Ilustrasi cabai rawit. Foto: Metrotvnews.com.
Cabai Rawit Jadi Pemicu Inflasi di Sejumlah Wilayah Indonesia Timur
Andika Fauzan Azhari • 5 October 2026 17:45
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga cabai rawit menjadi salah satu pemicu inflasi di sejumlah provinsi wilayah Indonesia Timur pada September 2026. Tekanan harga terjadi seiring penurunan produksi hortikultura dan kendala pasokan di sejumlah daerah.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan beberapa provinsi mencatat inflasi bulanan atau month-to-month (mtm) di atas satu persen. Sulawesi Utara menjadi salah satu daerah dengan inflasi tinggi, yakni 3,53 persen.
"Ada beberapa provinsi yang inflasinya di atas satu persen, di antaranya Sulawesi Utara itu 3,53 persen, Gorontalo, dan juga Papua Tengah. Khusus untuk yang di Sulawesi Utara ini pengaruh cabai rawit ini masih cukup dominan, demikian juga di Gorontalo," ujar Ateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2026 di Jakarta, dikutip dari YouTube Kemendagri, Senin, 5 Oktober 2026.
Ateng menjelaskan, kenaikan harga cabai rawit terjadi seiring penurunan produksi hortikultura di sejumlah daerah sentra. Selain cabai rawit, komoditas pangan lain seperti tomat, ikan segar, dan daging ayam ras turut memberikan andil terhadap kenaikan inflasi di wilayah tersebut.

Ilustrasi cabai rawit. Foto: Metrotvnews.com/Gervin Nathaniel Purba.
Inflasi tahunan
Secara tahunan, sejumlah provinsi di kawasan Indonesia Timur juga mencatat inflasi yang relatif tinggi. Wilayah tersebut antara lain Sulawesi Utara, Maluku Utara, Gorontalo, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Barat.
Kenaikan harga cabai rawit, tarif angkutan udara, dan emas perhiasan menjadi sejumlah komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi di daerah-daerah tersebut.
"Di Sulawesi, ini cukup tinggi. Di Sulawesi, Kabupaten Minahasa Utara inflasinya mendekati 10 persen atau 9,05 persen, Minahasa Selatan tujuh persen, Kota Manado 7,32 persen. Maluku-Papua juga di Nabire itu 6,16 persen," tambah Ateng.
Di sisi lain, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan tertahan oleh penurunan harga bawang merah. BPS mencatat bawang merah mengalami deflasi dan menjadi salah satu komoditas yang menahan laju inflasi di sejumlah provinsi wilayah Indonesia Timur.