Ilustrasi: Pexels
Mengenal Sejarah Uang, dari Logam hingga Bitcoin
Riza Aslam Khaeron • 29 September 2026 12:17
Jakarta: Uang menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari manusia. Hampir setiap aktivitas ekonomi melibatkan uang, baik dalam bentuk tunai maupun digital. Namun, bentuk uang yang digunakan saat ini merupakan hasil dari perkembangan panjang selama ribuan tahun.
Dilansir dari Britannica, manusia pernah menggunakan berbagai benda sebagai alat tukar, mulai dari cangkang kerang, kulit hewan, hingga logam. Perkembangan tersebut kemudian membawa masyarakat mengenal uang kertas, kartu kredit, dan mata uang digital.
Sejarah Awal Uang

Gulungan logam perak yang digunakan sebagai mata uang di Mesopotamia. (africame.factsanddetails.com)
Teori yang paling banyak diterima mengenai asal-usul uang adalah fungsinya untuk menggantikan sistem barter. Barter merupakan sistem pertukaran langsung ketika para pelaku transaksi saling menukar barang atau jasa secara langsung tanpa perantara.
Namun, transaksi barter memiliki keterbatasan karena sangat bergantung pada keselarasan kebutuhan. Sebagai contoh, seorang petani yang hanya memiliki piring dan membutuhkan gelas harus mencari orang yang secara spesifik menginginkan piring serta bersedia menukarkannya dengan gelas.
Seiring dengan makin luasnya jaringan perdagangan, manusia membutuhkan alat transaksi lain yang lebih universal. Dari sinilah konsep uang diduga mulai lahir.
Catatan tertua mengenai penggunaan mata uang berasal dari Mesopotamia, wilayah yang sering dijuluki sebagai tempat lahirnya peradaban. Penggunaan ini pertama kali tercatat sejak 2150 SM pada prasasti tanah liat beraksara cuneiform.
Prasasti tersebut mencatat satuan ukuran dan mata uang shekel, namun mereka kala itu tidak menggunakan komoditas khusus sebagai uang. Mereka umumnya menggunakan cincin perak, kumparan, batangan logam, dan biji jelai sebagai standar uang.
Mengutip buku A History of Money karya Glyn Davies, di berbagai wilayah lain, bentuk uang primitif juga muncul. Contohnya cangkang kerang yang masih digunakan hingga saat ini di beberapa kawasan di Nigeria, gigi paus dan batu Yap di Fiji, wampum di peradaban Mesoamerika, hingga hewan ternak.
Bentuk uang logam muncul belakangan sekitar tahun 1000 SM di Tiongkok pada masa Dinasti Zhou. Uang tersebut berbentuk pisau kecil dan sekop yang terbuat dari perunggu.

Koin kerajaan Lydia awal abad ke-6 SM. (Wikimedia Commons)
Namun, mengutip Austrian Archaeological Institute, koin logam paling awal yang dipahami masyarakat modern sebagai cikal bakal logam modern diproduksi sekitar abad ke-7 SM di Kerajaan Lydia pada masa pemerintahan Raja Alyattes (sekitar 610–560 SM) di wilayah yang sekarang menjadi Turki, serta di kota-kota Yunani Kuno di pesisir Ionia.
Koin ini terbuat dari elektrum, yaitu paduan alami emas dan perak. Berbeda dengan uang yang digunakan di Mesopotamia dan Tiongkok kuno, koin Lydia diberi stempel resmi Raja Lydia dan simbol singa yang menjadi lambang kerajaan.
Dengan demikian, nilainya dijamin oleh otoritas resmi sehingga memiliki nilai yang tetap dan bentuk transaksasi dengan medium selain logam ini akan dianggap tidak sah.
Selanjutnya, putra Alyattes, yaitu Croesus, melakukan reformasi mata uang dengan memperkenalkan koin emas dan perak murni. Koin ini kemudian menyebar luas ke berbagai wilayah, seperti negara-kota di Laut Aegea, masyarakat Yunani.
Selain logam, kulit dan bulu hewan juga pernah digunakan sebagai uang. Penggunaannya ditemukan di sejumlah wilayah, termasuk Romawi Kuno, Kartago, Prancis, dan Rusia.
Dilansir dari Britannica, Kaisar Wudi di Tiongkok yang memerintah pada 141–87 SM pernah membuat mata uang dari kulit rusa putih. Kulit tersebut berasal dari koleksi pribadinya dan dihiasi dengan desain yang rumit.
Uang Kertas dan Sistem Perbankan
%2C_1023_-_John_E__Sandrock.jpg)
Ilustrasi uang kertas Dinasti Song. (Wikimedia Commons)
Perkembangan uang kemudian memasuki tahap baru dengan munculnya uang kertas.
Tiongkok menjadi salah satu wilayah yang memperkenalkan penggunaan uang berbahan kertas. Inovasi tersebut secara luas dikaitkan dengan Dinasti Song pada masa pemerintahan Kaisar Zhenzong (997–1022 M).
Uang kertas pada masa tersebut dibuat menggunakan kulit pohon murbei. Penggunaannya kemudian menyebar ke berbagai wilayah.
Pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, uang kertas telah digunakan di banyak tempat. Namun, uang kertas pada masa tersebut belum sepenuhnya sama dengan uang modern.
Sebagian uang kertas berfungsi sebagai surat janji pembayaran yang dapat ditukarkan dengan sejumlah emas atau perak. Sistem tersebut kemudian memiliki kaitan erat dengan perkembangan perbankan.
Perubahan Sistem Mata Uang
Perkembangan mata uang juga menghadirkan persoalan terkait uang fiat. Istilah tersebut merujuk pada mata uang yang nilainya tidak berasal dari nilai intrinsik seperti emas atau perak, melainkan bergantung pada keputusan pemerintah dan kepercayaan masyarakat terhadap mata uang tersebut.Pada tahun 1821, Inggris Raya memperkenalkan standar emas untuk meningkatkan kepercayaan terhadap mata uang.
Dalam sistem standar emas, nilai mata uang dikaitkan dengan sejumlah emas tertentu. Sistem tersebut membantu memberikan kepastian dalam perdagangan internasional karena penerbitan uang memiliki keterkaitan langsung dengan cadangan emas.
Sejumlah negara kemudian ikut menerapkan standar emas, termasuk Jerman, Prancis, dan Amerika Serikat. Namun, standar emas juga memiliki keterbatasan. Sistem tersebut membatasi kemampuan negara dalam menghadapi kondisi ekonomi seperti depresi dan inflasi.
Setelah Depresi Besar yang berlangsung sejak 1929, sejumlah negara mulai mempertimbangkan kembali sistem tersebut hingga pada 1970-an emas tidak lagi dikaitkan dengan mata uang secara luas.
Setelah itu, sejumlah negara mengalami inflasi yang sangat tinggi. Salah satu kasus yang terkenal terjadi di Zimbabwe pada awal 2000-an. Negara tersebut pernah menerbitkan uang kertas dengan denominasi hingga 100 triliun dolar Zimbabwe.
Perkembangan Kartu Kredit
Perubahan cara masyarakat melakukan transaksi berlanjut dengan munculnya kartu kredit. Kartu kredit universal pertama kali diperkenalkan pada tahun 1950 ketika Ralph Schneider dan Frank McNamara mendirikan Diners Club di Amerika Serikat.Pada tahun 1959, American Express memperkenalkan kartu berbahan plastik. Perkembangan teknologi kemudian membuat kartu kredit semakin mudah digunakan.
Pada 1960-an, IBM memperkenalkan pita magnetik yang dapat menyimpan informasi rekening pada kartu. Teknologi tersebut membuat pedagang tidak lagi harus menghubungi perusahaan kartu kredit melalui telepon untuk mendapatkan otorisasi transaksi.
Pada 1990-an, kartu kredit mulai dilengkapi chip yang dapat mengenkripsi informasi. Penggunaan chip memberikan lapisan keamanan tambahan dalam transaksi.
Sistem pembayaran kartu kredit juga mengalami perubahan dalam hal pembayaran saldo. Pengguna awalnya harus melunasi seluruh saldo pada akhir bulan. Kemudian, perusahaan kartu kredit mulai memberikan pilihan bagi konsumen untuk membawa sisa saldo ke bulan berikutnya dengan dikenakan bunga.
Munculnya Mata Uang Digital
Perkembangan teknologi komputer dan internet kemudian membawa uang ke bentuk digital. Salah satu contoh yang paling dikenal adalah Bitcoin.Bitcoin diperkenalkan pertama kali oleh Satoshi Nakamoto melalui dokumen whitepaper pada tahun 2008, lalu diluncurkan secara digital pada tahun 2009. Berbeda dengan mata uang konvensional, Bitcoin tidak diterbitkan oleh bank sentral.
Transaksi Bitcoin dicatat melalui jaringan komputer yang terdesentralisasi. Pengguna dikenal melalui alamat atau identitas dompet digital, bukan melalui sistem identitas perbankan konvensional.
Bitcoin menggunakan proses yang disebut mining atau penambangan untuk memverifikasi transaksi. Komputer dalam jaringan bersaing memecahkan persoalan matematika tertentu untuk memproses dan mengamankan transaksi.
Jumlah Bitcoin yang dapat dibuat juga dibatasi hingga 21 juta unit.
Baca Juga :
Rupiah Dibuka ke Rp17.954/USD
Perkembangan Masyarakat Tanpa Uang Tunai
Perkembangan pembayaran digital kemudian mendorong munculnya konsep cashless society atau masyarakat tanpa uang tunai.Masyarakat tanpa uang tunai merupakan kondisi ketika uang kertas dan koin tidak lagi digunakan dalam transaksi sehari-hari. Pembayaran dilakukan secara digital menggunakan kartu kredit, kartu debit, transfer elektronik, mata uang kripto, serta layanan pembayaran daring dan seluler.
Meskipun belum ada masyarakat yang sepenuhnya bertransaksi tanpa uang tunai, sejumlah negara telah mengalami penurunan penggunaan uang tunai secara signifikan.
Swedia menjadi salah satu negara yang paling mendekati kondisi tersebut. Penggunaan uang tunai di negara itu telah menurun drastis, sementara transaksi digital semakin dominan. Peralihan menuju transaksi tanpa uang tunai menawarkan kemudahan bagi konsumen dan pelaku bisnis. Namun, sistem ini juga memiliki sejumlah persoalan.
Masyarakat yang tidak memiliki rekening bank dapat mengalami kesulitan ketika transaksi tunai tidak lagi diterima. Selain itu, transaksi digital dapat menimbulkan persoalan privasi karena aktivitas pembayaran lebih mudah dilacak.
Tantangan lainnya berupa gangguan jaringan, kegagalan sistem, bencana alam, atau serangan siber yang dapat menghambat akses masyarakat terhadap dana dan layanan pembayaran.
(Siti Nahdia Usman)