Ilustrasi. Foto: Medcom.id.
Data ESG Dunia Usaha Dinilai Penting untuk Mitigasi Risiko Dampak Perubahan Iklim
Whisnu Mardiansyah • 24 October 2026 19:05
Jakarta: Pengelolaan data lingkungan, sosial, dan tata kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi salah satu aspek penting dalam mengidentifikasi risiko dan peluang terkait perubahan iklim. Data yang akurat dan dapat ditelusuri membantu memahami potensi dampak perubahan iklim terhadap kegiatan usaha serta menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Data ESG tidak hanya digunakan untuk menyusun laporan keberlanjutan. Informasi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk menilai risiko dan menganalisis skenario iklim. Dengan pengelolaan data yang baik, di sektor perbankan misalnya dapat menggunakan informasi terkait lingkungan dan iklim sebagai bagian dari proses penilaian risiko bisnis.
Dalam praktiknya, data ESG perbankan berasal dari berbagai unit kerja dengan mekanisme pengumpulan yang berbeda. Misalnya, data konsumsi listrik, dapat dihimpun bagian fasilitas berdasarkan tagihan, dikirim melalui surat elektronik, kemudian dicatat dalam lembar kerja elektronik.
Proses pengumpulan yang tersebar berpotensi menyulitkan pemilik usaha ketika data perlu diperiksa kembali. Dokumen sumber bisa tersimpan di lokasi berbeda, disalin ke berkas lain, atau mengalami perubahan tanpa catatan yang memadai. Kondisi ini dapat menghambat penelusuran asal-usul angka yang digunakan dalam laporan maupun analisis risiko.
Chief Business & Operations Officer Nawadata, Albertus Istanto, menyoroti pentingnya mengetahui asal setiap angka dalam pengelolaan data ESG. Bank misalnya perlu memahami sumber data, pihak yang mengolahnya, serta perubahan yang terjadi sebelum informasi digunakan.
"Kejelasan tersebut penting karena data ESG dapat digunakan oleh berbagai bagian untuk kebutuhan yang berbeda. Informasi yang dikumpulkan satu unit kerja, misalnya, dapat dibutuhkan bagian lain untuk menilai risiko atau menganalisis kemungkinan dampak perubahan iklim terhadap kegiatan usaha," kata Albertus dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Penghitungan emisi menjadi salah satu contoh pengolahan data yang memerlukan ketelitian. Sumber faktor emisi, metode penghitungan, dan riwayat pembaruannya perlu terdokumentasi agar hasil penghitungan dapat ditelusuri kembali.
Selain itu, perlu dipastikan data yang digunakan dalam analisis memiliki sumber yang jelas dan dapat diperiksa. Sebagian informasi sudah tersedia dalam sistem perbankan, sedangkan data lainnya masih dikelola secara terpisah oleh setiap unit melalui spreadsheet. Perbedaan cara pengelolaan ini dapat menyulitkan proses penggabungan data untuk keperluan analisis.
Tantangan tersebut semakin relevan menjelang penerapan Pernyataan Standar Pengungkapan Keberlanjutan (PSPK) 1 dan PSPK 2 yang diterbitkan Dewan Standar Keberlanjutan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Aturan ini dijadwalkan berlaku efektif pada 1 Januari 2027. PSPK 1 mengatur persyaratan umum pengungkapan informasi keuangan terkait keberlanjutan, sedangkan PSPK 2 secara khusus mengatur pengungkapan terkait iklim.
Secara sederhana, PSPK 1 membantu perusahaan mengungkapkan risiko dan peluang keberlanjutan yang dapat memengaruhi prospek usaha. Adapun PSPK 2 berfokus pada risiko dan peluang terkait perubahan iklim, termasuk cara perusahaan mengelolanya serta metrik dan target yang digunakan.
Bagi perbankan, pengelolaan data yang baik menjadi bagian penting dalam menyiapkan informasi mengenai risiko. Namun, pemenuhan standar pengungkapan tidak hanya berkaitan dengan penyusunan laporan. Bank juga perlu membangun proses pengumpulan dan pengolahan data yang memungkinkan informasi diperiksa serta digunakan secara konsisten.
Pengelolaan data ESG yang terstruktur dapat mendukung bank dalam menyiapkan informasi untuk penilaian risiko dan analisis skenario iklim. Meski demikian, data yang baik perlu disertai metode analisis yang sesuai agar hasilnya dapat digunakan secara tepat dalam pengambilan keputusan.
Pada akhirnya, data ESG bukan sekadar bahan untuk memenuhi kebutuhan pelaporan keberlanjutan. Data yang akurat, konsisten, dan dapat ditelusuri juga dapat menjadi salah satu dasar bagi perbankan untuk memahami risiko perubahan iklim, menilai kemungkinan dampaknya terhadap kegiatan usaha, dan mendukung upaya mitigasi risiko.