Okupansi Perkantoran CBD Jakarta Tembus 72% pada Kuartal III-2026

Ilustrasi kawasan perkantoran Jakarta. Foto: Dok. Pexels

Okupansi Perkantoran CBD Jakarta Tembus 72% pada Kuartal III-2026

Gervin Nathaniel Purba • 5 November 2026 16:18

Jakarta: Tingkat okupansi pasar perkantoran Central Business District (CBD) Jakarta mencapai 72 persen pada kuartal III-2026. Pertumbuhan tersebut tercatat resilien sepanjang sembilan bulan pertama. Bahkan diperkirakan berlanjut hingga akhir 2026.
 
"Permintaan tetap kuat sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini dan diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun,” ujar Head of Research JLL Indonesia Yunus Karim, dalam acara JLL media Briefing 3Q 2026, Kamis, 5 November 2026.

Yunus mengatakan, tidak adanya pasokan baru di CBD menjadi faktor pendukung adanya penyerapan ruang di gedung yang sudah ada. Berdasarkan catatannya, gedung bertaraf premium atau grade A menyerap sebagian besar okupansi.

Selaras dengan itu, Head of Tenant Representation Panji Aziz mencatat permintaan bersih gedung perkantoran Grade A di kawasan CBD mencatat penyerapan yang konsisten pada kuartal ketiga 2026. Tercatat lebih dari 25 ribu meter persegi (m2).
 
"Perusahaan Al, data centre, dan fintech sangat aktif menyewa ruang dan menyumbang pangsa penyerapan terbesar, didukung aktivitas yang stabil di sektor jasa keuangan,” ujar Panji.

   

Harga sewa grade A naik


Pertumbuhan okupansi tersebut turut mendorong pertumbuhan harga sewa perkantoran grade A di CBD. Panji mencatat, harga sewa naik 1,1 persen secara kuartalan pada kuartal III, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya.

Menurut dia, kenaikan tersebut didorong oleh tingkat okupansi gedung yang terus membaik. Terutama di kawasan Sudirman, serta permintaan ruang perkantoran yang masih cukup kuat.

Permintaan terhadap ruang kantor yang sudah dilengkapi furnitur (fitted-out/furnished space), yang mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terus menguat sepanjang kuartal III.

Panji menilai tren tersebut sejalan dengan langkah pemilik properti yang menyediakan ruang kantor berfurnitur maupun kontribusi biaya fit-out dalam bentuk lain. Fasilitas ini dinilai dapat menarik minat calon penyewa sekaligus membantu mereka menekan belanja modal (capital expenditure/capex) untuk kebutuhan ruang kantor.


Sementara itu, gedung grade B kembali mencatatkan penyerapan positif setelah mengalami kontraksi pada periode sebelumnya. Sedangkan gedung grade C justru mengalami kontraksi. Kondisi ini menunjukkan tren flight-to-quality atau perpindahan penyewa ke gedung dengan kualitas lebih tinggi masih berlangsung di pasar perkantoran Jakarta.



(JLL media Briefing 3Q 2026. Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan)
 

Pasar non-CBD ikut tumbuh


Di luar CBD, pasar perkantoran juga mencatat penyerapan yang solid, terutama didorong oleh permintaan dari perusahaan teknologi. Yunus mengatakan, permintaan ruang kantor di luar kawasan pusat bisnis tersebut terkonsentrasi di wilayah yang sebelumnya menerima tambahan pasokan baru.

"Di luar CBD, penyerapan tercatat solid, terutama didorong oleh perusahaan teknologi. Permintaan terkonsentrasi di area yang sebelumnya menerima pasokan baru, terutama Jakarta Utara, yang tetap menjadi lokasi paling aktif pada kuartal ini," kata Yunus.


Berdasarkan data JLL, penyerapan bersih ruang perkantoran di luar kawasan CBD mencapai sekitar 19.300 meter persegi pada kuartal III-2026. Selain perusahaan teknologi, sektor pendidikan juga turut memberikan kontribusi terhadap penyerapan ruang perkantoran.

Dari sisi pasokan, tidak terdapat penyelesaian pembangunan gedung perkantoran baru di kawasan non-CBD sepanjang kuartal III-2026. Dengan demikian, total stok perkantoran di kawasan tersebut tercatat sekitar 3,5 juta meter persegi.

Sementara itu, tingkat okupansi perkantoran non-CBD mencapai sekitar 69 persen. Kinerja harga sewa juga menunjukkan perbaikan terbatas dengan pertumbuhan sekitar 0,3 persen secara kuartalan. JLL mencatat tren stabilisasi harga sewa masih berlanjut, meskipun pertumbuhannya relatif lebih moderat dibandingkan pasar perkantoran CBD.

Ke depan, terdapat satu gedung perkantoran yang masih dalam tahap pembangunan dan dijadwalkan selesai pada kuartal IV-2026. Proyek tersebut akan menambah pasokan ruang perkantoran di luar kawasan CBD.

Investor incar aset properti berkualitas


Dari sisi investasi, sektor perkantoran masih menjadi salah satu jenis aset properti yang diminati investor. Senior Director, Capital Markets JLL Indonesia Herully Suherman mengatakan, Jakarta tetap menjadi salah satu lokasi favorit investor untuk menanamkan modal di sektor properti, di tengah dinamika ekonomi global maupun domestik.

Menurut dia, minat investor terhadap sektor properti masih terkonsentrasi pada sejumlah aset, termasuk perkantoran, hotel, serviced apartment, ritel, dan lahan residensial.

Investor juga cenderung memilih aset yang telah menghasilkan pendapatan (income producing assets) dengan ekspektasi tingkat imbal hasil atau capitalization rate yang umumnya berada di kisaran dua digit.

"Dengan kondisi tersebut, sebagian besar investor cenderung memilih aset yang sudah menghasilkan pendapatan (income producing assets), dengan ekspektasi imbal hasil (capitalization rate) yang umumnya berada di kisaran dua digit," ujar Herully.

Herully memperkirakan minat investor terhadap properti di Indonesia tetap terjaga ke depan. Terutama terhadap aset berkualitas yang mampu menghasilkan pendapatan secara stabil. (Selsha Septifanie Gunawan)
 
 

(Gervin Nathaniel Purba)