Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Imran Pambudi. Metrotvnews.com/Afifah Alfina
Kemenkes Sebut Penggunaan Internet Masif Memicu Kecemasan bagi Generasi Muda
Metro TV • 11 October 2026 17:24
Jakarta: Perkembangan media sosial mengubah pola interaksi serta cara pandang generasi muda terhadap konsep kesuksesan. Paparan konten visual secara terus-menerus tanpa sadar menciptakan standar sosial yang kurang realistis di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Imran Pambudi, menegaskan penggunaan internet yang masif tanpa didasari literasi digital yang baik berpotensi memicu kecemasan.
“Internet itu sepertinya dia mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Jadi dia akan melihat apa sih yang terjadi di seberang sana, punya idolanya seperti apa, ya, kesuksesan-kesuksesannya seperti apa,” kata Imran di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Minggu, 11 Oktober 2026.
Fenomena konten gaya hidup di platform digital kerap hanya menampilkan potret keberhasilan tanpa memperlihatkan proses di baliknya. Hal ini memicu persepsi yang keliru mengenai standar pencapaian hidup pada usia tertentu.
“Padahal sebetulnya yang muncul di internet itu kan lebih ke arah hanya hasilnya saja. Tetapi apakah itu real kehidupannya apakah seperti itu, ya kan?” ujar Imran.
Kesenjangan antara kenyataan hidup dan pencapaian orang lain di media sosial berpotensi memicu tekanan mental. Kebiasaan membandingkan diri dapat menimbulkan rasa tidak puas hingga gangguan kecemasan berlebihan.
“Mereka juga tidak tahu bagaimana perjuangannya ke sana, berapa lama dia harus bekerja, itu yang membuat orang itu hanya melihat hasilnya saja. Itulah yang membuat orang jadi cemas, tuh pada umurku ini dia kok sudah bisa beli Porsche, saya kok masih naik motor?” ujar Imran.
Edukasi publik mengenai konsumsi media sosial secara bijak perlu digalakkan agar masyarakat tidak terjebak dalam ilusi dunia maya. Masyarakat diharapkan mampu menyikapi unggahan di internet lebih rasional dan kritis.
“Masyarakat harus tahu bahwa yang kita lihat di dalam mungkin 30 detik itu sebetulnya bukan real apa yang ada kehidupannya mereka, gitu. Hanya, itu mungkin hanya settingan saja. Jadi itu saya kira yang perlu diperhatikan,” tutur Imran.

Ilustrasi. Foto- Dok. Istimewa
Imran juga menekankan perlunya skrining kesehatan mental secara berkala. Seseorang bisa saja tidak menyadari kondisi kesehatan mentalnya memburuk.
“Seperti tadi yang sedang dilakukan oleh Pak Wamen, skrining itu membantu untuk bisa kita mengetahui. Mungkin kita merasa baik-baik saja, tetapi setelah dicek, wah, ini kok mulai tanda bahaya, gitu kan,” kata Imran.
Kemenkes tengah berupaya mendeteksi dini pada masalah kesehatan mental. Salah satunya lewat program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Ada 71,8 juta orang mengikuti program tersebut dan sebagian kecil terdeteksi memiliki masalah kesehatan jiwa.
“Kita juga sedang memasukkan skrining kesehatan jiwa pada CKG dan pada pelayanan ibu hamil dan ibu nifas. Dan kita sudah menskrining 71,8 juta penduduk dengan hasil 1,2 persen dugaan gejala depresi serta 0,9 persen gejala kecemasan,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi.
(Afifah Alfina)