Indonesia Dikepung Bencana: Kesiapan dan Pendanaan

Program Kontroversi edisi Indonesia Terkepung Bencana. Dok. Metro TV

Indonesia Dikepung Bencana: Kesiapan dan Pendanaan

Muhamad Marup • 10 September 2026 23:00

Jakarta: Bencana yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia membuat masyarakat khawatir dan meminta pemerintah turun tangan. Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Harkunti Rahayu, mengingatkan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama.

Ia menyebut, Tsunami 2004 merupakan titik balik pergeseran paradigma tersebut. Selain pihak yang terlibat, fokus penanggulangan bencana juga bergeser dari penanganan menjadi pengurangan risiko bencana.

Harkunti mengakui, masyarakat masih belum memahami pentingnya pencegahan bencana. Menurutnya, setelah terjadi bencana di suatu lokasi, masyarakat justru melupakan pentingnya proses pemulihan dan pembangunan kembali menyesuaikan karakteristik bencana di wilayah masing-masing.

"Setiap ada bencana seolah-olah semua itu (pengurangan risiko bencana) hilang. Ada beberapa hal. Memori orang itu saya bilang pendek," ujar Harkunti, dalam program Kontroversi Metro TV, Kamis, 10 September 2026.

Program Kontroversi edisi Indonesia Terkepung Bencana. Dok. Metro TV


Ia mengingatkan, Indonesia berada di lokasi rawan bencana. Meski begitu, kontribusi terbesar terjadinya bencana di Indonesia juga merupakan ulah manusia.

Harkunti juga menyinggung persoalan manajemen bencana. Menurutnya, secara regulasi, Indonesia sudah memiliki banyak payung hukum, tapi masih tumpang tindih.

"Kami berharap di sini keberadaan dari parlemen. Lembaga parlemen atau anggota DPR karena itu adalah sinergi dari multihelix yang kita butuhkan," ucapnya.

Fenomena Wajar

Pakar vulkanologi dan bencana geologi, Surono, menilai, gunung meletus seharusnya menjadi fenomena biasa di Indonesia. Pasalanya, Indonesia memiliki jumlah gunung api yang lebih banyak dibanding negara-negara lain.

Ia menjelaskan sudah kodrat gunung api untuk meletus atau erupsi. Menurutnya, Indonesia harusnya bisa jadi contoh negara lain terkait cara menghadapi gunung api ketika meletus.

"Harusnya kita tidak terkaget-kaget (ketiga gunung api meletus) dan mengajari dunia lain yang gunungnya cuma satu dua," terangnya.

Surono menerangkan, gunung api meletus bertujuan agar gunung tersebut semakin tinggi. Material-material yang keluar dari dalam gunung berfungsi untuk menambah tinggi gunung tersebut.


Program Kontroversi edisi Indonesia Terkepung Bencana. Dok. Metro TV



Ia mencontohkan, letusan strombolian yang terjadi ketika gunung anak krakatau meletus. Meski secara visual mengkhawatirkan, tapi material-material hanya jatuh di gunung api itu saja.

Surono menilai, kepanikan masyarakat terkait letusan gunung api disebabkan oleh media sosial (medsos). Informasi-informasi yang belum jelas dapat membuat masyarakat menduga hal buruk bakal terjadi.

"Medsos ini luar biasa. Untuk memberikan informasi gitu kan. Ada fotonya, ada beritanya dan sebagainya. Zaman dulu itu ngurusin letusan Gunung Api sekaligus lima hal yang biasa saja," katanya.

Penggunaan Dana

Anggota Komisi VIII DPR RI, Maman Imanulhaq, menekankan, penggunaan dana kebencanaan harus sesuai data dan kebutuhan lapangan. Menurutnya, penting untuk memprioritaskan wilayah-wilayah yang memiliki risiko bencana yang tinggi.

Ia mengingatkan, mitigasi bencana harus dijadikan sebagai investasi, bukan sekadar belanja darurat. Menurutnya, bencana sebenarnya adalah ketidakmampuan menangani bencana.

"Jadi tidak hanya sekedar untuk penanganan-penanganan karena kritik kita, bangsa ini, pemerintahnya itu kalau bencana itu bersikap reaktif, tidak proaktif," tuturnya.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Kapusdatinkom Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Panjaitan, memastikan, anggaran Dana Siap Pakai di BNPB sudah sesuai kebutuhan dan kondisi lapangan. Menurutnya, anggaran sudah mencukupi hingga akhir tahun. Ia juga memastikan penanggulangan bencana tidak hanya dari Dana Siap Pakai di BNPB saja. Menurutnya, masih ada berbagai sumber dana yang bisa digunakan baik dari anggaran kementerian maupun anggaran pemerintah daerah.

Berton menambahkan, penanggulangan bencana juga tidak melalui terkait keuangan. Sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia juga siap menangani bencana.

"Jadi kalau dibilang siap itu kita harus siap optimis tentu untuk menyatakan siap baik itu secara sumber daya maupun sumber keuangan atau apapun lainnya yang kita miliki saat ini," terangnya.

(Muhamad Marup)