Harga Emas Dunia di USD4.140, Ini Faktor Penggeraknya

Ilustrasi. Foto: dok ICDX.

Harga Emas Dunia di USD4.140, Ini Faktor Penggeraknya

Ade Hapsari Lestarini • 6 October 2026 08:39

New York: Harga emas dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Selasa waktu setempat setelah pulih dari penurunan mingguan terbesar sejak Juni. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya imbal hasil (yield) Treasury mengimbangi dukungan bagi emas akibat berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve.

Melansir Investing, Selasa, 6 Oktober 2026, pada pukul 20.44 ET atau 00.44 GMT, harga emas spot XAU/USD turun 0,1 persen menjadi USD4.138,09 per ons. Sementara itu, emas berjangka naik 0,2 persen menjadi USD4.165,15 per ons.

Harga perak spot XAG/USD turun 0,1 persen menjadi USD60,998. Platinum XPT/USD juga turun 0,2 persen menjadi USD1.721,37. Sementara itu, indeks dolar AS relatif stabil di level 102,17.
 

Dolar AS dan yield Treasury tekan harga emas


Pemulihan harga emas terjadi ketika investor mencermati meningkatnya tekanan fiskal di berbagai negara serta dampaknya terhadap kebijakan moneter.

Di Eropa, ketidakpastian politik dan kekhawatiran fiskal di Prancis mendorong permintaan terhadap dolar AS. Kebuntuan kebijakan memicu aksi jual pada obligasi pemerintah Eropa dan menyeret euro ke level terendah dalam 17 bulan. Kondisi tersebut turut mengangkat posisi dolar AS mendekati level terkuatnya tahun ini.

Dolar AS yang lebih kuat biasanya menekan harga emas karena membuat logam mulia tersebut lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Kekhawatiran terhadap utang Prancis juga berkontribusi terhadap kenaikan imbal hasil obligasi global. Gubernur Bank of France Emmanuel Moulin memperingatkan Prancis dapat semakin terbebani biaya bunga yang tinggi jika gagal memperbaiki kondisi keuangan publik, di tengah kenaikan imbal hasil obligasi Prancis.


Ilustrasi mata uang dolar AS. Foto: dok MI.
 

Obligasi Treasury AS juga kembali mendapat tekanan pada Senin. Imbal hasil obligasi tenor panjang mencapai level tertinggi baru dalam beberapa dekade seiring berlanjutnya tren pelemahan pasar obligasi yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Kenaikan yield meningkatkan biaya peluang dalam memegang emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan pendapatan bunga.

Laporan Institute for Supply Management (ISM) AS menunjukkan tekanan biaya di sektor jasa meningkat pada bulan lalu dengan laju tercepat dalam lebih dari empat tahun. Kondisi tersebut membuat kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut oleh The Fed tetap terbuka meskipun pasar tenaga kerja melemah.

Instrumen interest rate swap menunjukkan probabilitas hampir 23 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Sementara itu, pasar masih memperhitungkan kenaikan sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember.
 

Ekspektasi kenaikan suku bunga mereda


Data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah menurunkan spekulasi mengenai kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Harga emas sebelumnya turun lebih dari enam persen sepanjang September akibat kekhawatiran inflasi yang dipicu kenaikan harga energi, ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi, serta penguatan dolar.

Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat mereda setelah laporan non-farm payrolls AS pekan lalu berada di bawah perkiraan. Sejumlah pejabat The Fed juga berupaya meredam ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Perubahan sentimen tersebut memberikan sedikit dukungan bagi harga emas, meskipun kenaikan yield obligasi masih menjadi faktor penghambat.

Risalah pertemuan The Fed September, ketika para pembuat kebijakan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dijadwalkan dirilis pada pertengahan pekan ini. Risalah tersebut dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai prospek kebijakan moneter.

Analis ANZ menyatakan harga emas telah pulih dari penurunan tajam pekan lalu seiring investor kembali menilai dampak meningkatnya tekanan fiskal global.

ANZ juga menyoroti penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah. Saat ini, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober hanya sekitar 20 persen, turun drastis dari sekitar 70 persen pada pekan sebelumnya.

(Ade Hapsari Lestarini)