Mengenal Adenokarsinoma Paru, Kanker yang Dialami Paus Leo XIV

Paus Leo XIV saat berada di Vatikan. (Media Vatikan)

Mengenal Adenokarsinoma Paru, Kanker yang Dialami Paus Leo XIV

Angel Rinella • 14 October 2026 14:49

Jakarta: Paus Leo XIV didiagnosis mengidap adenokarsinoma paru setelah menjalani operasi di Rumah Sakit Gemelli, Roma, Italia. Diagnosis tersebut dipastikan setelah dokter memeriksa jaringan yang diangkat dalam prosedur operasi pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Sebelum menjalani operasi, benjolan di paru-paru pemimpin Gereja Katolik tersebut ditemukan saat pemeriksaan rutin. Dokter kemudian mengangkat lobus bawah paru-paru kanan Paus Leo XIV melalui prosedur yang berlangsung selama 90 menit.

Kondisi kesehatan Paus Leo XIV pun menjadi perhatian setelah diagnosis tersebut diketahui. Adenokarsinoma paru termasuk salah satu jenis kanker paru-paru yang dapat dialami oleh perokok maupun orang yang tidak pernah merokok.

Lantas, apa itu adenokarsinoma paru dan bagaimana gejala serta pengobatannya? Simak penjelasannya.



Ilustrasi Paru-paru. Foto: Dok. Freepik

Apa Itu Adenokarsinoma Paru?

Dikutip dari Cancer Therapy Advisor, Adenokarsinoma Paru termasuk salah satu jenis kanker paru nonsel kecil atau non-small cell lung cancer (NSCLC). Menurut American Cancer Society, kelompok kanker ini mencakup sekitar 80–85 persen dari seluruh kasus kanker paru-paru.

Adenokarsinoma paru berkembang dari sel epitel kelenjar yang menghasilkan lendir atau zat lainnya. Kanker ini umumnya bermula di jaringan bagian luar paru-paru dan dapat berkembang dalam waktu lama tanpa menunjukkan gejala yang mudah dikenali.

Kondisi tersebut membuat sebagian pasien baru mengetahui penyakitnya ketika kanker telah memasuki stadium lanjut. Gejala seperti batuk, sesak napas, dan nyeri dada juga tidak selalu menunjukkan kanker paru karena dapat muncul akibat gangguan kesehatan lainnya.

Di Amerika Serikat, sekitar 226.650 orang diperkirakan didiagnosis menderita kanker paru-paru pada 2025, sementara 124.730 orang diperkirakan meninggal akibat penyakit tersebut. Adenokarsinoma paru menyumbang sekitar 40 persen dari seluruh kasus kanker paru-paru di negara itu.

Sejumlah penelitian menemukan hubungan kuat antara kebiasaan merokok dan risiko adenokarsinoma paru. Meski demikian, penyakit ini juga dapat dialami oleh orang yang tidak pernah merokok, terutama perempuan.

Gejala Adenokarsinoma Paru

Pada tahap awal, adenokarsinoma paru sering tidak menimbulkan keluhan. Ketika kanker berkembang, gejalanya dapat berupa gangguan pernapasan maupun perubahan kondisi tubuh yang terkadang dianggap sebagai masalah kesehatan biasa.

Berikut gejala yang dapat muncul:

  • Batuk yang berlangsung terus-menerus.
  • Sesak napas.
  • Nyeri dada.
  • Batuk berdarah atau keluarnya darah bersama dahak.
  • Kelelahan dan tubuh terasa lemah.
  • Penurunan nafsu makan.
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.
  • Suara serak.
  • Mengi atau munculnya suara seperti siulan saat bernapas.
  • Infeksi saluran pernapasan yang berulang, seperti bronkitis dan pneumonia.

Gejala tersebut tidak selalu menandakan adenokarsinoma paru. Namun, batuk yang tidak kunjung membaik, batuk berdarah, sesak napas, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas perlu diperiksa oleh tenaga medis.



Ilustrasi Dokter Paru-paru. Foto: Dok. Freepik

Penyebab Adenokarsinoma Paru

Penyebab pasti adenokarsinoma paru belum sepenuhnya diketahui. Para ahli mengaitkan penyakit ini dengan sejumlah faktor, termasuk kebiasaan merokok, paparan lingkungan, usia, serta perubahan genetik yang memengaruhi pertumbuhan sel.

Berikut sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami adenokarsinoma paru:

  1. Kebiasaan merokok dan paparan asap rokok
    Merokok menjadi faktor risiko utama adenokarsinoma paru. Paparan asap rokok secara pasif juga dapat meningkatkan risiko, meskipun seseorang tidak merokok secara langsung.

     
  2. Polusi udara dan zat berbahaya
    Polusi udara, termasuk partikel halus, asap kendaraan, dan jelaga, dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker paru. Paparan radon, yakni gas radioaktif alami yang dapat terkumpul di ruang dengan sirkulasi udara buruk, juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

    Selain itu, paparan zat karsinogenik di tempat kerja, seperti asbes dan arsenik, dapat berkontribusi terhadap risiko penyakit. Riwayat penyakit paru-paru, termasuk tuberkulosis (TB) dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), juga perlu menjadi bagian dari pertimbangan medis.

     
  3. Faktor genetik dan usia
    Perubahan pada gen tertentu, seperti epidermal growth factor receptor (EGFR), anaplastic lymphoma kinase (ALK), dan Kirsten rat sarcoma (KRAS), dapat memengaruhi perkembangan adenokarsinoma paru. Riwayat kanker paru-paru dalam keluarga juga dapat menjadi petunjuk adanya kecenderungan genetik.

    Risiko adenokarsinoma paru meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah 65 tahun. Perempuan dapat mengalami penyakit ini pada usia yang lebih muda dan sebagian pasien tidak memiliki riwayat merokok.

Pengobatan Adenokarsinoma Paru

Penanganan adenokarsinoma paru disesuaikan dengan stadium kanker, kondisi kesehatan pasien, fungsi paru-paru, serta hasil pemeriksaan molekuler. Pengobatan dapat dilakukan melalui operasi, radioterapi, kemoterapi, terapi target, atau imunoterapi, baik secara terpisah maupun dikombinasikan.

Berikut sejumlah metode pengobatan yang dapat digunakan untuk menangani adenokarsinoma paru:

1. Operasi

Operasi dapat menjadi pilihan utama bagi pasien dengan adenokarsinoma paru stadium awal. Jenis tindakan ditentukan berdasarkan ukuran dan lokasi tumor serta kemampuan paru-paru pasien.

Berikut prosedur yang dapat dilakukan:
  • Pneumonektomi: pengangkatan seluruh bagian paru-paru yang terdampak. Tindakan ini biasanya dipertimbangkan untuk tumor berukuran besar atau yang terletak di bagian tengah dada, dengan memperhitungkan kemampuan paru-paru yang tersisa.
  • Lobektomi: pengangkatan satu lobus paru-paru yang mengandung tumor. Prosedur ini menjadi pilihan utama dalam operasi kanker paru nonsel kecil ketika kanker terbatas pada satu lobus.
  • Segmentektomi: pengangkatan tumor beserta satu segmen paru-paru. Tindakan ini dapat dipertimbangkan ketika fungsi paru pasien tidak memungkinkan untuk menjalani lobektomi.
  • Reseksi baji: pengangkatan tumor bersama sebagian kecil jaringan sehat di sekitarnya. Prosedur ini biasanya digunakan untuk tumor kecil di bagian luar paru-paru atau bagi pasien yang tidak dapat menjalani operasi lebih luas.
  • Reseksi sleeve: pengangkatan tumor dan sebagian saluran napas, kemudian bagian saluran napas yang tersisa disambungkan kembali. Prosedur ini dapat menjadi alternatif untuk menghindari pengangkatan seluruh paru-paru pada kasus tertentu.

2. Radioterapi

Radioterapi menggunakan radiasi berenergi tinggi untuk merusak sel kanker atau DNA-nya sehingga sel tersebut berhenti tumbuh dan membelah. Jenis terapi dipilih berdasarkan lokasi tumor, kondisi pasien, dan tujuan pengobatan.

Salah satu metode yang digunakan ialah radioterapi eksternal atau external beam radiation therapy (EBRT), yaitu pemberian radiasi dari mesin di luar tubuh ke arah tumor. Ada pula stereotactic body radiation therapy (SBRT), yang mengarahkan radiasi secara lebih terfokus pada tumor berukuran kecil untuk membatasi dampak pada jaringan sehat di sekitarnya.

Radioterapi internal atau brakiterapi dilakukan dengan menempatkan sumber radioaktif di dalam atau dekat tumor melalui bronkoskop. Metode ini dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, termasuk ketika tumor sulit dijangkau dengan teknik radiasi eksternal atau penyakit kembali muncul.

Radioterapi juga dapat diberikan setelah operasi untuk menekan risiko kanker muncul kembali, terutama jika masih terdapat jaringan kanker yang tersisa atau pengangkatan tumor belum sepenuhnya tuntas.

3. Kemoterapi

Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel kanker. Pada pasien dengan penyakit stadium awal, kemoterapi dapat diberikan setelah operasi untuk mengurangi risiko kekambuhan atau sebelum operasi pada kasus tertentu.

Obat berbasis platinum menjadi salah satu jenis yang umum digunakan dalam kemoterapi kanker paru. Pada pasien dengan penyakit stadium lanjut atau kanker yang telah menyebar, pemilihan obat juga mempertimbangkan hasil pemeriksaan molekuler.

4. Terapi Target

Terapi target dirancang untuk menyerang perubahan molekuler tertentu yang mendorong pertumbuhan kanker. Pemeriksaan genetik membantu dokter menentukan apakah pasien memiliki perubahan yang dapat ditangani dengan obat khusus.

Beberapa pilihan terapi yang digunakan berdasarkan karakteristik kanker meliputi:
  • Mutasi EGFR: dapat ditangani dengan obat penghambat tirosin kinase, seperti osimertinib.
  • Perubahan ALK: dapat ditangani dengan penghambat ALK, termasuk alectinib dan brigatinib.
  • Mutasi KRAS: obat seperti sotorasib dapat digunakan untuk tumor dengan mutasi KRAS G12C.
  • Terapi target memungkinkan pengobatan disesuaikan dengan perubahan genetik pada tumor. Namun, jenis obat yang diberikan tetap bergantung pada hasil pemeriksaan dan penilaian dokter.

5. Imunoterapi

Imunoterapi membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan melawan sel kanker. Salah satu kelompok obatnya ialah penghambat immune checkpoint, yang dapat dipertimbangkan pada tumor dengan tingkat ekspresi PD-L1 tinggi.

Pada pasien dengan ekspresi PD-L1 lebih dari 50 persen, obat seperti pembrolizumab dapat menjadi salah satu pilihan terapi awal sesuai kondisi klinis. Pemilihan imunoterapi perlu mempertimbangkan karakteristik tumor, stadium penyakit, dan keadaan pasien.

(Arga Sumantri)