan PBV rendah dapat membantu menekan risiko investasi dibandingkan membeli saham dengan valuasi tinggi.
Selain itu, ia juga memperhatikan dividend yield atau tingkat imbal hasil dividen. Semakin besar dividen yang dibagikan perusahaan, semakin menarik potensi pendapatan bagi investor.
"Kalau dapat dividend yield yang tinggi sampai 14 persen, itu nikmat kita sebagai sleeping shareholder. Tidak kerja, dapat gajian," ungkap dia.
Tiga sektor investasi yang menarik menurut Lo Kheng Hong
Selain memaparkan kriteria memilih saham, Lo juga menyebut sejumlah sektor yang dinilainya menarik untuk dicermati investor, yakni perbankan, batu bara, dan kelapa sawit.
Ketiga sektor tersebut memiliki karakteristik bisnis yang berbeda. Perbankan menjadi salah satu sektor yang diperhitungkannya, sementara batu bara dan kelapa sawit merupakan komoditas yang memiliki pasar di berbagai negara.
Menurut Lo, kelapa sawit memiliki keunggulan karena tanaman tersebut tidak dapat dibudidayakan secara optimal di negara seperti Tiongkok dan India. Kedua negara tersebut menjadi pasar yang membutuhkan pasokan minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia.
"Kelapa sawit itu tidak bisa ditanam di Tiongkok dan India. Jadi, dua miliar penduduk Tiongkok, dua miliar penduduk India, dan seluruh negara yang lain harus membeli dari kita," kata dia. (Selsha Septifanie Gunawan)