Menkeu Suahasil Nazara saat memimpin konferensi Pers APBN KiTa Edisi Oktober 2026. Foto: Tangkapan layar YouTube Kemenkeu.
Menkeu: Kredibilitas Fiskal Jadi Modal Indonesia Tarik Investasi Asing
Husen Miftahudin • 14 October 2026 22:05
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menempatkan kredibilitas fiskal sebagai salah satu modal utama untuk menarik investasi asing ke Indonesia. Pemerintah berkomitmen menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan tetap memenuhi kebutuhan pembangunan.
Dalam agenda Investor Meeting yang diselenggarakan Deutsche Bank di Bangkok, Thailand, Suahasil mengatakan kebijakan fiskal perlu tetap adaptif menghadapi berbagai tekanan ekonomi, baik yang bersumber dari geopolitik, perdagangan, volatilitas pasar, maupun perubahan harga domestik.
"Kebijakan fiskal harus mampu merespons berbagai tekanan, baik dari geopolitik, perdagangan, volatilitas pasar, maupun harga domestik, tanpa menggerus penyangga fiskal untuk masa depan," kata Suahasil dalam keterangan pers di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 14 Oktober 2026.
Ia menambahkan, pemerintah menempatkan investasi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi ke depan. Dalam APBN 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen dan pertumbuhan investasi sebesar tujuh persen.
"Untuk mendukung pencapaian tersebut, Pemerintah mendorong sinergi antara kebijakan fiskal, peran Danantara dalam investasi strategis, serta partisipasi sektor swasta," jelas dia.

(Ilustrasi penghitungan APBN. Foto: dok MI)
Tiga jurus menjaga kepercayaan investor
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan pemerintah juga berfokus menjaga kepercayaan investor dalam jangka panjang. Untuk itu, Kemenkeu menyiapkan sejumlah strategi guna memperkuat keyakinan pasar terhadap perekonomian Indonesia.
Strategi pertama adalah menjaga kredibilitas kebijakan, kinerja, dan stabilitas perekonomian, baik dari sisi fiskal, moneter, maupun sektor keuangan. Pemerintah juga secara berkala mengomunikasikan kondisi ekonomi, kinerja, dan arah kebijakan kepada pasar serta investor secara terpadu.
Strategi kedua adalah menjaga disiplin dan integritas pasar. Langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung pembentukan pasar keuangan yang lebih dalam, aktif, dan likuid. "Hal ini penting untuk membangun pasar keuangan yang lebih dalam, aktif, dan likuid," ujar Suminto.
Strategi ketiga adalah memperdalam pasar keuangan, terutama melalui penguatan peran investor institusional dan investor ritel domestik. Menurut Suminto, penguatan basis investor dalam negeri diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan likuiditas pasar keuangan sekaligus memperkuat daya tahannya dalam menghadapi dinamika keuangan global.
Melalui upaya tersebut, pemerintah berupaya menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi sekaligus membangun kepercayaan investor untuk mendukung kebutuhan pembiayaan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.