Dolar AS. Foto: Marketplace.org
Dolar AS Melemah di Tengah Krisis Utang Eropa
Husen Miftahudin • 9 October 2026 08:26
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah tipis pada perdagangan Kamis waktu setempat, seiring meredanya imbal hasil obligasi Treasury AS setelah sempat melanjutkan kenaikan di tengah perdagangan yang bergejolak.
Pelaku pasar mencermati hasil lelang obligasi Treasury AS bertenor 30 tahun yang mengecewakan, lonjakan harga minyak, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal sejumlah negara Eropa, terutama Prancis.
Mengutip Xinhua, Jumat, 9 Oktober 2026, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,1 persen menjadi 102,138 pada pukul 15.00 waktu setempat atau 19.00 GMT.
Pada penutupan perdagangan New York, euro menguat menjadi USD1,1209 dari USD1,1199 pada sesi sebelumnya. Pound sterling Inggris juga naik menjadi USD1,3225 dari USD1,3219.
Sebaliknya, dolar AS melemah terhadap yen Jepang menjadi 157,86 yen dari 157,96 yen pada sesi sebelumnya. Dolar juga turun terhadap franc Swiss menjadi 0,8316 franc dari 0,8330 franc.
Dolar AS turut melemah terhadap dolar Kanada menjadi 1,4224 dolar Kanada dari 1,4256 dolar Kanada. Sementara itu, terhadap krona Swedia, dolar turun menjadi 9,9757 krona dari 9,9992 krona pada sesi sebelumnya.
Imbal hasil Treasury AS mereda
Mengutip Investing.com, imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun turun 5,3 basis poin menjadi 5,225 persen. Imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun juga merosot 5,4 basis poin menjadi 5,607 persen.
Sebelumnya, imbal hasil kedua instrumen tersebut sempat melonjak masing-masing hingga delapan basis poin dan tujuh basis poin. Sementara itu, imbal hasil obligasi Treasury bertenor dua tahun yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga ditutup sedikit lebih rendah pada 4,760 persen.
Pergerakan pasar obligasi terjadi setelah lelang Treasury AS bertenor 30 tahun senilai USD22 miliar menunjukkan lemahnya minat investor institusional asing terhadap utang pemerintah AS jangka panjang.
Hasil lelang tersebut berbanding terbalik dengan lelang obligasi Treasury bertenor 10 tahun senilai USD39 miliar pada Rabu, 7 Oktober 2026. Lelang tersebut menghasilkan imbal hasil tertinggi untuk instrumen sejenis sejak November 2000.
Tekanan jual pada obligasi AS turut merambat ke pasar surat utang global. Kondisi tersebut dipengaruhi kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak, kecenderungan kebijakan moneter yang lebih ketat, peningkatan utang fiskal negara maju, serta besarnya penerbitan utang korporasi untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Sentimen pasar juga tertekan setelah risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) September dirilis pada Rabu. Mayoritas pejabat Federal Reserve (The Fed) mengindikasikan kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin dilakukan sebelum akhir tahun.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Krisis fiskal Prancis tekan pasar obligasi
Di Eropa, tekanan terhadap pasar obligasi berlanjut di tengah memburuknya kekhawatiran mengenai kondisi fiskal Prancis. Biaya pinjaman negara tersebut dilaporkan meningkat ke level tertinggi dalam 24 tahun, sehingga turut memengaruhi pergerakan obligasi pemerintah negara-negara Eropa lainnya.
Para menteri keuangan zona euro dan pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) berkumpul di Luksemburg pada Kamis untuk membahas kebijakan ekonomi dan keuangan kawasan. Krisis utang pemerintah Prancis diperkirakan menjadi salah satu fokus pembicaraan.
Mengutip Reuters, pejabat senior zona euro menyebut para menteri akan mendesak pemerintah Prancis segera mengesahkan rancangan undang-undang anggaran 2027. Langkah tersebut dinilai penting untuk memulihkan kredibilitas fiskal dan membatasi risiko penularan gejolak ke pasar keuangan negara lain.
Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun naik tipis menjadi 4,897 persen. Angka tersebut mencerminkan kenaikan hampir 80 basis poin sejak awal September dan bertahan di dekat level tertinggi sejak Juli 2002.
Tekanan jual obligasi Prancis juga memperlebar selisih imbal hasil terhadap obligasi pemerintah Jerman hingga melampaui 140 basis poin. Gejolak tersebut turut menekan obligasi pemerintah Italia dan Yunani serta menambah tekanan terhadap euro.
Sementara itu, Gubernur Bank Sentral Prancis Emmanuel Moulin mengakui kondisi fiskal negaranya berada dalam situasi serius, dengan proyeksi defisit sebesar 5,4 persen. Namun, ia menolak intervensi ECB untuk mengatasi tekanan tersebut.
Perkembangan ini menambah perhatian investor terhadap kemampuan pemerintah Prancis mengatasi persoalan fiskal dan kebuntuan politik, di tengah meningkatnya volatilitas pasar obligasi global.